Pameran Literasi Peradaban Pacitanian Diserbu Ratusan Pelajar, Belajar Sejarah Sambil Menikmati “Balap Marmut”
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Pameran Literasi Peradaban Dunia Pacitanian 2026 di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan menjadi magnet baru bagi pelajar. Setiap pagi, ratusan siswa dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah datang untuk mengenal sejarah, budaya, kuliner, dan berbagai kekayaan peradaban Pacitan.
Pada Rabu (26/8/2026), kunjungan antara lain datang dari TK Muslimat NU dan SDN Sumberharjo. Para siswa tidak sekadar melihat-lihat koleksi pameran, tetapi juga aktif bertanya dan menikmati berbagai sajian literasi yang dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan dunia anak.
Salah satu pertanyaan yang paling menarik perhatian adalah tentang “makanan legendaris Pacitan”. Selain itu, siswa diajak menonton film pendek sejarah Pacitan, melihat karya lukisan dari teman-teman sebaya yang tergabung dalam Komunitas Perupa Sanggar Lemah Teles, hingga menyaksikan atraksi unik “Balap Marmut” yang berlangsung di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pacitan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan menilai pameran tersebut menjadi momentum penting untuk menjadikan perpustakaan sebagai pusat pengetahuan yang terbuka bagi dunia pendidikan, khususnya anak-anak.
Menurutnya, kehadiran para pelajar di ruang pameran bukan sekadar kegiatan rekreatif. Lebih jauh, pengalaman tersebut diharapkan mampu membentuk karakter, mental, serta kesadaran terhadap harkat dan martabat bangsa sejak usia dini.
“Moment pameran tersebut menjadikan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menjadi titik sentral ilmu pengetahuan yang terbuka untuk dunia pendidikan, utamanya anak-anak,” ungkapnya.
Ia berharap transformasi pengetahuan yang diperoleh anak-anak melalui pameran dapat tertanam kuat dan menjadi bekal ketika mereka kelak menerima tongkat estafet kepemimpinan.
Sementara itu, Direktur Socio Cultura Indonesia, Dr. Agoes Hendriyanto, menilai pameran tersebut memiliki arti vital dalam mendukung tumbuh kembang anak. Menurutnya, anak-anak perlu dikenalkan dengan sejarah dan kebudayaan daerah melalui pengalaman yang menyenangkan agar tumbuh rasa bangga terhadap identitas dan lingkungan budayanya.
“Pameran ini sangat vital untuk menguatkan tumbuh kembang anak menuju generasi emas dunia, khususnya anak-anak Pacitan,” ujarnya.
Pameran Literasi Peradaban Dunia Pacitanian 2026 masih berlangsung hingga 11 September 2026. Penyelenggara berharap semakin banyak sekolah mengajak siswanya berkunjung sehingga pameran tidak hanya menjadi ruang melihat koleksi, tetapi juga menjadi ruang belajar, ruang bertanya, ruang bermain, sekaligus ruang menumbuhkan kecintaan terhadap Pacitan dan Indonesia.
