Setetes Tinta untuk Pacitan: Menjelang Purna Tugas, Meninggalkan Jejak Lewat Buku
Oleh: Amat Taufan
“Bismillah… Inna la ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.”
Kalimat tauhid itu menjadi pembuka sebuah ungkapan syukur yang lahir dari lubuk hati. Bukan sekadar rangkaian kata, tetapi sebuah refleksi perjalanan panjang seorang aparatur sipil negara yang menjelang purna tugas ingin meninggalkan sesuatu yang dapat dikenang dan bermanfaat.
Bukan harta, bukan pula jabatan yang hendak diwariskan. Hanya “setetes tinta” yang dituangkan dalam bentuk buku.
Menjelang purna tugas sebagai PNS/ASN, sebuah capaian sederhana namun bermakna berhasil diraih. Buku ketujuh telah lahir. Dari sejumlah karya yang telah ditulis, enam buku telah memperoleh ISBN dan HKI. Karya-karya tersebut sebagian besar diarahkan untuk merekam, mendokumentasikan, dan memperkuat pengetahuan tentang bumi tlatah Kabupaten Pacitan yang dicintai.
Di balik setiap buku terdapat perjalanan yang panjang. Ada penelusuran, membaca arsip, menggali cerita, berdialog dengan masyarakat, mencatat pengetahuan lokal, hingga merangkai kembali serpihan sejarah dan kebudayaan yang mungkin selama ini hanya hidup dalam ingatan masyarakat.
Buku kemudian menjadi ruang untuk menyimpan ingatan itu.
Sebab sejarah tidak selalu hadir dalam dokumen yang rapi. Ada sejarah yang hidup dalam tutur orang tua, tradisi masyarakat, peninggalan leluhur, nama tempat, cerita desa, seni pertunjukan, hingga kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itulah, lahir sebuah kesadaran bahwa menulis tentang Pacitan berarti ikut menjaga ingatan Pacitan.
Dari Banyak Tangan, Menjadi Sebuah Karya
Lahirnya buku-buku tersebut bukanlah perjalanan seorang diri. Di baliknya terdapat banyak tangan, pikiran, dan hati yang ikut memberikan dukungan.
Ucapan terima kasih pun disampaikan kepada Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji beserta Forkopimda, para kepala organisasi perangkat daerah, camat, kepala desa dan lurah, jajaran PC NU, tokoh masyarakat, Pemuda Ansor, alim ulama, para penulis seperti Dr. Agoes Hendriyanto dan kawan-kawan, keluarga besar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, komunitas, serta seluruh masyarakat Pacitan.
Mereka adalah bagian dari perjalanan panjang sebuah karya.
Ada yang memberikan informasi. Ada yang membuka akses. Ada yang menceritakan sejarah. Ada yang menunjukkan lokasi. Ada yang menyimpan arsip. Ada pula yang sekadar memberikan semangat agar kegiatan menulis terus berjalan.
Semua kontribusi tersebut pada akhirnya bertemu dalam satu bentuk: buku.
Buku yang mungkin tidak sempurna, tetapi diharapkan dapat menjadi pintu bagi generasi berikutnya untuk mengenal tanah kelahirannya.
Sejarah dan Setetes Kebenaran
Ada sebuah filosofi leluhur yang menjadi renungan:
“Tulisan sejarah milik para pemenang. Tapi adakalanya sejarah ditulis oleh orang yang benar.”
Kalimat itu mengandung pesan mendalam. Sejarah tidak cukup hanya ditulis karena siapa yang memiliki kekuasaan untuk menuliskannya. Sejarah juga membutuhkan keberanian untuk mencari, memeriksa, dan menyampaikan kebenaran berdasarkan jejak yang tersedia.
Karena itu, menulis sejarah dan kebudayaan bukan hanya persoalan merangkai kata. Ada tanggung jawab moral untuk menjaga agar cerita tentang masa lalu tidak hilang, tidak terputus, dan tidak sepenuhnya bergantung pada ingatan lisan.
Di sinilah buku memiliki peran penting.
Buku menjadi semacam jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Apa yang hari ini ditulis dapat dibaca anak-anak Pacitan bertahun-tahun kemudian. Apa yang hari ini dianggap biasa, suatu ketika mungkin menjadi sumber penting untuk memahami identitas masyarakat.
Ilmu sebagai Cahaya
Bagi penulis, ilmu bukan sekadar kumpulan pengetahuan. Ilmu dimaknai sebagai pancaran cahaya Ilahi.
Ketika ilmu dituangkan dalam kitab dan buku, cahaya itu diharapkan terus menyinari siapa pun yang membaca, memahami, dan meyakininya.
Karena itu, buku tidak semestinya berhenti di rak perpustakaan. Buku harus dibaca. Buku harus menjadi bahan belajar. Buku harus membuka percakapan. Dan yang paling penting, buku harus memberikan manfaat.
Harapan itulah yang disampaikan menjelang purna tugas: semoga karya-karya yang telah dihasilkan dapat menjadi bahan pelajaran dan pembelajaran bagi anak-anak bangsa, khususnya generasi penerus di masa mendatang.
Sebuah buku mungkin hanya terdiri dari halaman-halaman yang dipenuhi tulisan. Namun di dalamnya tersimpan ingatan, pengalaman, pengetahuan, dan harapan.
Menutup Pengabdian dengan Warisan Pengetahuan
Purna tugas bukan berarti berakhirnya pengabdian.
Jabatan boleh selesai. Ruang kerja boleh ditinggalkan. Rutinitas sebagai ASN boleh berakhir. Tetapi jejak pemikiran dan pengetahuan masih dapat terus berjalan melalui tulisan.
Tujuh buku menjadi saksi perjalanan tersebut. Enam di antaranya telah memperoleh ISBN dan HKI. Angka itu mungkin bukan ukuran utama keberhasilan, tetapi menjadi penanda bahwa setetes tinta yang dituangkan dengan ketekunan dapat berubah menjadi karya yang memiliki jejak administratif, akademik, dan kebudayaan.
Pada akhirnya, yang diharapkan bukanlah pujian.
Yang diharapkan adalah kebermanfaatan.
Agar suatu hari seorang anak Pacitan membuka salah satu buku tersebut dan menemukan cerita tentang tanah kelahirannya. Agar seorang mahasiswa menemukan bahan penelitian. Agar masyarakat kembali mengenali tradisinya. Agar generasi muda memahami bahwa Pacitan memiliki sejarah dan kebudayaan yang layak dibanggakan.
Dan agar pengetahuan yang pernah hidup di tengah masyarakat tidak hilang bersama pergantian zaman.
“Mugio Gusti Allah SWT paring berkahipun teng Engsun, keluarga lan penerusipun Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, bumi langit sak isinipun rahayu, kalis ing sambikala, lestari sak lami-laminipun.”
Doa itu menjadi penutup sekaligus harapan: semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan keberkahan kepada diri, keluarga, para penerus perjuangan, serta seluruh bumi dan isinya.
Sebab pada akhirnya, setetes tinta yang ditulis dengan ketulusan dapat menjadi jejak panjang yang melampaui usia penulisnya.
Dan mungkin, itulah salah satu cara paling sederhana untuk mengatakan:
“Saya pernah mengabdi. Saya pernah menulis. Dan saya ingin Pacitan tetap mengingat.”
