Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah, Lokasi Pabrik Baterai Raksasa Dunia

Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah, Lokasi Pabrik Baterai Raksasa Dunia

PRABANGKARANEWS.COM || Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir beberapa waktu lalu mencoba mengendarai mobil listrik untuk mengecek kesiapan stasiun pengisian kendaraan listrik (charging station) di Bali. Kedatangan Erick di Bali tentu dengan wajah semringah. Apa pasal? Benar, sumringahnya petinggi BUMN itu lantaran mobil listrik yang diuji coba oleh tim PLN dari Jakarta ke Bali mencatat sejumlah kesuksesan.

Salah satu buktinya, mobil listrik itu terbukti irit. Apabila dengan BBM ongkos perjalanan itu mencapai Rp1,1 juta, maka dengan mobil listrik hanya perlu 200 ribu rupiah. Erick mengatakan, semua pihak harus menjaga ketahanan energi nasional. Saat ini pemerintah sudah mengimpor 1,5 barrel per hari untuk BBM atau setara Rp. 200 triliun per tahun, sehingga ke depan mobil listrik menjadi solusi mengurangi perpindahan devisa ke luar negeri

Selain itu, mobil listrik juga memiliki banyak manfaat. Tak hanya bagi perekonomian, melainkan juga ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan misi pemerintah dalam mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Mobil listrik lebih ramah lingkungan karena emisi yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan yang menggunakan bahan bakar minyak. Alhasil, polusi udara dan polusi suara bisa ditekan. Bahkan, PLN juga memberikan diskon 30 persen untuk isi daya di malam hari.

Saat ini, negara-negara di dunia telah mencanangkan pengurangan konsumsi bahan bakar dan pengurangan emisi karbondioksida (CO2) dan pencanangan penerapan kendaraan listrik sebanyak 15 persen–100 persen dari total kendaraan yang beredar. Diperkirakan pada 2040 terdapat sebanyak 49 juta unit kendaraan listrik (electric vehicle) atau sekitar 50 persen dari total permintaan otomotif dunia. Selain itu, beberapa pabrikan juga mulai mengalihkan lini produksi kendaraan konvensionalnya menjadi kendaraan listrik, yaitu antara 20 persen–50 persen dari total produksinya.

Tidak berhenti di situ, Erick Tohir juga telah menyiapkan langkah lanjutan untuk memanfaatkan peluang industri masa depan itu. Menteri BUMN menyiapkan sebuah Konsorsium MIND ID yang terdiri dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT PERTAMINA (Persero).

Mendirikan Pabrik

Konsorsium MIND ID diminta berkolaborasi dengan perusahaan electric vehicle (EV) battery atau baterai kendaraan listrik asal Korea Selatan LG Eenergy Solution Ltd (LG) untuk mendirikan pabrik baterai di Batang, Jawa Tengah. Erick memastikan, investasi itu berjalan dari sisi produksi dan juga memiliki pasar di dalam dan luar negeri. Investasi LG akan bermitra dengan Konsorsium Baterai BUMN di seluruh rantai pasok produksi.

Konsorsium itu juga diminta melakukan studi bersama (joint study) untuk mengukur secara detail kerja sama yang akan dilakukan kedua pihak dari sektor hulu sampai hilir. Sebagai proyek, produksi itu akan dipusatkan di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah, yang lokasinya sudah ditinjau Presiden Jokowi pada akhir Juni 2020. Kawasan industri seluas 4.300 hektare itu merupakan percontohan kerja sama pemerintah dan BUMN dalam menyediakan lahan yang kompetitif dari sisi harga, konektivitas, dan tenaga kerja.

Rencananya sebagian baterai yang dihasilkan di sana akan dipasok ke pabrik mobil listrik pertama di Indonesia yang sudah lebih dahulu ada dan dalam waktu dekat akan segera memulai tahap produksi. Pengembangan industri baterai listrik terintegrasi merupakan langkah konkret yang sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo untuk mendorong transformasi ekonomi menuju Indonesia maju di 2045. Di mana, hilirisasi pertambangan merupakan salah satu wujud transformasi tersebut. Investasi raksasa LG Consortium ini akan menjadi investasi terbesar sejak dua dekade terakhir. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, yakni USD9,8 miliar, atau sekitar Rp142 triliun.

