RRI Surakarta Angkat Gagasan Dukungan Taufiq Ismail untuk Nobel: Dari Puisi, Musik, hingga Humaniora Digital
PRABANGKARANEWS.COM, SURAKARTA, 14 Agustus 2026 — Kiprah Taufiq Ismail sebagai salah satu penyair penting Indonesia kembali menjadi bahan perbincangan publik. Melalui program Obrolan Komunitas RRI Pro 1 Surakarta, RRI Surakarta bersama Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Universitas Sebelas Maret (UNS) mengangkat tema “Mendukung Taufiq Ismail untuk Dapat Nobel”, Kamis (13/8/2026), pukul 20.00–21.00 WIB.
Diskusi tersebut menghadirkan Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum., Ketua HISKI UNS sekaligus Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UNS; Dr. Sugit Zulianto, M.Pd., Peergroup Javanologi UNS; serta Dr. Asep Yudha Wirajaya, M.A., Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara UNS. Acara dipandu oleh Rifqi Minov sebagai host.
Mengapa Taufiq Ismail?
Perbincangan mengenai Taufiq Ismail tidak semata-mata bertumpu pada panjangnya perjalanan kepenyairannya, tetapi juga pada kemampuan karya-karyanya melampaui batas ruang, generasi, bahkan medium.
Salah satu contohnya adalah puisi “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” yang kemudian bertransformasi menjadi lagu melalui interpretasi Chrisye dan aransemen Erwin Gutawa. Dalam beberapa kajian diketahui bahwa perpindahan dari puisi menjadi musik bukan sekadar perubahan bentuk, melainkan juga proses alih wahana yang memperluas pengalaman estetis, emosional, dan spiritual pembaca maupun pendengar.
Karya tersebut juga memperlihatkan bagaimana gagasan religius dapat diolah menjadi karya sastra yang memiliki daya jangkau luas. Puisi “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” berangkat dari refleksi terhadap Q.S. Yasin [36]:65, khususnya gambaran tentang “tangan” dan “kaki manusia” yang memberikan kesaksian atas perbuatannya. Taufiq Ismail mengolah gagasan tersebut melalui bahasa puitik yang simbolis dan reflektif sehingga pesan religius tidak hadir sebagai doktrin semata, melainkan sebagai pengalaman estetik dan perenungan spiritual.
Puisi yang Menjadi Lagu dan Terus Hidup
Salah satu kekuatan karya Taufiq Ismail terletak pada kemampuannya untuk terus hidup ketika berpindah medium. Misalnya dalam proses kreatif “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”, gagasan spiritual Chrisye bertemu dengan lirik Taufiq Ismail dan kemudian diperkuat melalui orkestrasi Erwin Gutawa.
Aransemen tersebut menggunakan pendekatan symphonic pop serta unsur paduan suara dan orkestrasi yang mampu memperkuat suasana khidmat karya. Proses kreatifnya bahkan berlangsung dalam suasana emosional yang sangat kuat, terutama ketika Chrisye mengalami kesulitan menyelesaikan rekaman vokalnya karena begitu menghayati materi lagu tersebut.
Karya itu kemudian direkam melalui rangkaian proses produksi di Jakarta, Melbourne, dan Sydney – Australia, sebelum dirilis dalam album Kala Cinta Menggoda pada Oktober 1997. Versi orkestranya kemudian kembali hadir pada Januari 2000.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa karya sastra tidak selalu berhenti sebagai teks tertulis. Ia dapat berpindah menjadi musik, pertunjukan, dan rekaman, dan kemudian kembali ditemukan oleh generasi berikutnya melalui teknologi digital. Dalam perspektif humaniora digital, keberlanjutan karya Taufiq Ismail justru terlihat dari kemampuannya berinteraksi dengan teks, musik, teknologi, dan masyarakat.
Pesan Universal: Manusia dan Pertanggungjawaban Moral
Lebih jauh, kekuatan “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” terletak pada pesan moral yang melampaui batas medium. Simbol “mulut”, “tangan”, “kaki”, “mata”, dan “hati” tidak sekadar merujuk pada bagian tubuh manusia, tetapi juga menjadi simbol tentang jejak tindakan dan pertanggungjawaban moral.
Dalam kajian tersebut, tubuh manusia bahkan dipahami sebagai semacam “arsip moral” yang merekam perjalanan tindakan manusia. Pesan ini membuat karya Taufiq Ismail tidak hanya relevan dalam konteks religius, tetapi juga dapat dibaca sebagai refleksi universal mengenai hubungan manusia dengan tindakan, tanggung jawab, dan konsekuensi moralnya.
Pada bagian akhir, karya tersebut bergerak dari suasana pengadilan dan kegelisahan menuju doa serta harapan. Dengan demikian, kesadaran tentang hari pertanggungjawaban tidak berhenti pada ketakutan, tetapi berkembang menjadi ajakan untuk melakukan refleksi, pertobatan, dan perbaikan kehidupan.
Dari Indonesia untuk Percakapan Dunia
Dalam konteks itulah, gagasan untuk mendukung Taufiq Ismail agar dapat memperoleh Nobel menjadi menarik untuk diperbincangkan. Bukan sekadar tentang penghargaan, melainkan tentang bagaimana karya sastra Indonesia dapat diperkenalkan sebagai bagian dari percakapan kebudayaan dunia.
Karya Taufiq Ismail memperlihatkan bahwa sastra Indonesia dapat berdialog dengan persoalan yang bersifat universal: kemanusiaan, moralitas, spiritualitas, tanggung jawab, dan pencarian makna kehidupan. Bahkan ketika medium berubah dari puisi menjadi musik, substansi reflektifnya tetap bertahan sekaligus memperoleh bentuk pengalaman baru.
Karena itu, dukungan terhadap Taufiq Ismail dapat dipandang sebagai bagian dari upaya memperluas apresiasi terhadap sastra Indonesia dan kontribusinya terhadap kebudayaan dunia.
RRI Membuka Ruang Dialog Publik
Melalui Obrolan Komunitas, RRI Surakarta tidak hanya menghadirkan perbincangan tentang seorang sastrawan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami kembali posisi sastra dalam kehidupan kebudayaan.
Program yang disiarkan melalui RRI Pro 1 Surakarta 101 FM tersebut menjadi ruang pertemuan antara dunia akademik, komunitas kesusastraan, kebudayaan, dan masyarakat luas. Masyarakat juga dapat mengikuti informasi dan siaran RRI Surakarta melalui kanal digital RRI.
Melalui forum semacam ini, gagasan tentang Taufiq Ismail dan Nobel dapat ditempatkan dalam percakapan yang lebih luas: bagaimana karya sastra Indonesia yang memiliki daya hidup, kedalaman nilai, serta kemampuan menyeberangi batas medium dan generasi dapat memperoleh apresiasi yang semakin luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Pada akhirnya, yang hendak diperjuangkan bukan hanya sebuah penghargaan, melainkan juga pengakuan terhadap kekayaan sastra Indonesia dan kontribusi para sastrawannya bagi peradaban.
Penulis: A. Yudha. W dan Izza Nindya Aulia
