Keunggulan Teknologi Tanam Padi Jajar Sepor Tanpa Olah Tanah

Keunggulan Teknologi Tanam Padi Jajar Sepor Tanpa Olah Tanah

PRABANGKARANEWS.COM || Banyak teknologi pertanian terpadu berbasis kearifan lokal yang sudah diterapkan dan diaplikasikan di masing- masing laboratorium  salah satunya adalah “Teknologi Pertanian Terpadu Tanam Padi Jajar Sepor Tanpa Olah  Tanah” yang dilakukan di Laboratorium KPAK PETANI Unit Tulungagung.

Sejarah Teknologi Pertanian Terpadu Tanam padi Jajar Sepor Tanpa Olah Tanah,  pertama kali dipelopori oleh Drajat Nugroho yang merupakan Kepala Lab. KPAK Petani Unit Tulungagung pada tahun 2004 di lahan irigrasi dengan luas sekitar 400 – 500 meter persegi yang terletak di tepi sungai Brantas, Kabupaten Tulungagung.

“Awalnya, pada tahun 2004 saya mulai menanam padi dengan resiko tinggi di tepi sungai yang rawan banjir dan semai benihnya pun di rumah mengunakan nampan. Setiap pindah tanam, 50% bisa dipastikan hanyut. Apa lagi dengan tabela setelah olah lahan.

Pada  tahun 2009 ketika mau tanam lagi, ada padi tercecer di waktu panen lalu sudah tumbuh normal walau di selimuti oleh rumput yang memang rata – rata subur di tanah pasir halus di tepi, dan memang saya biarkan tumbuh sampai panen. Hasilnya pun saya amati lebih bagus sangat teramat sehat dan anakan bisa maksimal.

Dari pengamatan itu, saya coba dengan sistim tanam benih langsung (red: tabela) yang sebelumnya rumput saya spemprot dengan herbisida alami dari ramuan umbi rumput teki, ragi tape, urea, dan air kelapa. Setelah selang 3 hari rumput mulai menguning, tapi masih kokoh. Dan saya mulai menebar benih dengan jarak 45 cm barisan rapat tanpa jeda.

Hasilnya tumbuh sempurna tiap barisan rapat dengan jarak barisan 45 cm kelihatan sempurna daripada tanaman sebelumnya. Sampai menjelang umur 40 hari, jarak barisan sudah rapat dan padi sudah bunting tua. Kebetulan yang saya tanam selalu galur genjah 70 hss, pada umur 45 hari padi sudah keluar malay sempurna dengan panjang malay yang lebih bagus dari pada tanaman sebelumnya. Dengan kerapatannya, sudah kesulitan untuk jalan nyeprey pupuk cair yang sejak awal budidaya saya selalu menggunakan cairan dari hasil busuknya sayur dan buah- buahan di rumah.

Baru tahu setelah saya sering berhubungan dengan teman- teman Petani lain kalau pupuk cair yang saya gunakan seperti itu disebut kompost tea.” kata Drajat Nugroho Petani yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal ini dipercaya oleh Ketua Umum Petani untuk menjabat sebagai Kepala Lab. KPAK Petani Unit Tulungagung kepada tim petani.id di Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung,  Provinsi Jawa Timur (Rabu, 31/03/2021), dikutip dari laman Petani.id.

Kepala Lab. KPAK Unit Tulungagung Drajat Nugroho juga menambahkan, bahwa analisis teknis dari budidaya untuk merawat dan menjaga dari Organisme Penganggu Tumbuhan (OPT) yang lebih ringan dan masalah struktur tanah mempunyai ciri sebagai berikut, seperti:

  1. Unsur hara tanah yang tepat dilapisan atas sudah siap diterima oleh akar
  2. Penambahan bahan organik secara terus menerus di lapisan atas tanah akan mempertebal hara tanah yang diperlukan oleh tanaman
  3. Rumput yang subur sebagai kontrol kalau lahan siap untuk budidaya;

Drajat juga menjelaskan beberapa keuntungan dari sistem Jajar Sepor Tanpa Olah Tanah, seperti:

  1. Lebih ringan dari segi biaya dan tenaga
  2. Lebih mudah mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman, bahkan dari hasil uji di lahan sawah yang diterapkan kendala masalah keong mas sudah bisa teratasi.
  3. Dengan tanam benih langsung (red: tabela), tanaman padi tidak mengalami stress, dan keong mas tidak mau makan tanaman padi jika padi tidak mengalami stres. Hasil dari hasil uji di lahan sawah yang selalu terserang hama keong mas tidak pernah ada serangan saat padi masih dalam persemaian, kalaupun debit air dan keberadaan keong mas sama di saat pindah tanam.

Keunggulan Jajar Sepor Tanpa Olah Tanah 1) keong mas akan makan tanaman padi saat tanaman padi dalam kondisi stress, walau pindah tanam bibit sudah berumur 1 bulan, keong mas masih memangsa tanaman padi, 2) pengendalian burung pemakan padi saat persemaian teratasi karena benih terlindungi dengan rumput yang ada, 3) perlindungan dari kondisi air yang tidak menentu saat persemaian bisa teratasi.

Karena pengalaman rata- rata kegagalan persemaian padi saat semai, debit air meningkat drastis di lahan dan saluran drainase tidak mampu mengatasi. Dengan  Teknologi Pertanian Terpadu Jajar Sepor ini sebagai berikut: 1) siseim ini bisa menekan biaya produksi bagi Petani, 2) resiko untuk Petani sudah ditekan seminimal mungkin, 3) hasil tabela produktifitas tanaman lebih tinggi.

“Pada mulanya Drajat  selalu mendapat hujatan dari tetangga lahan.  Kemudian saya berusaha tanam lagi dengan pola jajar tetap, tapi dengan olah lahan dan jarak saya buat lebih longgar agar setiap aplikasi pupuk saya tidak kesulitan. Karena saya punya pendapat untuk penambahan pupuk dan sisa akar biar bisa terurai. Tapi ternyata hasilnya kembali mengecewakan saya sendiri.

Saya sudah capek mencangkul, menggaris tanah untuk alur semai, tapi resiko saya kembali tinggi karena keasaman lahan menjadi tinggi. Sedang tanah yang normal di bagian atas yang mempunyai keasaman sempurna dan stabil malah saya balik waktu olah lahan. Belum resiko benih yang hanyut walau setelah ditabur di tutup tanah.

Akhirnya saya ulangi budidaya tanpa olah lahan, dengan memanfaatkan rumput yang ada untuk melindungi benih sebelum hidup. Sudah kebiasaan kalau di malam hari air sungai pasti naik debitnya, dengan jarak 60 cm antar barisan akhirnya bisa tenang untuk aplikasi pupuk, pengendalian hama sampai akhir fase budidaya akhirnya mendapat kepuasan,” tutup Kepala Lab. KPAK Petani Unit Tulungagung Drajat Nugroho yang bercocok tanam secara mandiri.  Demi kesehatan keluarganya dan dalam setiap budidaya tidak pernah menggunakan pupuk dan obat- obatankimia namun menggunakan pupuk organik.

Please follow and like us:

redaksiprabangkara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *