Dianggap Turun Kasta karena Main di Liga 1, PSSI Beri Jawaban Menohok soal Fenomena Diaspora Pulang Kampung
PRABANGKARANEWS, TIMNAS – Fenomena kembalinya pemain diaspora Indonesia ke Liga 1 terus menuai sorotan. Sejumlah pengamat bahkan menyebut langkah tersebut sebagai bentuk “penurunan karier” karena meninggalkan kompetisi Eropa. Namun anggapan itu langsung ditepis tegas oleh PSSI dengan argumen yang dinilai masuk akal dan realistis.
Belakangan, publik sepak bola nasional dibuat heboh dengan keputusan sejumlah pemain diaspora memilih berkarier di Liga 1. Nama-nama seperti Dion Markx yang bergabung dengan Persib Bandung, Shayne Pattynama ke Persija Jakarta, menyusul Thom Haye dan Jordi Amat yang lebih dulu merumput di kompetisi domestik, memicu perdebatan panjang di kalangan pecinta sepak bola Tanah Air.
Menanggapi fenomena tersebut, anggota Exco PSSI Arya Sinulingga menegaskan bahwa PSSI tidak memiliki kewenangan untuk membatasi pilihan karier pemain profesional.
“PSSI tidak menggaji mereka di klub. Itu hak profesional pemain untuk memilih di mana mereka bermain,” tegas Arya, seperti dilansir dari @Timnasspace, Kamis (29/1/26).
Lebih jauh, Arya justru menilai kembalinya pemain diaspora ke Indonesia sebagai indikator positif bagi perkembangan Liga 1. Menurutnya, jika pemain yang pernah berkiprah di Eropa bersedia bermain di Indonesia, itu menunjukkan bahwa kualitas dan daya tarik Liga 1 terus meningkat.
“Kalau pemain sekelas Thom Haye atau Shayne Pattynama mau main di sini, artinya Liga 1 bukan lagi liga kaleng-kaleng,” ujarnya.
PSSI melihat fenomena ini membawa dampak signifikan bagi kompetisi nasional. Kehadiran pemain diaspora diyakini mampu mendongkrak kualitas permainan, meningkatkan intensitas persaingan, serta memaksa pemain lokal untuk menaikkan level performa mereka karena harus bersaing langsung dengan pemain berpengalaman internasional.
Tak hanya itu, keuntungan juga dirasakan oleh tim nasional. Pelatih Timnas Indonesia John Herdman kini dapat memantau kondisi fisik dan performa pemain diaspora secara langsung tanpa terkendala jarak dan perbedaan waktu, sehingga proses pemanggilan dan persiapan timnas menjadi lebih efektif.
Alih-alih disebut sebagai kemunduran, PSSI menilai arus balik diaspora ini sebagai bagian dari transformasi sepak bola Indonesia menuju liga yang lebih kompetitif dan berkelas di Asia.
“Ini bukan turun kasta. Ini justru proses menuju liga elit Asia,” pungkas Arya Sinulingga.
