Wahyu Keprabon dan Konflik Keraton Solo: Perebutan Legitimasi Kekuasaan Jawa
PRABANGKARANEWS, Surakarta – Jagongan PRO RRI 4 menghadirkan diskusi bertema “Ngoyak Wahyu Keprabon kebudayaan Jawa” bersama narasumber Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum (Jumat, 12/12/ 2025). Dipandu oleh Roy Rohim, acara ini juga melibatkan mahasiswa Sastra Indonesia UNS, Hanifah Rohadhotul Aisy dan Ellika Septhea Nanda yang menambah sudut pandang generasi muda.
Pada sesi pertama Jagongan RRI PRO 4, pembahasan dibuka dengan keprihatinan terhadap kondisi Keraton Surakarta Hadiningrat yang sedang dilanda konflik suksesi. Meski keraton tidak lagi memegang fungsi pemerintahan legal, nilai sejarah dan budaya yang diwariskan menjadikannya aset budaya yang tidak tergantikan. Konflik yang berulang membuat masyarakat khawatir, karena keraton merupakan pusat tradisi yang tidak dapat dibuat ulang.
Prof. Bani menjelaskan bahwa konflik seperti ini sebenarnya telah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Perbedaannya, dahulu perebutan kekuasaan melibatkan prajurit dan memunculkan peperangan, sedangkan kini keraton hanya menjadi aset budaya sehingga kisruh lebih banyak muncul sebagai konsumsi publik dan berita. Menurutnya, konflik suksesi membuat keraton tampak tidak bersatu, terlihat dari adanya kegiatan yang tidak berjalan serempak.
Mahasiswa yang turut hadir Ellika dan Hanifah sama-sama menyampaikan keprihatinan mereka terhadap kondisi keraton. “Kondisinya cukup memprihatinkan, apalagi di masa transisi dan kisruh suksesi pasca wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwana XIII,” katanya.
Hanifah menambahkan, “Sebagai warga luar Solo, saya ikut miris. Keraton seharusnya menjadi pusat tatanan budaya yang dijaga, tapi malah terdapat konflik seperti saat ini.” Kata mahasiswa dari Tegal tersebut.
Prof. Bani mengaitkan situasi ini dengan hilangnya wahyu keprabon, anugerah kepemimpinan dalam tradisi Jawa yang dapat membawa kedamaian. Ketika wahyu itu tidak hadir, muncul banyak konflik dan dapat menyebabkan berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap tokoh keraton.
Pada sesi kedua, pendengar Slamet Wiyono dari Karanganom mengajukan pertanyaan mengenai apakah wahyu benar-benar dapat “dikejar”, mengingat dalam tradisi Jawa sering disebut bahwa wahyu turun dengan sendirinya.
Prof. Bani menjelaskan bahwa meskipun wahyu bukan kekuasaan legal, para ksatria di masa lalu tetap berusaha untuk mendapatkannya. “Contohnya wahyu Cakraningrat. Banyak yang berusaha mengejar, karena wahyu itu membawa ketenteraman dan kewibawaan,” ujarnya.
Pertanyaan lain datang dari Mbak Maharani di Australia yang menyinggung kisah Ki Ageng yang justru tidak mendapatkan wahyu. Prof. Bani menjelaskan bahwa dalam tradisi Jawa, upaya dan doa penting, namun tetap ada unsur nasib. “Ikhtiar itu perlu, doa juga perlu, tetapi ada satu yang menentukan, yaitu nasib. Wahyu hanya turun pada jiwa yang benar-benar siap,” tuturnya.
Prof. Bani menambahkan, meskipun wahyu keprabon diyakini akan datang dengan sendirinya, seseorang tetap harus berusaha mendapatkannya. Usaha tersebut dapat dilalui dengan kesiapan batin.
Wahyu harus dikejar dan dipersiapkan dengan tata brata serta laku brata, yaitu upaya menata diri secara spiritual agar hati menjadi katrem, tenang, dan damai. Kondisi batin yang bersih inilah yang membuka ruang bagi datangnya wahyu keprabon.
Menutup sesi jagongan, Host Roy Rohim menanyakan apa yang terlintas di benak mahasiswa ketika mendengar Keraton Surakarta. Hanifah menyampaikan bahwa keraton sebagai warisan pusat budaya jawa.
Sementara Ellika mengatakan, baginya keraton adalah tempat untuk belajar sebagai mahasiswa Filologi mempelajari naskah-naskah kuno.
Prof. Bani menyampaikan bahwa obrolan hari ini merupakan bentuk kecintaan terhadap Keraton Surakarta. “Semoga konflik suksesi dan persoalan lainnya dapat diselesaikan dengan baik. Jika tidak, ini cukup merugikan bagi mahasiswa, karena bagi mereka keraton itu seperti laboratorium budaya,” tutupnya.
Penulis: Syarifa Farah Azizah, Hanifah Rohadhotul Aisy, Ellika Septhea Nanda
