Indonesia yang Terluka dan Pesan Kemanusiaan Nabi Muhammad SAW
INDONESIA YANG TERLUKA DAN PESAN KEMANUSIAAN NABI MUHAMMAD SAW
Oleh: Dr. Ahmad Ghozi*
Di tengah semarak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Indonesia justru sedang memperlihatkan wajahnya yang lain: wajah negeri yang terluka. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur telah menelan korban jiwa dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi. Hingga 22 Agustus 2026, BNPB mencatat 87 orang meninggal, 1.298 orang luka-luka, dan 150.576 orang mengungsi (BNPB, 2026).
Di Nusa Tenggara Barat, kebakaran hebat pada Sabtu malam, 22 Agustus, melanda Desa Adat Sade, Lombok Tengah. Pendataan awal Kementerian Kebudayaan mencatat 167 bangunan terdampak, termasuk 75 rumah adat, 69 toko kerajinan, delapan lumbung, serta sejumlah fasilitas dan aset budaya lainnya (Kementerian Kebudayaan, 2026).
Di antara lantunan selawat dan kabar tentang kehilangan itu, ada pertanyaan yang tidak cukup dijawab dengan ceramah: apa arti mencintai Nabi di sebuah negeri yang masih menyisakan begitu banyak manusia terluka? Pertanyaan ini bukan hendak mempertentangkan ritual dengan kemanusiaan. Justru sebaliknya, ia hendak menguji apakah keduanya telah bertemu.
Sebab Nabi Muhammad SAW tidak hanya datang membawa ajaran tentang kesalehan individual, tetapi juga membangun etika tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya. Maka, Maulid semestinya bukan hanya kesempatan mengenang kelahiran Nabi, melainkan momentum untuk menilai kembali: apakah keberagamaan kita telah membuat kehidupan menjadi lebih manusiawi?
Rahmat yang Harus Menjadi Kenyataan
Al-Qur’an memperkenalkan Nabi Muhammad SAW dengan kalimat yang sangat kuat: “Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS Al-Anbiya [21]: 107). Ayat ini termasuk yang paling sering dikutip dalam peringatan Maulid. Namun, persoalan terpenting bukan apakah kita hafal ayat tersebut, melainkan apakah kita bersedia menerima konsekuensi moralnya.
Rahmah bukan sekadar rasa iba kepada orang yang menderita. Ia menuntut tindakan untuk menjaga kehidupan, mengurangi penderitaan, menghadirkan kemaslahatan, dan memelihara martabat manusia. Dalam kerangka etika Al-Qur’an, keberagamaan tidak cukup diukur dari kesalehan ritual, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan sosial.
Quraish Shihab menjelaskan bahwa pesan Al-Qur’an tentang kehidupan manusia selalu memiliki dimensi moral dan sosial. Agama tidak dimaksudkan untuk menjauhkan manusia dari kenyataan kehidupan, tetapi membimbing manusia agar kehidupan tersebut menjadi lebih baik dan bermartabat (Shihab, 2002). Karena itu, rahmatan lil ‘alamin tidak seharusnya berhenti sebagai slogan di spanduk Maulid atau kalimat pembuka ceramah. Ia harus menjadi prinsip dalam memperlakukan sesama.
Di sinilah kita perlu lebih kritis terhadap cara kita memperingati Nabi. Kita begitu mudah menceritakan kelembutan Nabi kepada kaum miskin, anak yatim, perempuan, dan mereka yang lemah. Tetapi apakah kelembutan itu masih hidup ketika kita berhadapan dengan orang miskin di sekitar kita? Kita mengagungkan Nabi sebagai pembela kaum lemah, tetapi apakah kita peduli kepada pekerja yang penghasilannya tidak cukup untuk hidup layak, anak yang menjadi korban perundungan, atau keluarga yang kehilangan rumah akibat bencana?
Jangan-jangan persoalan keberagamaan kita bukan kekurangan ritual, melainkan kekurangan transformasi moral. Kita bisa sangat ramai memperingati Nabi, tetapi belum tentu semakin peka terhadap penderitaan. Kita dapat memperbanyak selawat, tetapi masih mudah mencaci orang yang berbeda pilihan. Kita dapat berbicara panjang tentang akhlak Rasulullah, tetapi ruang digital kita justru dipenuhi penghinaan, penghakiman, dan kegembiraan ketika orang lain dipermalukan. Pada titik inilah Maulid seharusnya menjadi cermin yang sedikit mengganggu kenyamanan kita. Sebab Nabi Muhammad SAW adalah uswah, teladan (QS Al-Ahzab [33]: 21). Beliau bukan sekadar objek pujian, melainkan standar moral yang menuntut perubahan perilaku.
