Janenake Buka Pintu Kesempatan, Penyandang Disabilitas Diberi Ruang Berkarya dan Mandiri
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Kepedulian terhadap penyandang disabilitas tidak berhenti pada slogan. Janenake justru membuktikannya dengan membuka ruang kerja dan kesempatan berkarya bagi penyandang disabilitas untuk tumbuh, mandiri, dan menunjukkan kemampuan di tengah dunia kerja.
Di balik kesibukannya mengembangkan usaha, Muhamad Rofiqin atau akrab disapa Mamat, pengelola Janenake, memilih langkah yang tidak biasa. Ia memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk menjadi bagian dari aktivitas usaha yang dikembangkannya.
“Janenake saat ini mempekerjakan tiga orang disabilitas dari SLB Pacitan,” ujar Mamat kepada jurnalis di sela-sela kesibukannya, Selasa (25/8/2026).
Menurut Mamat, tenaga kerja tersebut terdiri atas satu penyandang tuna rungu dan dua penyandang tuna grahita. Selain itu, Janenake juga memberikan ruang kepada seorang penyandang tunanetra sebagai tenaga freelance electone.
Bagi Janenake, keterbatasan fisik maupun kondisi tertentu bukan alasan untuk menutup kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan. Justru dengan memberikan ruang yang sesuai dengan kemampuan, penyandang disabilitas dapat menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi yang layak dihargai.
Langkah tersebut bukan sekadar program sosial. Ada pesan kuat yang ingin dibangun Janenake: dunia kerja harus menjadi ruang yang inklusif. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi, memperoleh penghasilan, membangun kepercayaan diri, dan menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat.
Kepedulian Mamat terhadap penyandang disabilitas bahkan mendapat pengakuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pada 2025, Mamat atau Janenake menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Timur atas kepeduliannya dalam membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.
Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa apa yang dilakukan Janenake bukan sekadar aksi sesaat. Kepedulian itu tumbuh menjadi bagian dari nilai usaha yang terus dijalankan. Salah satu karyawan kepada jurnalis merasa senang mendapatkan kesemptan bekerja di Janenake bisa berkumpul dengan teman-teman yang juga disabilitas.
Di tengah persaingan dunia usaha yang semakin ketat, Janenake justru menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial. Keuntungan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ketika usaha mampu menghadirkan kesempatan bagi mereka yang selama ini berada di pinggir, di situlah bisnis memiliki makna yang lebih besar.
Kisah Janenake menjadi pengingat bahwa disabilitas bukan berarti tidak mampu. Yang sering kali dibutuhkan bukan belas kasihan, melainkan kesempatan. Dan ketika kesempatan itu diberikan, kemampuan dapat tumbuh menjadi kemandirian.
Janenake tidak sekadar membuka tempat usaha. Ia membuka pintu kesempatan—agar keterbatasan tidak lagi menjadi tembok bagi penyandang disabilitas untuk bekerja, berkarya, dan berdiri sejajar.
