Kajian Budaya UNS: From ‘Join’ to ‘Contribute’
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Surakarta – Pada Kamis (13/08/2026), Program Studi Kajian Budaya Universitas Sebelas Maret telah selesai menyelenggarakan Lokakarya kurikulum S3 Kajian Budaya yaitu kegiatan diskusi reflektif untuk membahas arah pengembangan Kajian Budaya, khususnya terkait kurikulum, kekhasan keilmuan, metodologi, serta kontribusi program studi terhadap perkembangan Kajian Budaya di Indonesia.
Kegiatan ini kemudian menjadi ruang dialog bagi dosen, mahasiswa, dan alumni untuk merefleksikan perkembangan program studi selama kurang lebih satu tahun terakhir sekaligus memikirkan arah pengembangannya ke depan.
Kegiatan dimulai oleh Pak Yuyun Kusdianto selaku moderator acara, dengan mengangkat kembali pemikiran Michael Apple dalam buku Ideology and Curriculum. Ia menekankan bahwa kurikulum pada dasarnya tidak pernah benar-benar netral karena kurikulum menjadi tempat berbagai kepentingan masuk. Hal ini terjadi karena kurikulum dalam menentukan pengetahuan apa yang bisa ditampilkan, dianggap penting, kemudian menjadi bagian dari pengetahuan resmi.

Mengutip perkataan Michael Apple, “Whose knowledge becomes official knowledge?” yang berarti “Pengetahuan siapa yang menjadi pengetahuan resmi?” menjadi pertanyaan pembuka untuk melihat kurikulum sebagai contested terrain, yaitu medan yang mempertemukan berbagai gagasan, kepentingan, dan melihat dari banyak perspektif.
Dalam konteks pengaplikasiannya pada Kajian Budaya UNS, perbedaan pandangan antara dosen, mahasiswa, dan alumni dapat dipandang bukan semata-mata sebagai konflik personal, melainkan sebagai perdebatan pada tingkat gagasan yang dapat mendorong refleksi dan pengembangan keilmuan.
Lewat hasil refleksi ini, Pak Yuyun kemudian mengharapkan materi yang disampaikan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk melakukan refleksi terhadap pengalaman dan perkembangan program studi selama satu tahun terakhir, sekaligus memikirkan kemungkinan pengembangan dan rekontekstualisasi kajian budaya ke depan.
Dalam sesi ini, Prof. Dharma Putra dari Universitas Udayana hadir sebagai narasumber pertama. Prof. Dharma merupakan salah satu tokoh dalam perkembangan Kajian Budaya di Indonesia yang merupakan profesor di Fakultas Humaniora Universitas Udayana.
Prof. Dharma, memiliki pengalaman akademik yang beragam dari tingkat nasional hingga internasional, dengan latar belakang pendidikan sarjana dari Universitas Udayana, Magister dari University of Sydney, dan doktor dari University of Queensland. Prof. Dharma kemudian membuka diskusi terkait perkembangan dan kondisi kurikulum kajian budaya.
Sesi selanjutnya dipaparkan oleh Pak Taufiq Al Makmun selaku dosen S3 Kajian Budaya yang menyampaikan pendapatnya terkait pentingnya pengembangan struktur pembelajaran dan kurikulum dalam kajian budaya. Menurutnya, sebelum proses pembelajaran dilaksanakan, perlu dilakukan pengembangan dari sisi struktur kurikulum.

Hal ini berlaku untuk memberikan dasar pembelajaran yang lebih kuat dan terarah. Lewat tanggapannya juga, Pak Taufik menekankan bahwa studi kajian budaya UNS sebaiknya tidak hanya “Join” dalam perkembangan kajian budaya, tetapi juga dapat “contribute” terhadap pengembangan kajian budaya sebagai sebuah bidang keilmuan. Ia juga menekankan pentingnya sifat interdisipliner, penelitian orisinal, keterlibatan dengan dunia profesi, serta pengembangan kajian budaya agar mampu menjadi trendsetter dalam perkembangan kajian budaya secara lebih luas.
Pada diskusi, Prof. Sahid menambahkan pentingnya pengembangan kurikulum kajian budaya. Hal ini dilakukan agar kurikulum bekerja bukan hanya untuk mereproduksi teori dan kajian yang sudah ada. Menurut Prof. Sahid keberanian intelektual untuk keluar dari pola yang sudah ada perlu menjadi bahan baku dalam diskusi-diskusi kritis sekaligus menjadi bagian penting dalam penguatan kurikulum.
Teori seharusnya digunakan untuk membantu membaca dan memahami realitas. Penguatan teori perlu diikuti dengan penguatan metode, termasuk kemungkinan pengembangan “Javanese Methodology” atau metodologi yang berangkat dari konteks budaya Jawa.
Melanjutkan sesi diskusi, Prof. Habsari menegaskan bahwa salah satu PR bagi mahasiswa dan dosen adalah bagaimana menggunakan teori-teori yang telah berkembang, tetapi tidak selalu berada “under the Western eyes” atau berarti tidak berada di bawah bayang-bayang perspektif barat. Proses penelitian tidak seharusnya berhenti pada Teori → Data → Analisis → Interpretasi, tetapi perlu didorong menuju Data → Analisis → Interpretasi → perumusan atau pengembangan teori.
Sementara itu, Pak Yuyun Kusdianto memberikan tambahan untuk menjadi konsiderasi bahwa kekhasan Kajian Budaya juga perlu dibangun melalui melokalkan teori, mencari dan mengembangkan metodologi yang membumi, serta menggambarkan kekhasan institusi dan konteks lokal.
Menanggapi berbagai gagasan tersebut, Prof. Dharma Putra menyoroti satu gagasan utama yang muncul dari diskusi, yaitu bahwa dalam mengembangkan Kajian Budaya, UNS tidak hanya perlu “Join”, tetapi juga harus “contribute”. Konsep lokal tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga menjadi sumber teori dan perspektif yang berkontribusi terhadap perkembangan keilmuan secara luas. Gagasan mengenai “reinterpretation of tradition” juga berpotensi menjadi salah satu benih penciri kajian budaya UNS.
Melalui kegiatan ini, pengembangan kurikulum diharapkan dapat mengintegrasikan teori, metode, perkembangan teknologi, konteks sosial, serta realitas kehidupan masyarakat sehingga mahasiswa tidak hanya memahami kajian budaya secara konseptual, tetapi juga mampu menggunakannya untuk membaca fenomena nyata.
Kajian budaya di UNS diharapkan mampu menghasilkan ciri khas yang berbeda tetapi tetap relevan dengan perkembangan zaman dan dapat dinikmati atau dipahami oleh masyarakat luas.
