Dampak Covid-19 Terhadap Sektor Wisata di Pantai Klayar, Pacitan, Jawa Timur

Dampak Covid-19 Terhadap Sektor Wisata di Pantai Klayar, Pacitan, Jawa Timur

Oleh: Cici Noviana (*)

Pacitan Kota 1001 Goa ini memiliki destinasi pariwisata yang banyak sekali. Salah satunya adalah Pantai Klayar. Sumber informasi kepariwisataan yang diperoleh, secara historis, menyebutkan bahwa istilah sebutan klayar berasal dari asal kata percakapan lokal yaitu klayarkluyur yang berarti berjalan-jalan. Dibalik keindahan pantainya dengan pasir putih dan bersih yang selalu memanjakan mata terdapat batu Spinx dengan Seruling Samudra di baliknya.

Seruling Saamudra adalah sebuah lempengan batu karang yang dapat menghasilkan suara seperti seruling apabila terdapat ombak yang sedang pasang dan menyemburkan air lewat celah tersebut. Fenomena itulah yang menarik kunjungan wisatawan. Dari ramainya wisatawan yang berkunjung ke Pantai Klayar, memunculkan peluang usaha untuk Masyarakat Pantai Klayar.

Beberapa dari mereka menjual baju dan oleh-oleh khas Pacitan, banyak juga yang membuka warung makan. Tukang ojek juga ada untuk wisatawan yang tidak ingin capek berjalan dari parkiran hingga bibir pantai. Ada ATV juga, kendaraan roda 4 yang bisa berjalan di pasir ini menjadi favorit wisatawan untuk mengelilingi pantai. Berikut adalah  pendapatan masyarakat pantai klayar selama weekend dalam satu bulan sebelum pandemic. Tukang Ojek 2.000.000,-; ATV sekitar 2.300.000; pedagang Souvenir 5.000.000; warung makan 1.300.000; dan pengusaha homestay 7.000.000.

Namun adanya Covid-19 ini merubah tatanan dan perilaku hidup manusia. Memberikan dampak yang sangat merugikan untuk semua orang. Dengan ditutupnya tempat pariwisata membuat masyarakat Pantai Klayar menjadi risau dan khawatir karena perekonomiannya bergantung pada bisnis Pariwisata.

Adapun beberapa dampak dari Covid-19 ini bagi perekonomian masyarakat Pantai Klayar: 1) kehilangan pekerjaan atau menganggur; 2)  tidak ada pemasukan; 3) kebutuhan pokok tidak terpenuhi; 4) penjual oleh-oleh makanan rugi dikarenakan makanan basi atau kadaluarsa

Dari pemaparan di atas, masyarakat Pantai Klayar sangat dirugikan dengan hadirnya Covid-19 ini. sebagian besar dari mereka rela berpindah haluan sebagai petani untuk mencukupi kebutuhan pangan.

Meski omset mereka jauh dengan penjualan sebelum ada pandemi, setidaknya mereka bisa makan. Dengan tindakan ditutupnya tempat wisata ini, Pemerintah juga memberikan tindakan seperti membagikan sembako kepada Masyarakat Pantai Klayar yang mata pencahariannya di kawasan Pantai Klayar. Adanya wabah Covid-19 menjadikan masyarakat harus mengutamakan hidup sehat. Membiasakan mencuci tangan dan memakai masker saat keluar rumah.

Semenjak ditutupnya wisata Pantai Klayar karena pandemi, membuat masyarakat kehilangan pekerjaan mereka. Pengunjung hanya masyarakat sekitar yang hanya sesekali mengunjungi pantai untuk mencari udara segar. Masyarakat harus mencari ide atau pindah haluan untuk memenuhi perekonomian. Pandangan masyarakat saat ditutupnya wisata sangatlah khawatir untuk kedepannya.

Wabah Covid-19 ini menjadi masalah yang serius bagi mereka yang perekonomiannya bergantung pada bisnis Pariwisata. Bagi banyak individu, karir dan pekerjaan merupakan media aktualisasi diri yang memberikan seseorang arti dan tujuan hidup, rasa keberhasilan dan mampu mengerjakan sesuatu. Sehingga saat media untuk melakukan aktualisasi diri itu hilang, maka seseorang akan merasakan keberfungsian dirinya terganggu. Tentu ini dapat mengganggu kualitas hidupnya secara umum.

Saat kehilangan pekerjaan mereka akan merasa malu terhadap statusnya, menarik diri dari kehidupan sosial, tertekan, dan ingin menyendiri. Ini adalah hal yang sangat bisa dialami oleh seseorang yang baru kehilangan pekerjaan. Kehilangan pekerjaan dapat memicu terjadinya penyakit mental pada seseorang.

Karena kehilangan pekerjaan akibat ditutupnya Pantai Klayar sehingga tidak ada pengunjung, banyak masyarakat yang tidak mendapatkan penghasilan. Hal ini memicu terjadinya kekurangan pangan dan rentan terjadi kemiskinan. Banyak masyarakat yang resah dan khawatir karena tidak dapat membayar hutang. Hal ini dapat diselamatkan melalui bantuan-bantuan yang diberikan pemerintah untuk masyarakat yang tidak memiliki penghasilan akibat dampak Covid-19. Masyarakat dapat mengakses dan mendaftar melalui web yang sudah disediakan pemerintah. Namun, penerimanya bersifat random yang membuat tidak semua masyarakat terekrut dalam menerima bantuan berupa uang.

Lockdown membuat penutupan tempat wisata dan seluruh tempat-tempat yang menimbulkan berkerumunnya seseorang. Semua masyarakat dihimbau untuk tidak keluar rumah apalagi berkerumun. Namun, hal ini memicu terjadinya kebutuhan pokok tidak terpenuhi. Sedangkan, seseorang membutuhkan pangan untuk berlangsungnya hidup. Penanganan dari kasus ini, pemerintah turun tangan untuk memberikan sembako kepada masyarakat. Karena hanya dengan bantuan pemerintah saja tidak mencukupi kebutuhan mereka, banyak warga yang beralih menjadi buruh tani.

Meskipun pendapatannya tidak seberapa dan jauh dari omset mereka, setidaknya dapat mendapatkan uang keperluan hidupnya. Pemerintah juga membagikan masker dan sabun cuci tangan guna menjaga kebersihan dan supaya masyarakat tetap terjaga kesehatannya.

Dampak lain yaitu merugikan pedagang yang menjual oleh-oleh makanan. Banyak makanan yang kadaluwarsa akibat tidak laku dan ditutupnya wisata. Semenjak digemparkan oleh Wabah Covid-19, jumlah pengunjung berkurang drastis. Oleh sebab itu, banyak makanan yang tidak laku dan sudah mendekati masa kadaluwarsa. Frozenfood adalah makanan paling banyak kadaluwarsa. Karena suhu pada makanan yang tidak stabil, di paparkan sinar matahari dan selalu keluar masuk frezeer. Makanan ini banyak yang berjamur dan berbau tidak sedap akibat hanya di timbun didalam toko. Kerugian ditaksir mencapai jutaan rupiah.

(*) Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan

Please follow and like us:

redaksiprabangkara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *