Peringati HUT Pacitan 2026, Disperpusip Gelar Pameran Literasi dan Visualisasi Wajah Adipati Pacitan Abad ke-18
PRABANGKARANEWS, PACITAN – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Pacitan Tahun 2026, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Pacitan menyelenggarakan Pameran Literasi Obyek Pemajuan Kebudayaan Pacitanian. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian sejarah dan penguatan literasi budaya masyarakat Pacitan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pacitan, kepada jurnalis, Kamis (29/1/26), menyampaikan bahwa pameran ini tidak sekadar menampilkan arsip dan koleksi literasi, tetapi juga mengusung agenda strategis pelestarian sejarah lokal yang selama ini kurang dikenal oleh generasi muda.
Salah satu program yang diupayakan dalam rangkaian HUT Pacitan Tahun 2026 adalah pembuatan gambar visualisasi wajah Adipati Pacitan abad ke-18 M, R. Imam Moekmin atau yang dikenal dengan sebutan Kanjeng Min. Visualisasi ini disusun berdasarkan kajian dokumen arsip dan sumber sejarah yang dimiliki oleh Disperpusip Pacitan.
“Upaya ini kami lakukan agar generasi penerus Pacitan mengerti dan memahami aset sejarah Pacitan yang selama ini terlupakan, bahkan dilupakan,” ujar Kepala Dinas.
Ia menegaskan, arsip sejarah bukan sekadar dokumen lama, melainkan jejak peradaban yang menghubungkan masyarakat Pacitan hari ini dengan para leluhur bumi Pacitan. Melalui pengamanan dan pelestarian dokumen arsip, sejarah Pacitan diharapkan tetap abadi dan dapat diwariskan secara berkelanjutan.
“Dengan adanya dokumen arsip tersebut, kami berharap sejarah Pacitan dapat terjaga, lestari, dan tetap terhubung dengan poros leluhur Pacitan,” tambahnya.
Lebih lanjut disampaikan, kehadiran perpustakaan dan kearsipan bukan hanya sebagai pusat informasi, tetapi juga sebagai ruang pemuliaan identitas dan martabat bangsa. Melalui literasi sejarah dan kebudayaan, Disperpusip Pacitan berkomitmen mendukung terwujudnya visi Pacitan yang makin sejahtera dan bahagia.
Pameran literasi ini diharapkan menjadi ruang edukatif sekaligus reflektif bagi masyarakat untuk mengenali kembali jati diri Pacitan melalui sejarah, arsip, dan kebudayaan lokal.
