Sengkuni, Durna, dan Kresna: Ketika Politik Menjadi Panggung Pewayangan
Oleh: Dr. Agoes Hendriyanto (Socio Cultura Indonesia)
Dalam dunia pewayangan, perebutan kekuasaan antara Pandawa dan Kurawa bukan semata-mata pertarungan di medan perang. Jauh sebelum senjata diangkat, pertempuran sesungguhnya telah berlangsung di balik layar. Ada strategi, bujuk rayu, pengaruh, kesetiaan, bahkan tipu daya. Di balik para tokoh yang tampil di panggung, selalu ada tangan yang membaca keadaan dan menentukan langkah berikutnya.
Sengkuni dan Durna menjadi dua tokoh yang kerap dipandang sebagai simbol kecerdikan politik sekaligus intrik kekuasaan. Keduanya berada di lingkungan Astina dan Kurawa, memainkan peran penting dalam mengarahkan keputusan dan membangun strategi menghadapi Pandawa. Mereka tidak selalu berada di garis depan pertempuran. Namun, gagasan dan pengaruhnya mampu mengubah arah pertarungan.
Di sisi lain, ada Kresna. Ia bukan sekadar tokoh yang hadir dengan kekuatan, tetapi tampil sebagai penasihat Pandawa. Kresna memahami bahwa perang tidak hanya dimenangkan oleh jumlah pasukan dan kekuatan senjata. Membaca karakter lawan, memahami situasi, memilih waktu, serta menentukan strategi menjadi bagian penting dari kemenangan.
Gambaran pewayangan tersebut menarik jika kita tarik ke panggung politik modern. Dalam setiap pertarungan politik, terutama menjelang pemilihan kepala daerah maupun pemilihan presiden, masyarakat sering kali hanya melihat tokoh yang muncul di depan layar. Padahal, di belakangnya terdapat jaringan komunikasi, strategi, penasihat, partai politik, relawan, elite, dan berbagai kepentingan yang ikut menentukan arah permainan.
Yang Diam Belum Tentu Kalah
Politik memiliki satu hukum yang sering tidak tertulis: yang paling banyak bicara belum tentu paling kuat, dan yang diam belum tentu tidak bekerja.
Ada kandidat yang hampir setiap hari tampil dalam berbagai kegiatan. Namanya muncul dalam banyak acara, foto beredar di media sosial, dan aktivitas publiknya semakin padat. Dari luar, ia tampak seperti kandidat yang sangat percaya diri dan seolah-olah tinggal menunggu waktu untuk mendapatkan tiket pencalonan.
Namun politik tidak sesederhana panggung yang terlihat oleh publik.
Di balik aktivitas tersebut bisa saja berlangsung komunikasi yang jauh lebih menentukan. Siapa yang sedang berkomunikasi dengan siapa? Siapa yang memperoleh dukungan? Siapa yang sedang menunggu keputusan? Siapa yang memiliki akses kepada pengambil keputusan? Dan yang paling penting: siapa yang akhirnya mendapatkan rekomendasi partai?
Di sinilah politik berbeda dengan sekadar popularitas.
Seseorang dapat sangat dikenal masyarakat, memiliki jabatan, mempunyai banyak kegiatan, bahkan merasa memiliki basis dukungan yang kuat. Namun sebelum rekomendasi partai berada di tangan, peta politik masih dapat berubah.
Rekomendasi: Tiket yang Mengubah Peta
Dalam proses pencalonan kepala daerah, rekomendasi partai menjadi salah satu instrumen penting. Kandidat yang sebelumnya terlihat unggul bisa tiba-tiba harus berhadapan dengan kenyataan politik yang berbeda ketika keputusan partai belum sesuai harapan.
Karena itu, sebelum rekomendasi resmi diterbitkan, tidak ada pertarungan yang benar-benar selesai.
Manuver politik pun bermunculan. Kandidat membangun komunikasi, melakukan pendekatan, menjaga hubungan dengan struktur partai, memperkuat jejaring, menunjukkan loyalitas, dan meyakinkan elite partai bahwa dirinya merupakan pilihan terbaik.
