Eksotisme Jangkrik Genggong: Keajaiban dan Keunikan Upacara Adat di Ngadirojo, Pacitan
PRABANGKARANEWS.COM ||PACITAN – Jangkrik Genggong adalah upacara adat yang diadakan di dusun Tawang, desa Sidomulyo, kecamatan Ngadirojo, kabupaten Pacitan. Upacara ini dilaksanakan setahun sekali, tepatnya pada hari Selasa Kliwon bulan Selo. Nama Jangkrik Genggong diambil dari sebuah gendhing Tayub Klangenan yang disukai oleh sosok Wonocaki, yang dipercaya sebagai makhluk halus penunggu tempat yang dikeramatkan oleh warga setempat.
Upacara Jangkrik Genggong disertai dengan penyajian sesaji berupa krawon kemadhuk, bothok iwak pajung (kakap merah), dan tlethong jaran putih (kotoran kuda putih). Sesaji ini kemudian dibawa untuk prosesi doa oleh sesepuh adat setempat. Konon, sebelum acara Jangkrik Genggong dilaksanakan, ikan kakap merah akan melimpah di laut setempat. Setelah acara selesai, nelayan biasanya akan mengalami peningkatan hasil tangkapan ikan. Beberapa masyarakat juga percaya bahwa seorang anak laki-laki harus mengikuti acara Jangkrik Genggong sebelum mereka siap melaut untuk pertama kalinya.
Sekdes Sidumolyo Lehong Ruslian kepada Jurnalis, untuk upacara tanhun 2023 akan direncanakan Selasa, 13 Juni 2023, di Dusun Tawang, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Minggu (4/6/2023).
Cerita rakyat Jangkrik Genggong berhubungan dengan pepunden di daerah Tawang, Sidomulyo. Setiap pepunden memiliki sosok penguasa yang disebut seng mbahurekso, seperti Rogo Bahu, Gadhung Mlathi, Mangku Negara, dan Wonocaki. Setiap sosok penguasa memiliki gendhing klangenan yang sesuai dengan karakter mereka. Para sosok penguasa ini merasa senang jika masyarakat setempat menjalankan agenda bersih desa dan tayuban setiap tahun.
Upacara Jangkrik Genggong dimulai sehari sebelum puncak acara, yaitu pada hari Senin Wage. Pada hari tersebut, seluruh warga membersihkan pepunden dan mengadakan acara tirakatan bersama. Pada pagi hari Selasa Kliwon, setiap warga membawa encek yang berisi tumpeng. Sesaji dan tumpeng tersebut dikumpulkan dan didoakan oleh sesepuh adat sebelum dibawa ke masing-masing pepunden. Setelah itu, masyarakat mengadakan makan bersama.
Acara ditutup dengan pertunjukan tayub. Sebelumnya, ada tayub sakral yang diperankan oleh lima orang lelaki yang mewakili sosok penguasa pepunden. Mereka menari tayub dengan gendhing klangenan masing-masing. Terdapat beberapa gendhing yang dimainkan, seperti cakra negara, samirah, godril, ijo-ijo, dan gendhing jangkrik genggong. (*)
