Socio Cultura Indonesia Siapkan Dua Karya Monumental, Bersiap Luncurkan Ensiklopedia Peradaban dan Rekonstruksi Beskap Ber-HKI

Socio Cultura Indonesia Siapkan Dua Karya Monumental, Bersiap Luncurkan Ensiklopedia Peradaban dan Rekonstruksi Beskap Ber-HKI
Socio Cultura Indonesia Siapkan Dua Karya Monumental, Bersiap Luncurkan Ensiklopedia Peradaban dan Rekonstruksi Beskap Ber-HKI
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, PACITANLSM Socio Cultura Indonesia kembali menunjukkan kiprahnya sebagai motor penggerak pelestarian sejarah, budaya, dan literasi di Kabupaten Pacitan. Melalui forum diskusi yang berlangsung di Cafe Literasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Selasa (4/8/2026), organisasi yang dipimpin dan diperkuat oleh kalangan akademisi serta budayawan tersebut mematangkan agenda peluncuran dua karya monumental yang diyakini akan memperkaya khazanah kebudayaan Pacitan.

Diskusi yang dipimpin Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Amat Taufan, menghadirkan Dr. Agoes Hendriyanto, akademisi, budayawan, sekaligus tokoh Socio Cultura Indonesia. Pertemuan tersebut membahas langkah strategis peluncuran “Ensiklopedia Pacitan Misteri IV: Torehan Peradaban Pacitanian” serta pengembangan karya “Rekonstruksi Desain Beskap Pacitan Awal Abad XX Berbasis Arsip Fotografi Kolonial Leiden Belanda” yang telah resmi memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Baca Juga  Rakernas 2023, Jaksa Agung Pentingnya Core Values dan Employer Branding

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial, budaya, penelitian, dan literasi, Socio Cultura Indonesia selama ini konsisten melakukan inventarisasi, dokumentasi, penelitian, hingga publikasi berbagai kekayaan sejarah dan budaya Pacitan. Organisasi ini memandang bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan aset strategis yang harus dilindungi, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang melalui pendekatan ilmiah dan inovatif.

Keberhasilan memperoleh HKI atas rekonstruksi Beskap Pacitan menjadi salah satu bukti nyata komitmen Socio Cultura Indonesia dalam mengangkat identitas budaya lokal ke tingkat nasional. Rekonstruksi tersebut lahir dari penelitian mendalam terhadap arsip fotografi kolonial di Leiden, Belanda, sehingga menghadirkan kembali busana khas Pacitan awal abad ke-20 sebagai bagian dari penguatan jati diri budaya daerah.

Baca Juga  Festival Jaranan Jawa Khas Kediri: Melestarikan Seni dan Kebudayaan Tradisional dalam Keberagaman

Tidak berhenti pada pelindungan karya budaya, Socio Cultura Indonesia juga tengah menyiapkan peluncuran “Ensiklopedia Pacitan Misteri IV: Torehan Peradaban Pacitanian”, sebuah karya yang mengupas jejak-jejak peradaban Pacitan melalui pendekatan sejarah, arkeologi, antropologi, dan budaya. Buku ini diharapkan menjadi referensi penting bagi akademisi, peneliti, pelajar, pemerintah, hingga masyarakat umum dalam memahami perjalanan panjang peradaban Pacitan.

Agenda besar berikutnya adalah peluncuran buku “Potret Pacitan: Alam, Demografi, dan Dinamika Budaya”, yang akan melengkapi dokumentasi ilmiah mengenai kekayaan geografis, sosial, dan budaya Kabupaten Pacitan. Kedua buku tersebut direncanakan diluncurkan secara bertahap, diawali pada September atau Oktober 2026, sebagai bagian dari gerakan literasi budaya yang diinisiasi Socio Cultura Indonesia bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan.

Baca Juga  Kontroversi Seleksi Anggota Dewan Pers di Tengah Varian Omicron

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Amat Taufan, mengapresiasi peran Socio Cultura Indonesia dalam membangun ekosistem literasi sejarah di daerah. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan pegiat budaya merupakan fondasi penting untuk menjaga memori kolektif masyarakat sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah arus globalisasi.

Melalui berbagai riset, publikasi, dan karya yang telah memperoleh pengakuan hukum, Socio Cultura Indonesia semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu lembaga yang konsisten mengawal pelestarian sejarah dan kebudayaan Pacitan. Gerakan ini diharapkan mampu menjadikan Pacitan tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga sebagai daerah yang memiliki kekayaan peradaban, tradisi, dan pengetahuan lokal yang terdokumentasi secara ilmiah serta diakui secara nasional.

Karya Rekonstruksi Beskap Pacitan Berbasis Arsip Kolonial Resmi Kantongi Hak Cipta (Dana Indonesiana 2025)
Dana Indonesiana 2025: Ketika Ribuan Gagasan Budaya Menemukan Ruang Tumbuh