Realisasi proyek itu akan membuat Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang punya industri baterai listrik dari hulu (pertambangan) hingga hilir (baterai lithium dan mobil listrik). Indonesia juga segera memiliki pusat industri sel baterai kendaraan listrik terintegrasi pertama di dunia.

LG Energy Solution Ltd merupakan anak perusahaan dari konglomerasi LG Group. Proyek kerja sama investasi ini merupakan hasil tindak lanjut pertemuan Presiden Jokowi dan Presiden Moon Jae In di Busan pada November 2019. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, investasi ini merupakan yang terbesar yang pernah masuk Indonesia setidaknya setelah dua dekade lebih. “Investasi LG ini terbesar setelah era reformasi,” kata Bahlil.

Nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) sudah ditandatangani BKPM dengan LG Energy Solution Ltd di Seoul, Korea Selatan, pada 18 Desember 2020. MoU itu berisi tentang kerja sama proyek investasi raksasa dan strategis di bidang industri sel baterai kendaraan listrik terintegrasi dengan pertambangan, peleburan (smelter), pemurnian (refining), serta industri prekursor dan katoda, dengan nilai rencana investasi yang mencapai USD9,8 miliar. MoU itu sekaligus menjadi sinyal keseriusan yang sangat tinggi dari pihak LG dan Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan industri baterai terintegrasi. Pada masa pandemi yang begitu penuh tantangan, keberhasilan ini merupakan kepercayaan luar biasa terhadap Indonesia.

“Indonesia akan naik kelas dari produsen dan eksportir bahan mentah menjadi pemain penting pada rantai pasok dunia untuk industri baterai kendaraan listrik. Di mana, baterai memegang peranan kunci, bisa mencapai 40% dari total biaya untuk membuat sebuah kendaraan listrik,” ujar Bahlil.

Dalam realisasi investasi proyek, perusahaan patungan ini akan memprioritaskan kerja sama dengan pengusaha nasional, pengusaha nasional yang ada di daerah serta usaha kecil dan mikro (UKM) lokal yang memiliki kapabilitas dan kapasitas dalam setiap rantai pasok. Dengan demikian diharapkan, dapat menggerakkan perekonomian nasional yang akan berdampak positif bagi daerah. “Jadi, investasi ini akan menjadi model kolaborasi komplet yang melibatkan perusahaan asing dengan reputasi global, BUMN yang mumpuni, dan pelaku ekonomi swasta nasional/daerah yang kuat,” kata Bahlil.

Menyerap TKI

Hal lain yang juga menjadi bagian dari nota kesepahaman adalah memprioritaskan produk lokal untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas industri nasional. Pemerintah Indonesia juga memastikan bahwa proyek investasi raksasa ini akan menyerap sebesar-besarnya tenaga kerja Indonesia. Tahap awal pembangunan proyek ini akan mulai pada Semester I-2021. “Kemungkinan besar akan dilakukan ground breaking (peletakan batu pertama) pada Semester I-2021. Jadi, 2021 Semester I, Insyaallah tahap I akan mulai dilakukan pembangunan pabrik,” ujar Bahlil dalam konferensi pers virtual, Rabu (30/12/2020).

Bahlil mengatakan, pembangunan pabrik baterai listrik akan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pembangunan pabrik baterai akan dilakukan di dua kawasan yang berbeda, yakni Maluku Utara untuk sektor hulu dan sektor hilir akan dibangun di Batang, Jawa Tengah. “Lokasi pabrik tersebut dibagi jadi dua, untuk hulu membangun smelter dan tambang di Maluku Utara. Kemudian katoda, prekursor, dan sebagian baterai cell berdasarkan hasil survei, itu akan dilakukan di Batang (Jawa Tengah),” jelasnya.

Rencananya pada Januari 2021, akan ada penandatanganan heads of agreement (HoA) dengan BUMN. Sehingga, pada Februari sudah bisa dimulai untuk melakukan rencana aksi bisnis. “MoU ini sebenarnya sudah dibahas bersama-sama dengan BUMN. Jadi poin-poinnya sudah dibahas. Setelah ini, Januari sudah penandatanganan kontrak HOA dengan BUMN dan direncanakan Februari sudah action tahap pertama,” jelas Bahlil.

Penulis: Eri Sutrisno

Sumber: Indonesia.go,id

Please follow and like us:

redaksiprabangkara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *