Aang Wiyatmoko, Dalang Asal Jatigunung Tulakan yang Kiprahnya Melejit di Solo Raya
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Pacitan tidak hanya dikenal dengan bentang alamnya yang indah dan jejak sejarahnya yang panjang. Kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur ini juga melahirkan sejumlah seniman yang kiprahnya berkembang hingga ke luar daerah. Salah satunya adalah Aang Wiyatmoko, S.Sn., seniman dan dalang asal Jatigunung, Kecamatan Tulakan, Pacitan.
Pria yang kini berusia 42 tahun tersebut saat ini berdomisili di Banyu Urip, Jeruk Sawit, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dari tanah kelahirannya di Pacitan, Aang menapaki perjalanan panjang di dunia pedalangan hingga mengembangkan kiprahnya di kawasan Solo Raya.
Bakat seni Aang telah terlihat sejak masih duduk di bangku sekolah. Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, ia melanjutkan pendidikan ke SMK Negeri 8 Surakarta (SMKI Solo) dengan mengambil jurusan Pedalangan.
Kecintaannya terhadap dunia pedalangan kemudian berlanjut ke jenjang pendidikan tinggi. Aang melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, juga pada jurusan Pedalangan, hingga berhasil menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar Sarjana Seni (S.Sn.).
Berguru kepada Dalang Besar
Sebagai calon seniman profesional, Aang tidak berhenti pada pendidikan formal. Ia terus mengasah kemampuan pedalangannya melalui proses berguru kepada sejumlah seniman dan dalang berpengalaman.
Salah satu sosok yang menjadi mentornya adalah Ki Purbo Asmoro, dalang kondang asal Dersono, Pacitan, yang juga merupakan dosen ISI Surakarta dan menetap di Solo. Selain itu, Aang juga pernah mendapatkan gemblengan seni dari almarhum B. Subono di Padepokan Seni Nurroso.
Proses belajar yang panjang tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Aang mengembangkan kemampuan sebagai dalang. Baginya, pedalangan bukan sekadar kemampuan memainkan wayang dan membawakan cerita, tetapi merupakan proses belajar yang terus berlangsung melalui pengalaman, komunitas, dan interaksi dengan para seniman.
Pengalaman Aang di bidang pedalangan juga diwujudkan melalui aktivitas mengajar dan melatih generasi muda. Salah satu anak didik yang pernah mendapatkan bimbingannya adalah Gandang Gondo Waskitho dari Karangnongko, Kebonagung, Pacitan.
Di bawah bimbingannya, Gandang Gondo Waskitho berhasil meraih Juara Umum Festival Dalang Bocah Nasional (FDN) 2018. Prestasi tersebut menjadi salah satu catatan yang menunjukkan kontribusi Aang dalam membina generasi muda pedalangan sekaligus membawa nama Pacitan dalam panggung seni pedalangan nasional.
Si Dalang Kenthir
Di kalangan komunitas seni, Aang dikenal sebagai sosok yang memiliki karakter dan gaya tersendiri. Julukan “Dalang Kenthir” melekat dalam perjalanan keseniannya.
Pada usia 42 tahun, Aang terus mengembangkan cita-citanya untuk menjadi dalang profesional. Dalam perjalanan tersebut, ia mengidolakan dua tokoh besar pedalangan, yakni Ki Purbo Asmoro dan almarhum Ki Manteb Soedarsono.
Perjalanan berkesenian Aang semakin luas karena ia aktif bergabung dengan berbagai komunitas seni. Di antaranya Nurrroso Solo, Sekar Budaya Nusantara, Padneçwara, Matah Ati, WO Kautaman, Sanggar Bima, Madhangkara, Jancukers (Sujiwo Tejo), Laras Jiwa Nusantara, dan sejumlah komunitas seni lainnya.
Keterlibatan dalam berbagai komunitas tersebut memberikan ruang bagi Aang untuk memperluas pengalaman, jaringan, sekaligus mengembangkan kreativitasnya sebagai seniman pedalangan.
Tidak hanya aktif sebagai dalang dan pelaku seni, Aang juga memiliki perhatian terhadap pendidikan seni. Saat ini ia aktif mengajar pada Jurusan Pedalangan SMKN 8 Surakarta (SMKI Solo). Aktivitas tersebut sekaligus menjadi bagian dari upayanya mewariskan pengetahuan dan keterampilan pedalangan kepada generasi penerus.
Pacitan dan Para Senimannya
Menurut Suyadi, S.Pd., M.Pd., Pacitan sebenarnya memiliki banyak seniman yang kiprahnya telah dikenal di luar daerah.
“Banyak seniman kondang asal Pacitan seperti Ki Purbo Asmoro, Wigung Wratsongko, Ki Sigit, termasuk juga Aang Wiyatmoko,” jelas Suyadi.
Sementara itu, sejumlah seniman yang masih menetap dan berkarya di Pacitan antara lain Ki Fajar Arianto, Ki Nardi Carito Mudho, serta dagelan kondang Kabul Sucipto atau Gareng Pacitan.
Menurut Suyadi, keberadaan para seniman tersebut menunjukkan bahwa Pacitan memiliki sumber daya budaya yang patut mendapatkan perhatian. Potensi tersebut tidak hanya berupa seni pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan kekayaan budaya masyarakat Pacitan.
“Selain destinasi wisata alam yang memukau dan peninggalan bersejarah, Pacitan banyak mencetak pemimpin nasional, seniman kondang, dan olahragawan berprestasi di tingkat ASEAN,” ujar Suyadi.
Karena itu, masyarakat Pacitan, menurutnya, patut mengenal dan memberikan apresiasi kepada putra-putra daerah yang berkarya dan mengharumkan nama Pacitan di luar daerah.
Para seniman yang telah berkembang di luar Pacitan juga diharapkan suatu saat dapat kembali hadir dan tampil di tanah kelahirannya. Kehadiran mereka bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Pacitan untuk berani mengembangkan potensi dan berkarya di tingkat nasional.
Perjalanan Aang Wiyatmoko menjadi salah satu contoh bahwa bakat yang tumbuh dari daerah dapat berkembang luas ketika mendapatkan pendidikan, bimbingan, pengalaman, dan ruang berkesenian.
Dari Jatigunung, Tulakan, Pacitan, Aang terus menapaki perjalanan sebagai dalang dan pendidik seni di Solo Raya. Kiprahnya menjadi bagian dari cerita panjang putra daerah yang membawa identitas Pacitan melalui jalur kebudayaan.
Lestari Budayaku, Jayalah Pacitanku.
Penulis: Suyadi, M.Pd.
