Dari Pecok hingga Pusaka Besi, Pameran Pacitanian Buka Jejak Peradaban dari Zaman ke Zaman
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Sebilah pusaka tidak sekadar benda peninggalan masa lalu. Di balik bentuk, bahan, dan fungsi yang melekat padanya, tersimpan jejak perkembangan kehidupan manusia pada zamannya. Perspektif inilah yang mengemuka dalam pameran khusus yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Sabtu (22/8/2026).
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Taufan, mengatakan bahwa keberadaan benda-benda peninggalan masa lalu dapat menjadi pintu masuk untuk membaca perjalanan peradaban manusia. Menurutnya, setiap benda memiliki konteks sejarah dan budaya yang dapat menghubungkan generasi masa kini dengan kehidupan masyarakat pada masa lampau.
“Sebilah pusaka bisa menghubungkan perkembangan peradaban manusia di zamannya,” ujar Taufan.
Ia mencontohkan pecok, sebuah alat yang terbuat dari bahan dasar batu rijang. Benda tersebut menjadi bagian penting dalam pembacaan terhadap perkembangan teknologi manusia pada masa batu. Dalam konteks kehidupan masyarakat masa lampau, alat berbahan batu memiliki beragam fungsi, antara lain sebagai alat untuk mengolah lingkungan dan mendukung aktivitas kehidupan sehari-hari.
Jejak perkembangan teknologi kemudian terlihat dari keberadaan ratusan pusaka berbahan besi dengan berbagai bentuk. Benda-benda tersebut merepresentasikan perkembangan kemampuan manusia dalam mengolah logam sekaligus perubahan kebutuhan masyarakat pada zamannya. Selain sebagai perlengkapan kehidupan, sejumlah pusaka juga berkaitan dengan tradisi, pertahanan, serta simbol-simbol sosial dan budaya masyarakat.
Menariknya, pameran tersebut juga mengangkat keberadaan perabotan atau pengetahuan tradisional “Eklek”, yang dikaitkan dengan tempat atau wadah untuk membawa alat seperti arit, clurit, kudi, maupun kujang. Peralatan tersebut digunakan dalam aktivitas masyarakat, termasuk ketika mengambil buah kelapa. Cara membawa dan menggunakan peralatan tersebut menunjukkan bagaimana manusia mengembangkan teknologi sederhana sesuai kebutuhan sekaligus melahirkan bentuk-bentuk budaya yang diwariskan antargenerasi.
Menurut Taufan, rangkaian benda tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan peradaban Pacitanian tidak berlangsung dalam satu fase. Ada kesinambungan antara teknologi berbahan batu, perkembangan penggunaan logam, hingga pemanfaatan bahan kayu dan berbagai teknologi tradisional lainnya. Semuanya meninggalkan memori kolektif yang penting untuk terus dikaji dan dilestarikan.
Sementara itu, Direktur Socio Cultura Indonesia, Dr. Agoes Hendriyanto, menilai pameran yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pacitan tersebut memiliki arti strategis. Pameran tidak hanya menghadirkan benda-benda masa lalu, tetapi juga membuka ruang untuk memahami adat dan adab manusia serta perkembangan kebudayaan Pacitanian dari masa ke masa.
“Pameran ini sangat krusial terkait dengan adat dan adab manusia pada masa lalu, beserta perkembangannya yang strategis untuk masa datang,” ungkap Agoes.
Menurutnya, upaya menghadirkan kembali benda-benda bersejarah kepada masyarakat merupakan bagian dari proses literasi budaya. Generasi muda tidak cukup hanya mengenal sejarah melalui teks, tetapi juga perlu melihat, mengamati, dan memahami benda-benda yang menjadi bukti perjalanan peradaban.
Agoes juga memberikan apresiasi kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan yang tetap menghadirkan terobosan dalam pelestarian budaya di tengah tantangan efisiensi anggaran yang dihadapi berbagai perangkat daerah. Menurutnya, keberadaan program semacam pameran budaya menunjukkan bahwa pelestarian warisan Pacitanian dapat terus berjalan ketika didukung niat tulus, kolaborasi, dan kepedulian bersama.
“Dengan niat yang tulus dan dukungan dari mereka yang memiliki kepedulian yang sama, kita berharap budaya Pacitanian dapat terus diliterasikan kepada generasi penerus,” tegasnya.
Pameran tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa benda-benda warisan leluhur bukan sekadar koleksi. Pecok, pusaka besi, arit, clurit, kudi, kujang, hingga berbagai artefak tradisional merupakan fragmen yang dapat membantu masyarakat memahami bagaimana manusia Pacitanian membangun pengetahuan, teknologi, adat, dan kebudayaan. Dari benda-benda itulah, memori peradaban masa lalu dapat dihubungkan dengan identitas dan masa depan generasi Pacitan.
