Dari Kota Kecil Pacitan, Membangun Monumen Ilmiah untuk Dunia
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Semangat membangun budaya literasi dan menghasilkan karya ilmiah dari daerah terus digaungkan di Kabupaten Pacitan. Senin (24/8/2026), Direktur Socio Cultura Indonesia, Dr. Agoes Hendriyanto, bersama Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Amat Taufan, menggelar diskusi ilmiah literasi sebagai bagian dari persiapan Forum Group Discussion (FGD) I Luaran Dana Indonesiana yang akan digelar Rabu, 9 September 2026, di Aula STKIP PGRI Pacitan.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk mematangkan forum ilmiah yang diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan akademik biasa, tetapi menjadi titik kulminasi lahirnya sebuah “monumen ilmiah” dari kota kecil Pacitan. Forum ini memiliki keistimewaan tersendiri karena kegiatan ilmiah yang menghasilkan karya akademik sering kali identik dengan kampus besar dan kota-kota metropolitan. Namun, dari Pacitan yang jauh dari hiruk-pikuk pusat akademik nasional, justru lahir sejumlah karya yang merekam kekayaan budaya dan peradaban lokal.
Karya tersebut berangkat dari kajian “Inventarisasi dan Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan di Pacitan: Upaya Pelestarian Warisan Budaya Lokal” dana Indonesiana 2025. Kajian itu telah menghasilkan sejumlah luaran, antara lain dua buku ber-ISBN, kajian mengenai sejarah dan Hari Jadi Desa Sirnoboyo, serta buku Ensiklopedia Situs Pacitan Kota Misteri yang telah memperoleh ISBN. Sementara itu, buku “Potret Pacitan: Alam, Demografi dan Dinamika Budaya” dipersiapkan untuk diluncurkan pada pelaksanaan FGD II.
Tidak berhenti pada buku, kegiatan kajian tersebut juga melahirkan tiga Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan artikel ilmiah yang telah diterbitkan pada jurnal Sinta 3. Seluruh karya tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan fasilitas dan posisi geografis bukan penghalang untuk melahirkan karya ilmiah. Dari sebuah kota kecil, penelitian dan dokumentasi kebudayaan dapat berkembang menjadi pengetahuan yang memiliki nilai akademik dan dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Momentum tersebut semakin bermakna karena 24 Agustus 2026 juga menjadi peringatan Hari Jadi Desa Sirnoboyo ke-281 tahun. Sejarah lokal yang selama ini hidup dalam ingatan masyarakat kemudian ditempatkan sebagai bagian dari kajian ilmiah dan dokumentasi kebudayaan. Dengan demikian, tradisi, sejarah, dan pengetahuan masyarakat tidak hanya diwariskan melalui cerita, tetapi mulai ditempatkan sebagai bagian dari arsip dan sumber pengetahuan.
Dalam diskusi tersebut, Amat Taufan dan Dr. Agoes Hendriyanto menyepakati bahwa pelaksanaan FGD I harus dipersiapkan secara serius agar mampu menjadi forum ilmiah yang berkualitas dan memiliki gaung lebih luas. Keduanya berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada forum lokal, tetapi dapat menjadi bahan diskusi, inspirasi, bahkan sumber penelitian bagi akademisi dan peneliti dari berbagai daerah maupun dunia internasional.
“Dari Pacitan kita ingin menunjukkan bahwa kota kecil juga mampu melahirkan karya ilmiah yang memiliki nilai untuk dunia. Semoga FGD ini menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia untuk terus membangun tradisi literasi dan dokumentasi kebudayaan,” demikian semangat yang mengemuka dalam diskusi tersebut.
FGD I akhirnya diharapkan menjadi lebih dari sekadar agenda akademik. Forum itu menjadi simbol bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas geografis. Dari Pacitan, sebuah kota kecil di ujung barat daya Jawa Timur, pengetahuan tentang budaya lokal dapat dibangun, didokumentasikan, diterbitkan, dan diproyeksikan menjadi bagian dari percakapan peradaban dunia.


