Situs Batu Prasasti Ketro Wonojoyo: Jejak Awal Peradaban Pacitan

Situs Batu Prasasti Ketro Wonojoyo: Jejak Awal Peradaban Pacitan
Batu dengan inskripsi di Ketro Pacitan
SHARE

PRABANGKARANEWS, PACITAN  – Bismillah. Salam Literasi Sejarah. Pacitan Kota Misteri. Di Desa Ketro Wonojoyo, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, tersimpan jejak penting sejarah Nusantara yang hingga kini masih menyisakan misteri dan makna mendalam. Jejak tersebut dikenal sebagai Citus Batu Prasasti Ketro Wonojoyo, sebuah artefak kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-5 hingga ke-6 Masehi, pada masa kejayaan Kerajaan Tarumanegara (Pasundan).

Pada masa itu, Sang Maharaja Purnawarman, raja besar Tarumanegara, dikenal sebagai pemimpin yang membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Dalam tradisi kepemimpinan yang humanis, Sang Raja kerap melakukan perjalanan ke berbagai wilayah kekuasaannya sebagai wujud kecintaan kepada rakyat dan upaya memastikan langsung kondisi daerah-daerah bawahannya.

Ciri dan Keberadaan Prasasti

Citus Batu Prasasti Ketro berbentuk lonjong, terbuat dari batu andesit (batu gunung berwarna hitam). Pada masanya, batu ini berada di pinggir jalan desa, menandakan fungsinya sebagai penanda wilayah penting. Di permukaan batu terukir tulisan beraksara Pallawa, yang berisi peringatan sekaligus penegasan bahwa tanah dan wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Raja Purnawarman.

Baca Juga  Cegah Praktek KKN, Bidpropam Polda Banten Lakukan Pengawasan Penerimaan Pradiktuk Bintara dan Tamtama Polri Tahun 2022

Yang paling sakral, di bagian bawah prasasti terdapat tapak kaki Sang Raja Tarumanegara, sebuah simbol kekuasaan, legitimasi, sekaligus penanda kehadiran langsung penguasa di wilayah tersebut. Dalam tradisi kuno Nusantara, tapak kaki raja bukan sekadar simbol politik, melainkan lambang perlindungan, kesuburan, dan restu bagi tanah yang dipijaknya.

Prasasti yang Terasing dari Tanah Asalnya

Pada tahun 1915, citus Batu Prasasti Ketro dibawa oleh penjajah kolonial Belanda dan hingga kini disimpan di Museum Leiden, Belanda. Keberadaannya yang terpisah dari tanah Pacitan menjadikan prasasti ini sebagai salah satu artefak penting yang “hilang secara fisik”, namun tetap hidup dalam ingatan sejarah dan tradisi lokal masyarakat Ketro Wonojoyo.

Baca Juga  Presiden Jokowi Ungkap 3 Kunci Percepatan Transformasi Digital ASEAN

“Steen met inscriptie te Ketro bij Patjitan” adalah frasa bahasa Belanda yang berarti “Batu dengan inskripsi di Ketro dekat Pacitan.”

Makna Filosofis Ketro dan Kesakralan Wilayah

Secara filosofis dalam tradisi Jawa, kata “Ketro” bermakna ketoro, kelihatan, atau penampakan—yakni sesuatu yang nyata, tampak, dan terbukti. Prasasti ini menjadi bukti faktual (ketoro) bahwa wilayah Ketro Wonojoyo pernah disakralkan oleh kekuasaan besar di masanya.

Wilayah ini berada di kaki Gunung Limo, yang secara kosmologis dipandang sebagai pusat jagad—sentral keseimbangan alam semesta yang tersusun atas lima unsur dasar kehidupan:
bumi, langit, angin, air, dan api. Karena itulah, kawasan ini diyakini sebagai wilayah sakral dan strategis, baik secara spiritual maupun kosmologis.

Pada zamannya, citus ini diduga menjadi epicentrum peribadatan berbagai kepercayaan, mulai dari Hindu, Buddha, hingga kepercayaan lokal yang sering disebut sebagai Agama Pacitanian, sebuah sistem spiritual asli yang hidup sebelum dan berdampingan dengan agama-agama besar.

Baca Juga  Pembukaan Pendaftaran Pascasarjana UNS Periode 2 Gelombang 1

Makna bagi Sejarah Pacitan

Citus Batu Prasasti Ketro Wonojoyo merupakan artefak yang sangat penting bagi Kabupaten Pacitan, terutama dalam menyingkap sejarah Pacitan yang kerap terlupakan—bahkan dilupakan—oleh generasi masa kini. Prasasti ini menjadi bukti nyata bahwa peradaban bumi Pacitan telah mencapai tingkat yang sangat tinggi, sejak masa purbakala hingga masa historis klasik Nusantara.

Ia menegaskan bahwa Pacitan bukan wilayah pinggiran sejarah, melainkan bagian integral dari dinamika besar peradaban Nusantara.

Mugio Gusti Allah SWT paring berkahipun dhumateng kita sedaya—kawula, kulawarga, lan para penerus Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah SAW—lan maringi rahmat tumrap bumi, langit, saha sak isiné.

Penulis: Amat Taufan – Agoes Hendriyanto