Agoes Hendriyanto; Alun-alun Pacitan dalam Perspektif Semiotika Roland Barthes dan Kosmologi Jawa

Agoes Hendriyanto; Alun-alun Pacitan dalam Perspektif Semiotika Roland Barthes dan Kosmologi Jawa
Alun-alun Pacitan Awal Abad 20
SHARE

PRABANGKARANEWS – Dalam struktur kota-kota Jawa tradisional, alun-alun menempati posisi sentral sebagai ruang terbuka yang menghubungkan kekuasaan politik, kehidupan religius, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Keberadaan alun-alun tidak dapat dilepaskan dari kosmologi Jawa yang menempatkan ruang sebagai representasi keteraturan semesta.

Alun-alun Pacitan pada periode 1915–1930 memperlihatkan konfigurasi klasik kota Jawa: pendopo di utara, masjid di barat, pasar / ekonomi warga di timur, dan lembaga pendidikan di selatan. Konfigurasi ini menegaskan peran alun-alun sebagai pusat orientasi ruang sekaligus pusat makna.

Kajian ini bertujuan untuk membaca Alun-alun Pacitan sebagai teks budaya melalui perspektif semiotika Roland Barthes. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menyingkap lapisan makna yang bekerja di balik fungsi fisik alun-alun, mulai dari makna literal hingga mitos budaya yang dilembagakan.

Semiotika Roland Barthes

Roland Barthes membedakan makna tanda ke dalam tiga lapis, yakni denotasi, konotasi, dan mitos. Denotasi merujuk pada makna literal dan objektif suatu tanda. Konotasi berkaitan dengan makna kultural yang lahir dari kode sosial tertentu. Adapun mitos adalah sistem semiotik tingkat kedua yang menjadikan makna kultural tampil sebagai sesuatu yang alamiah dan tidak dipertanyakan.

Baca Juga  STKIP PGRI Pacitan Raih 5 Penghargaan Bergengsi di Anugerah Perguruan Tinggi PGRI Berprestasi 2025

Kosmologi Jawa dan Tata Ruang

Kosmologi Jawa memandang ruang sebagai refleksi hubungan harmonis antara manusia, alam, dan kekuatan adikodrati. Konsep kiblat papat lima pancer menempatkan pusat (pancer) sebagai titik keseimbangan semesta. Dalam konteks kota Jawa, alun-alun berfungsi sebagai pancer yang dikelilingi oleh simbol-simbol kekuasaan duniawi, spiritual, dan sosial.

Denotasi: Alun-alun sebagai Ruang Fisik

Pada tingkat denotatif, Alun-alun Pacitan dipahami sebagai lapangan terbuka dengan hamparan rumput luas, dikelilingi bangunan penting seperti pendopo, masjid, pasar, dan lembaga pendidikan. Keberadaan pepohonan besar, khususnya beringin, menjadi elemen visual dominan yang menandai fungsi ruang publik.

Foto Kesebelasan yang Memanfaatkan Alun-alun Pacitan sekitar tahun 70-an

Konotasi: Simbol Keseimbangan dan Keteraturan

Pada tingkat konotasi, alun-alun merepresentasikan nilai-nilai budaya Jawa. Ruang terbuka melambangkan keterbukaan relasi antara rakyat dan penguasa. Posisi alun-alun sebagai pusat kota menandakan keseimbangan kosmis, sementara beringin dimaknai sebagai simbol perlindungan, kebijaksanaan, dan keadilan.

Baca Juga  Bertolak ke Sumatera Utara, Presiden Tinjau Pengembangan Lumbung Pangan Baru dan Serahkan Sertifikat Tanah

Mitos: Alun-alun sebagai Kebenaran Budaya

Pada tingkat mitos, alun-alun tampil sebagai ruang yang secara alamiah dianggap wajar sebagai pusat kota dan pusat kehidupan. Penempatan pendopo, masjid, dan pasar di sekelilingnya memitoskan gagasan bahwa kekuasaan, agama, dan ekonomi harus berada dalam harmoni. Mitos ini meneguhkan legitimasi kekuasaan sekaligus membentuk kesadaran kolektif masyarakat Jawa.

Alun-alun sebagai Ruang Ritus dan Laku Sosial

Alun-alun Pacitan juga berfungsi sebagai arena ritus dan praktik sosial, seperti upacara keagamaan, kirab budaya, dan perayaan komunal. Ruang ini memungkinkan interaksi lintas status sosial, memperkuat kohesi sosial, dan mereproduksi nilai-nilai budaya secara berkelanjutan.

Transformasi Makna di Era Modern

Modernisasi dan kolonialisme membawa perubahan fungsi alun-alun dari ruang sakral menjadi ruang profan. Namun demikian, jejak kosmologi Jawa tetap hadir dalam memori kolektif masyarakat. Setiap kegiatan komunal yang berlangsung di alun-alun sesungguhnya merupakan pengulangan makna lama dalam konteks baru.

Baca Juga  Persebaya Memenangkan Laga Uji Coba 3-1 Melawan Bali United dalam Acara "Surabaya 730 Games

Alun-alun Pacitan merupakan teks budaya yang memuat lapisan makna denotatif, konotatif, dan mitologis. Melalui perspektif semiotika Barthes, dapat dipahami bahwa alun-alun tidak sekadar ruang kosong, melainkan pusat kosmologis yang merepresentasikan keseimbangan, keterbukaan, dan harmoni.

Meskipun mengalami transformasi fungsi, alun-alun tetap menjadi simbol kebijaksanaan Jawa yang menempatkan manusia di tengah relasi dengan sesama dan semesta.

Masyarakat pada awal abad 20 sudah mulai mengenal tata kota.  Jelas antara bagian utara untuk pemerintahan, barat untuk tempat mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa, sisi timur terkait dengan roda ekonomi masyarakat, dan selatan terkait dengan pendidikan.  Konsep yang mejaga keseimbangan dalam sebuah pemerintahan dengan tepat berkumpulnya semua komponen di alun-alun.

Sebuah gambaran yang sangat kontras dengan fungsi alun-alun saat ini yang didominasi oleh kepentingan ekonomi.