Busana Pesisir Pacitan sebagai Teks Budaya: Antropolinguistik Nelayan dan Petani Jawa

Busana Pesisir Pacitan sebagai Teks Budaya: Antropolinguistik Nelayan dan Petani Jawa
SHARE

PRABANGKARANEWS – Di pesisir selatan Pacitan, pakaian nelayan bukan sekadar kebutuhan praktis. Ia adalah cermin dari hubungan manusia dengan alam, kerja keras, dan kesadaran hidup yang dibentuk oleh ombak, angin laut, serta pasir pantai yang setiap hari menyentuh telapak kaki.

Tulisan ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan kerangka antropolinguistik, yaitu kajian yang memandang bahasa sebagai praktik budaya yang hidup dalam konteks sosial, simbolik, dan historis.

Dalam konteks ini, pakaian diperlakukan sebagai “teks budaya”, sementara istilah, penamaan, narasi, dan praktik tutur masyarakat Jawa Pacitan menjadi objek utama analisis linguistik-kultural. Pengumpulan data dengan Studi Dokumentasi. Menggunakan analisis foto kolonial, arsip museum, dan literatur sejarah Pacitan.

Dalam dokumentasi visual lama, sosok nelayan Pacitan tampak mengenakan kain jarik berwarna coklat tua dengan motif sederhana. Jarik itu dililit kuat di pinggang, praktis namun kokoh, memungkinkan tubuh bergerak bebas saat menarik jaring, mendorong perahu, atau berjalan di pasir basah. Motifnya tidak mencolok menandakan kesahajaan dan fokus pada fungsi, bukan penampilan.

Bagian tubuh atas dibiarkan tanpa atasan, memperlihatkan tubuh kurus berotot yang terbentuk oleh kerja fisik sehari-hari. Kulit yang menggelap oleh matahari menjadi penanda waktu—jam kerja alamiah yang tak mengenal lonceng atau kalender. Dalam kesunyian pantai, tubuh menjadi arsip hidup dari disiplin dan ketekunan.

Baca Juga  Belum Jelas Kapan Berakhir, Dolfie Rompas: Berdamai dengan Virus Corona Patut Direspon Positif

Di kepala, terikat kain polos sederhana. Ikat kepala ini berfungsi ganda: melindungi dari terik, menyerap keringat, sekaligus menjadi simbol kesiapan bekerja. Ikatan kain tersebut tidak dibuat rumit—cukup kuat agar tidak lepas diterpa angin laut.

Nelayan Pacitan berjalan tanpa alas kaki, telapak kakinya bersentuhan langsung dengan pasir. Butiran pasir yang menempel bukanlah kotoran, melainkan bagian dari identitas. Kaki telanjang menandakan kedekatan yang intim dengan ruang hidupnya: pantai, laut, dan daratan pesisir.

Ekspresi wajah nelayan dalam foto-foto lama tampak serius dan tenang, menatap lurus ke depan. Tatapan itu bukan tentang kemarahan atau kesedihan, melainkan kesadaran akan risiko hidup yang selalu menyertai pekerjaan mereka. Laut adalah sahabat sekaligus ujian, dan pakaian sederhana ini menjadi saksi dari keberanian yang sunyi.

Nuansa hitam-putih pada pakaian nelayan Pacitan  memperkuat kesan kejujuran visual. Tanpa dramatisasi, tanpa pose berlebihan. Busana nelayan Pacitan hadir apa adanya—jujur, fungsional, dan penuh makna.

Baca Juga  Penutupan Objek Wisata Pengandaran, Pedagang Mengaku Merugi

Memang saat itu kain batik sudah diproduksi oleh pengrajin tradisional di Pacitan.  Warna kain putih yang dilukis oleh pengrajin menjadikan warnanya bervariasi sesuai dengan motif yang diinginkan.  Kesan perpaduan budaya Jawa dalam hal ini Mataram Islam.

Hari ini, pakaian seperti itu mungkin jarang terlihat dalam keseharian. Namun dalam ingatan kolektif Pacitan, jarik, ikat kepala, dan kaki telanjang tetap menjadi simbol kelas pekerja pesisir—mereka yang membangun sejarah dari tepi laut, dengan tubuh sebagai modal utama dan kesederhanaan sebagai kebanggaan.

Selain pakaian nelayan, dokumentasi juga memperlihatkan busana gologan petani Pacitan yang berciri sederhana dan fungsional. Sebagian besar laki-laki mengenakan baju polos berlengan panjang atau pendek berwarna terang tanpa hiasan, dipadukan dengan celana longgar atau sebatas betis dari bahan kain sederhana. Lengan baju yang digulung menandakan pakaian ini digunakan untuk aktivitas harian, bukan keperluan seremoni.

Sebagian petani juga mengenakan kain atau sarung polos sebagai busana bawah, dililitkan secara sederhana tanpa lipatan rumit. Praktik ini menunjukkan kuatnya tradisi berpakaian Jawa di wilayah pedesaan. Penutup kepala berupa iket atau blangkon sederhana digunakan secara situasional—baik sebagai penanda identitas budaya maupun pelindung dari panas matahari—meski dalam konteks informal, penutup kepala kerap diabaikan.

Baca Juga  SMSI Pusat Terjunkan Tim Riset Untuk Gali Sejarah Biografi Margono Djojohadikoesoemo

Busana Gologan Petani Pacitan  Sederhana dan Fungsional.

Sebagian besar laki-laki mengenakan:

  • Baju lengan panjang atau pendek polos, berwarna terang (putih atau krem), tanpa hiasan
  • Celana panjang atau celana sebatas betis, longgar, dari bahan kain sederhana
  • Beberapa tampak menggulung lengan baju, menandakan pakaian dipakai untuk aktivitas harian, bukan seremoni

Pakaian ini mencerminkan fungsi praktis, sesuai dengan iklim panas dan aktivitas agraris.

Kain dan Sarung sebagai Busana Bawah

Beberapa orang terlihat mengenakan:

  • Kain atau sarung polos, dililitkan di pinggang
  • Cara pemakaian sederhana, tanpa lipatan rumit

Hal ini menunjukkan kuatnya tradisi berpakaian Jawa yang masih bertahan, terutama di wilayah pedesaan.

Penutup Kepala Tradisional

Sebagian pria memakai:

  • Ikat kepala (iket/blangkon sederhana) atau penutup kepala dari kain
  • Ada pula yang tidak berpenutup kepala, menyesuaikan situasi informal

Iket berfungsi ganda: penanda identitas budaya sekaligus pelindung dari panas.

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto (Akademisi-Budayawan)