Karya Anak Pacitan, Kapal Wisata Janenake Siap Bawa Wisatawan Menjemput Sunset di Tengah Laut
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Terobosan baru mewarnai pengembangan wisata bahari di Kabupaten Pacitan. Rumah Makan Janenake melalui pemiliknya, Mamat, tengah menyiapkan kapal wisata yang dibuat oleh tenaga lokal Pacitan. Kapal tersebut dirancang untuk membawa wisatawan menikmati keindahan pesisir Pacitan dari tengah laut, khususnya menyaksikan panorama matahari terbenam.
Kapal wisata ini menjadi bagian dari konsep “Sunset to Sunrise”, sebuah gagasan yang dikembangkan Janenake untuk membuat pengalaman wisatawan di Pacitan semakin panjang. Kapal tersebut dijadwalkan segera diluncurkan pada Kamis (20/8/2026), sekaligus menjadi momentum penting bagi pengembangan wisata bahari berbasis potensi dan sumber daya lokal.
Yang menarik, kapal tersebut bukan didatangkan dari luar daerah. Proses pembuatannya melibatkan tenaga lokal Pacitan. Keberadaan kapal ini sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat Pacitan memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menghasilkan sarana pendukung pariwisata sendiri.
Karya Lokal untuk Laut Pacitan
Bagi Mamat, kapal wisata tersebut bukan sekadar alat transportasi. Kapal menjadi simbol bahwa pengembangan pariwisata dapat sekaligus menggerakkan potensi ekonomi dan keterampilan masyarakat lokal.
Dengan memanfaatkan tenaga pembuat kapal dari Pacitan, rantai ekonomi tidak berhenti pada aktivitas wisatawan. Mulai dari proses pembuatan kapal, pengoperasian, jasa pemandu, kuliner, penginapan hingga aktivitas wisata bahari dapat saling terhubung.
Kapal dirancang dengan kapasitas sekitar 15 wisatawan. Ukuran tersebut diharapkan memberikan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman dan memungkinkan wisatawan menikmati panorama laut Pacitan secara lebih dekat.
Menikmati Pacitan dari Perspektif Laut
Selama ini keindahan pantai Pacitan lebih banyak dinikmati dari daratan. Melalui kapal wisata ini, wisatawan diajak melihat wajah Pacitan dari perspektif berbeda.
Bentang pesisir Pacitan yang panjang, dipadukan dengan karakter batuan Pegunungan Sewu, menjadikan kawasan pantainya memiliki panorama yang khas. Dari tengah laut, wisatawan dapat menyaksikan garis pantai, tebing, batuan, serta perubahan warna langit ketika matahari mulai tenggelam.
Konsep tersebut kemudian dikembangkan menjadi pengalaman “Sunset to Sunrise”.
Wisatawan dapat menikmati sunset dinner di Janenake, bermalam di Pacitan, kemudian keesokan paginya menikmati matahari terbit dari tengah laut.
“Harapannya wisatawan tidak hanya datang, tetapi mau menginap lebih lama sehingga semakin banyak uang wisatawan yang berputar di Pacitan,” ujar Mamat.
Dari Pengrajin Lokal, untuk Wisatawan
Kehadiran kapal buatan tenaga lokal memberikan nilai tambah tersendiri. Wisata bahari yang ditawarkan bukan hanya menjual keindahan laut, tetapi juga membawa cerita tentang karya masyarakat Pacitan.
Wisatawan tidak sekadar menaiki kapal. Mereka juga menikmati hasil kreativitas dan keterampilan warga lokal yang ikut membangun sarana wisata tersebut.
Untuk memastikan aspek keselamatan, kapal wisata nantinya akan dinahkodai oleh tenaga berpengalaman yang telah mendapatkan rekomendasi dari syahbandar di Pelabuhan TPI Tamperan, sebagaimana disampaikan Mamat.
Kapal tersebut direncanakan berkapasitas 15 orang dan difokuskan untuk menunjang wisatawan menikmati panorama sunset dari tengah laut.
Menggerakkan Ekonomi dari Laut
Konsep kapal wisata ini juga terhubung dengan paket wisata The Tamperan Cruise. Wisatawan ditawarkan tiket Rp150 ribu per orang, dengan voucher Sunset Dinner Janenake senilai Rp50 ribu dan voucher hotel Rp25 ribu.
Konsep ini dirancang agar wisatawan tidak berhenti pada satu aktivitas. Mereka makan, menginap, menikmati laut, kemudian memiliki kesempatan mengeksplorasi destinasi Pacitan lainnya.
“Bagi kami, wisata bukan hanya mendatangkan orang, tetapi bagaimana membuat mereka tinggal lebih lama dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat Pacitan,” kata Mamat.
Peluncuran kapal wisata pada 20 Agustus 2026 pun diharapkan menjadi awal dari sebuah gerakan baru: pariwisata Pacitan yang tumbuh dari potensi lokal, dibuat oleh tenaga lokal, dan manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat lokal.
Dari tangan tenaga Pacitan, kapal itu akan berlayar membawa cerita Pacitan ke tengah laut. Dari sana, wisatawan diajak menyaksikan matahari tenggelam—sekaligus melihat bahwa Pacitan bukan hanya memiliki pantai yang indah, tetapi juga memiliki masyarakat yang mampu menciptakan inovasi untuk mengembangkan pariwisatanya sendiri.