Dari Bencana menuju Solidaritas
Gempa NTT dan kebakaran Desa Adat Sade memperlihatkan dua bentuk kerentanan yang berbeda. Gempa mengingatkan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya berkuasa atas alam. Kebakaran Sade mengingatkan bahwa yang hilang dalam sebuah bencana bukan hanya bangunan, melainkan rumah, mata pencaharian, ingatan kolektif, dan warisan budaya.
Sade bukan sekadar kawasan wisata. Di sana terdapat kehidupan masyarakat Sasak yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, ketika rumah adat dan toko kerajinan terbakar, yang hilang bukan hanya aset ekonomi. Ada bagian dari identitas kebudayaan yang ikut terluka. Kementerian Kebudayaan sendiri menyiapkan langkah pemulihan kawasan tersebut setelah kebakaran berdampak pada 167 bangunan (Kementerian Kebudayaan, 2026).
Di sinilah konsep rahmah memperoleh ujian konkret. Apakah kita melihat Sade hanya sebagai destinasi wisata yang rusak? Ataukah kita melihat warga yang kehilangan rumah, sumber penghidupan, benda-benda budaya, dan sebagian ruang hidupnya? Perbedaan cara pandang itu penting. Jika bencana hanya dibaca sebagai angka kerugian, manusia akan lenyap di balik statistik. Padahal di balik setiap angka terdapat keluarga, kenangan, kecemasan, dan harapan yang harus dipulihkan.
Bencana menguji kesiapan negara. Tetapi penderitaan manusia menguji kedalaman solidaritas kita. Negara tentu harus hadir melalui kebijakan, bantuan, rekonstruksi, perlindungan sosial, dan pemulihan jangka panjang. Namun negara tidak bekerja sendirian. Masyarakat sipil, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, dunia usaha, media, dan komunitas memiliki ruang untuk mengambil bagian.
Yang perlu menjadi kritik bagi kita adalah kecenderungan solidaritas yang hanya bertahan selama penderitaan masih menjadi berita. Ketika kamera pergi, perhatian sering ikut pergi. Padahal pemulihan korban bencana tidak selesai ketika bantuan darurat dibagikan. Amartya Sen mengingatkan bahwa pembangunan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kemampuan manusia menjalani kehidupan yang mereka nilai berharga (Sen, 1999).
Perspektif ini relevan untuk membaca bencana NTT maupun kebakaran Sade. Memulihkan kehidupan bukan sekadar membangun kembali rumah, jalan, atau fasilitas publik. Yang harus dipulihkan adalah kemampuan manusia untuk kembali hidup secara aman, produktif, bermartabat, dan memiliki masa depan.
Pesan tersebut sesungguhnya sangat dekat dengan teladan Nabi. Manusia tidak boleh direduksi menjadi angka statistik, penerima bantuan, wisatawan, tenaga kerja, atau objek kebijakan. Ia adalah manusia yang memiliki kehormatan. Karena itu, keberagamaan yang kehilangan kepedulian sosial sesungguhnya sedang kehilangan salah satu dimensi terpenting dari ajaran Nabi.
Maulid akhirnya tidak cukup menjadi perayaan tentang masa lalu. Ia harus menjadi pertanyaan tentang masa depan. Apakah setelah memperingati Nabi, kita menjadi manusia yang lebih peka? Apakah orang yang sedang terluka merasakan kehadiran kita? Apakah mereka yang kehilangan menemukan alasan untuk kembali berharap?
Nabi Muhammad SAW tidak membutuhkan perayaan kita untuk menjadi mulia. Kitalah yang membutuhkan keteladanan beliau agar tidak kehilangan arah sebagai manusia. Di tengah Indonesia yang terluka, cinta kepada Nabi harus menemukan bentuknya: merawat yang lemah, menolong yang kehilangan, menjaga martabat korban, memperjuangkan keadilan, dan menghormati manusia tanpa melihat suku, agama, kelas sosial, maupun kekuasaan.
Sebab ukuran keberhasilan Maulid bukanlah seberapa meriah kita menyebut nama Nabi. Ukurannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih berat: seberapa banyak manusia merasa lebih aman, lebih dihargai, dan lebih dipedulikan setelah kita memperingati kelahirannya. Pada akhirnya, rahmat bukanlah kata yang selesai diucapkan. Rahmat harus hadir, bekerja, dan dirasakan. Di situlah pesan kemanusiaan Nabi menemukan bentuknya—bukan hanya dalam selawat yang kita lantunkan, tetapi dalam kehidupan yang kita selamatkan. [*].
____________
*Dosen Fakultas Humaniora dan Kepala Pusat Career Development Center UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
