PLTU Batubara Ancaman Pencemaran Udara dengan Polutan Halus dan Berbahaya

PLTU Batubara Ancaman Pencemaran Udara dengan Polutan Halus dan Berbahaya
SHARE

PRABANGKARANEWS ||  Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara tersebar dan beroperasi di Indonesia, melepaskan jutaan ton polusi setiap tahunnya. Dari waktu ke waktu PLTU-PLTU tersebut mengotori udara kita dengan polutan beracun, termasuk merkuri, timbal, arsenik, kadmiun dan partikel halus namun beracun, yang telah menyusup ke dalam paru-paru masyarakat.

Polusi udara ini telah menyebabkan kematian dini sekitar 6.500 jiwa per tahun di Indonesia, menurut penelitian dari Universitas Harvard.

Pembakaran batubara menjadi salah satu penyumbang utama polusi udara, yang berdampak pada kesehatan manusia dengan meningkatkan risiko kanker paru-paru, stroke, penyakit jantung, dan penyakit pernapasan.

Meskipun demikian, pemerintah Indonesia masih berencana untuk menambah puluhan PLTU batubara baru. Jika rencana ini terwujud, diperkirakan jumlah kematian dini akibat polusi udara dari PLTU batubara dapat meningkat hingga sekitar 15.700 jiwa per tahun di Indonesia, dan 21.200 jiwa per tahun secara global. PLTU batubara dianggap sebagai mesin penebar maut yang mengancam kesehatan manusia, merusak lingkungan, dan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.

Baca Juga  8000 Personel Dikerahkan Amankan Tahun Baru 2022 di Ibukota

Lebih lanjut, partikel-partikel polutan tersebut telah mengakibatkan berbagai penyakit serius seperti stroke, penyakit jantung iskemik, kanker paru-paru, penyakit paru obstruktif kronik, dan penyakit pernapasan lainnya.

Oleh karena itu, penutupan PLTU batubara yang sudah ada dan penolakan terhadap pembangunan PLTU batubara baru menjadi suatu langkah yang penting untuk menjaga kesehatan masyarakat dan lingkungan. Hal ini merupakan kewajiban pemerintah Indonesia untuk memenuhi hak mendasar masyarakat akan udara bersih dan sehat.

Partikel-partikel polutan yang sangat berbahaya tersebut, saat ini mengakibatkan kematian dini sekitar 6.500 jiwa per tahun di Indonesia. Estimasi yang dilakukan
Universitas Harvard dalam laporan Greenpeace Indonesia 2015, menunjukan Penyebab utama dari kematian dini termasuk stroke (2.700), penyakit jantung iskemik (2.300),  kanker paru-paru (300), penyakit paru obstruktif kronik (400), serta penyakit pernafasan dan kardiovaskular lainnya (800).

Baca Juga  Catat, Inilah Penerbangan Superjet Air Pertama ke Solo

Sumber:

  1. Indonesia: International Energy Data and Analysis, US EIA, diakses dari http://www.eia.gov/beta/international/country.cfm?iso=IDN.
  2.  Rasio Elektrifikasi, Direktorat Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, diakses dari http://kip.esdm. go.id/pusdatin/index.php/data-informasi/data-energi/ketenagalistrikan/rasio-elektrifikasi.
  3. www.tradingeconomics.com | Bank Indonesia; Greenpeace Indonesia. 2014. How Coal Hurts Indonesia Economy.
  4. Greenpeace Indonesia. 2014. Terungkap : Batubara meracuni air Kalimantan selatan. IEA. 2014. CO2 Emissions From Fuel Combustion Highlights 2014. http://www.iea.org/publications/freepublications/publication/co2-emissions-from-fuel-combustion-highlights-2014.html.
  5. Rückerl R et al (2011). Health effects of particulate air pollution: A review of epidemiological evidence.
    Inhalation Toxicology 23(10): 555–592;
  6. Pope III CA & Dockery DW (2006). Health Effects of Fine Particulate Air Pollution: Lines that Connect.
    J Air & Waste Manage. Assoc. 56:709 –742;  US EPA: Six Common Air Pollutants. www.epa.gov/airquality/urbanair; US EPA: Integrated Risk
    Information System (IRIS). www.epa.gov/IRIS
  7. Greenpeace Indonesia. 2015. Ancaman Maut PLTU Batubara.
Baca Juga  Update Covid-19 di Indonesia per 6 Mei 2020