Di sinilah pengalaman politik menjadi penting.
Popularitas saja tidak cukup. Jabatan saja belum tentu cukup. Banyak kegiatan publik juga belum tentu menjadi jaminan. Partai memiliki pertimbangan sendiri dalam menentukan siapa yang akan diberi kepercayaan untuk maju.
Loyalitas kepada partai menjadi salah satu modal penting.
Seorang kandidat yang sebelumnya memperoleh jabatan politik melalui kendaraan partai tentu memiliki rekam jejak hubungan dengan partai yang dapat menjadi pertimbangan. Namun jabatan yang sedang diemban bukanlah jaminan otomatis untuk memperoleh tiket berikutnya.
Politik selalu menyediakan ruang bagi perubahan.
Dalang Tidak Selalu Terlihat
Dalam pewayangan, penonton melihat tokoh-tokoh bergerak di atas panggung. Namun ada satu sosok yang tidak pernah menjadi bagian dari cerita secara langsung, tetapi menentukan gerakan seluruh wayang: dalang.
Analogi ini sering digunakan untuk menggambarkan bagaimana strategi politik bekerja.
Dalang tidak harus muncul di depan. Ia cukup membaca situasi dan menggerakkan tokoh sesuai skenario yang dianggap paling tepat. Dalam politik modern, peran tersebut bisa dimainkan oleh elite partai, penasihat politik, tim sukses, pengusaha, tokoh masyarakat, konsultan, atau jaringan politik yang bekerja di balik layar.
Tetapi politik tentu tidak selalu identik dengan kelicikan.
Ada pula strategi yang dibangun melalui komunikasi, konsolidasi, kesabaran, dan kemampuan membaca kepentingan berbagai pihak. Karena itu, tokoh Kresna menjadi simbol menarik. Ia mengajarkan bahwa kecerdasan politik bukan semata-mata bagaimana mengalahkan lawan, tetapi bagaimana membaca keadaan dan menentukan langkah yang tepat.
Panggung Politik dan Kesadaran Rakyat
Pilkada pada akhirnya bukan hanya pertarungan antarkandidat. Ia merupakan pertarungan gagasan, jaringan, kendaraan politik, popularitas, loyalitas, dan kemampuan membangun kepercayaan masyarakat.
Masyarakat sering melihat panggungnya, tetapi tidak selalu mengetahui apa yang terjadi di belakang panggung.
Ada kandidat yang sibuk membangun citra. Ada yang memilih diam dan menunggu momentum. Ada yang melakukan konsolidasi tanpa banyak publikasi. Ada pula yang terlalu cepat merasa telah mendapatkan tiket, padahal keputusan akhir belum berada di tangannya.
Karena itu, dalam politik berlaku sebuah ungkapan sederhana: sebelum rekomendasi berada di tangan, semua kemungkinan masih terbuka.
Sengkuni mengajarkan bagaimana intrik dapat bekerja. Durna memperlihatkan bagaimana pengaruh dan kepentingan dapat membentuk keputusan. Kresna mengajarkan pentingnya strategi, kecerdasan membaca situasi, dan kesabaran dalam menghadapi pertarungan.
Ketiganya menjadi simbol bahwa politik tidak hanya berbicara mengenai siapa yang tampil di depan panggung. Politik juga berbicara tentang siapa yang menyusun strategi, siapa yang memengaruhi keputusan, siapa yang mampu bertahan dalam permainan, dan siapa yang akhirnya memperoleh kepercayaan rakyat.
Pada akhirnya, rakyatlah yang menjadi penonton sekaligus penentu akhir pertunjukan. Dalang boleh menyusun skenario, tokoh politik boleh memainkan strategi, partai boleh menentukan rekomendasi. Tetapi ketika hari pemungutan suara tiba, kotak suara menjadi panggung terakhir tempat seluruh strategi diuji.
Dan di panggung terakhir itu, tidak ada Sengkuni, Durna, maupun Kresna yang dapat menggantikan suara rakyat.
