Erik Comel, Pemuda Ngrayun Penggebrak Langen Tayub Ponorogo
PRABANGKARANEWS.COM, PONOROGO – Dari kawasan perbukitan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, muncul sosok muda yang turut menggerakkan perkembangan seni Langen Tayub. Ia adalah Erik Dadang Widarto, atau akrab disapa Erik Comel, pemuda berusia 25 tahun asal Dusun Ngembel, Desa Baosanlor, Kecamatan Ngrayun.
Ngrayun merupakan salah satu kecamatan di ujung selatan Kabupaten Ponorogo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pacitan dan Trenggalek. Di kawasan perbukitan tersebut, seni tradisi Jawa terus tumbuh dan menemukan generasi penerusnya.
Erik Comel merupakan salah satu di antara generasi muda yang memilih menekuni dan mengembangkan Langen Tayub. Putra Januri, seorang pegiat seni, ini telah menunjukkan bakat kesenian sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Menariknya, kemampuan Erik dalam seni tari tidak diperoleh melalui pendidikan formal di sekolah seni. Ia belajar secara otodidak dan mengembangkan kemampuannya melalui pengalaman, latihan, serta keterlibatan langsung dalam dunia seni pertunjukan.
Gerak tari yang lemah gemulai, luwes, dan mampu membangun komunikasi dengan penonton menjadi salah satu ciri penampilannya. Kemampuan tersebut membuat Erik tidak hanya dikenal sebagai pelaku seni, tetapi juga dipercaya sejumlah kelompok Langen Tayub sebagai mentor dan pelatih.

Namanya semakin dikenal setelah Group Lintang Jagad Baosanlor, Kecamatan Ngrayun, yang dilatihnya berhasil meraih Juara Umum Festival Langen Tayub Kabupaten Ponorogo 2026 yang digelar di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong.
Prestasi tersebut turut membuka ruang lebih luas bagi Erik untuk berbagi kemampuan dengan kelompok-kelompok Langen Tayub lainnya. Sejumlah grup dari berbagai wilayah bahkan mengundangnya menjadi pelatih, termasuk dari Kabupaten Trenggalek.
Padatnya permintaan membuat Erik harus pandai mengatur jadwal latihan. Kegiatan latihan umumnya berlangsung pada malam hari setelah para anggota kelompok menyelesaikan aktivitas masing-masing.
Puluhan kelompok yang pernah dilatihnya juga telah menyelesaikan proses latihan dan menggelar gebyakan, sebuah istilah yang digunakan untuk menandai puncak atau kelulusan proses belajar dalam kelompok seni tersebut.
Perkembangan Langen Tayub tidak hanya terjadi di Ngrayun. Seni ini juga berkembang di Kecamatan Slahung, Ponorogo. Salah satu agenda yang menjadi ruang pertemuan dan pertunjukan seni adalah kegiatan setiap malam Minggu di Carranta Garden, Slahung.
Dalam perkembangannya, jaringan pembelajaran seni tersebut melibatkan sejumlah mentor muda. Salah satunya Mas Kabul, murid Erik Comel, yang kemudian berkolaborasi dengan Mas Topan Gondrong, mentor Langen Tayub dari Pacitan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pelestarian seni tradisi tidak selalu berjalan melalui lembaga formal. Transfer pengetahuan juga berlangsung melalui hubungan antara mentor, murid, kelompok seni, dan masyarakat pendukungnya.
Bagi Erik, keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan seni budaya Jawa. Ia berharap anak-anak muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengambil bagian dalam menjaga kesenian tradisional yang sarat dengan nilai dan makna kehidupan.
Ia juga berharap Pemerintah Kabupaten Ponorogo memberikan perhatian terhadap perkembangan Langen Tayub yang saat ini semakin diminati masyarakat.
Menurutnya, Langen Tayub merupakan bentuk hiburan yang relatif murah, dekat dengan masyarakat, serta mampu menjangkau berbagai pelosok desa. Karena itu, keberadaannya dapat menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk berkesenian sekaligus menjaga keberlanjutan budaya Jawa.
Di tengah perkembangan hiburan modern, munculnya sosok seperti Erik Comel menunjukkan bahwa seni tradisi masih memiliki ruang di kalangan generasi muda. Tantangannya adalah bagaimana kemampuan personal seorang seniman dapat berkembang menjadi gerakan kebudayaan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Dari Ngrayun, Erik Comel terus bergerak. Melatih, menari, dan mentransmisikan pengetahuan seni kepada generasi berikutnya.
Sebuah semangat yang ia rangkum dalam slogan:
“Manunggal Ngupadi Luhuring Budi, Lestarikan Budaya Jawa.”
Penulis: Suyadi, M.Pd.
