Pameran Peradaban Dunia Pacitanian 2026 Angkat Makanan Legendaris sebagai Jejak Peradaban
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Pameran Peradaban Dunia Pacitanian 2026 kembali menghadirkan kekayaan pengetahuan tradisional masyarakat Pacitan. Tahun ini, pameran menampilkan beragam makanan favorit legendaris yang menjadi bagian dari perjalanan peradaban masyarakat, mulai dari tradisi masa lampau hingga kehidupan masyarakat Pacitan masa kini.
Berbagai makanan kering khas Pacitan yang semakin langka ditemui menjadi bagian penting dalam pameran tersebut. Di antaranya Tape Saril, Cekeremes, Sale Klaras Pacitan, Gatot, Tiwul, Kerupuk Dwi Warna, Karak, dan sejumlah makanan tradisional lainnya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Amat Taufan, Minggu (23/8/2026), mengatakan makanan tradisional tidak sekadar berkaitan dengan kebutuhan pangan. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, pengalaman, kreativitas, serta perjalanan kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi.
“Situs makanan menghubungkan peradaban manusia dari abad dan zaman serta menjadi memori kolektif bangsa di dunia,” jelas Amat Taufan.
Menurutnya, keberadaan makanan tradisional perlu didokumentasikan dan diperkenalkan kepada generasi muda. Perubahan pola konsumsi dan derasnya perkembangan makanan modern membuat sejumlah makanan tradisional semakin jarang dikenal, bahkan berpotensi hilang dari kehidupan masyarakat.

Direktur Socio Cultural Indonesia, Dr. Agoes Hendriyanto, menegaskan makanan legendaris merupakan bagian dari identitas budaya yang layak diwariskan kepada generasi mendatang. Makanan tradisional bukan hanya produk kuliner, tetapi juga menyimpan pengetahuan tradisional mengenai bahan, teknik pengolahan, cara penyajian, hingga nilai sosial yang berkembang dalam masyarakat.
“Makanan legendaris patut menjadi pelajaran bagi anak-anak bangsa sehingga dapat menjadi bagian dari jati diri bangsa. Karena itu, keberadaannya harus diarsipkan, didokumentasikan, dan dilestarikan oleh semua bangsa di dunia,” ujar Agoes.
Pameran makanan tradisional di lingkungan perpustakaan diharapkan mampu memperluas literasi masyarakat mengenai kekayaan kuliner Pacitan. Kehadiran makanan seperti Tape Saril, Cekeremes, Sale Klaras, Gatot, Tiwul, Karak hingga Kerupuk Dwi Warna menjadi pengingat bahwa Pacitan memiliki pengetahuan tradisional yang tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern.
Melalui Pameran Peradaban Dunia Pacitanian 2026, makanan tradisional ditempatkan bukan sekadar sebagai benda konsumsi, tetapi sebagai arsip hidup peradaban. Setiap makanan membawa cerita tentang lingkungan, teknologi sederhana, kreativitas, ketahanan pangan, serta hubungan antargenerasi yang membentuk identitas masyarakat Pacitan.
Pameran ini sekaligus menjadi ruang literasi budaya untuk mengajak generasi muda mengenal kembali makanan warisan leluhur. Dengan dokumentasi dan pelestarian yang berkelanjutan, makanan tradisional Pacitan diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu, tetapi tetap hidup dan berkembang sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat di masa depan.
