Ketua PGRI Jatim: Museum dan Galeri SBY-Ani Cocok Jadi Ruang Edukasi Pelajar
PRABANGKARANEWS.COM, Pacitan — Ketua PGRI Jawa Timur, Dr. H. Djoko Adi Waluyo, S.T., M.M., menyempatkan diri mengunjungi Museum dan Galeri Seni SBY-Ani di kawasan Jalur Lintas Selatan (JLS), Ploso, Pacitan, Rabu (16/9/2026), setelah mengikuti kegiatan wisuda sarjana STKIP PGRI Pacitan.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi Djoko untuk mengamati secara langsung fasilitas museum dan galeri yang menyimpan berbagai dokumentasi perjalanan kehidupan serta karya seni yang berkaitan dengan Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan almarhumah Ani Yudhoyono.
Kepada jurnalis Prabangkaranews.com, Djoko menyampaikan bahwa keberadaan Museum dan Galeri Seni SBY-Ani memiliki potensi besar sebagai sarana edukasi bagi peserta didik.
Menurutnya, museum tidak hanya dapat menjadi tempat wisata, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran di luar kelas bagi siswa mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK), hingga jenjang pendidikan menengah.
“Ini sangat cocok untuk edukasi siswa. Anak-anak bisa mendapatkan pengalaman pembelajaran secara langsung dengan melihat koleksi, dokumentasi, dan suasana museum,” ujarnya.
Belajar Sejarah dan Seni di Luar Kelas
Djoko melihat museum dan galeri memiliki fungsi penting dalam memperkaya pengalaman belajar peserta didik.
Kunjungan ke museum memungkinkan siswa memperoleh pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran yang hanya berlangsung di ruang kelas. Mereka dapat melihat secara langsung berbagai benda, foto, karya seni, serta dokumentasi yang dapat menjadi bahan untuk memahami sejarah dan kehidupan sosial.
Dalam konteks pendidikan, museum juga dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan mendorong siswa mengenal perjalanan sejarah bangsa melalui pengalaman visual dan langsung.
“Anak-anak perlu dikenalkan dengan museum sejak dini. Dengan melihat langsung, mereka akan lebih mudah memahami dan mengingat apa yang dipelajari,” tambahnya.
Mengamati Nuansa Biru dan Merah
Selain aspek edukasi, Djoko juga memberikan perhatian terhadap desain dan nuansa visual yang terdapat di kompleks Museum dan Galeri Seni SBY-Ani.
Ia mengamati penggunaan warna biru dan merah yang cukup menonjol dalam berbagai bagian museum dan galeri.
Menurut pengamatannya, pemilihan warna tersebut menjadi bagian dari karakter visual yang kuat dalam museum dan galeri.
Nuansa biru dan merah memberikan identitas tersendiri pada ruang pamer sekaligus menciptakan pengalaman visual bagi pengunjung.
Bagi Djoko, museum yang memiliki karakter visual dan narasi yang kuat akan lebih mudah menarik perhatian peserta didik, terutama ketika kunjungan dikemas sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran.
Tiket Pelajar Menjadi Perhatian
Di sisi lain, Djoko juga memberikan masukan mengenai harga tiket masuk bagi pelajar.
Menurutnya, Museum dan Galeri Seni SBY-Ani akan semakin optimal dalam menjalankan fungsi edukasinya apabila akses bagi kalangan pelajar dapat dibuat lebih terjangkau.
Ia berharap terdapat pertimbangan khusus untuk tiket pelajar sehingga siswa dari berbagai jenjang pendidikan dapat memperoleh kesempatan lebih luas untuk mengunjungi museum.
“Kalau khusus pelajar, kalau bisa tiketnya diturunkan, sehingga anak-anak bisa lebih banyak menikmati nuansa edukasi di museum dan galeri,” ungkapnya.
Menurutnya, kebijakan harga khusus pelajar dapat menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap wisata edukasi dan pembelajaran berbasis pengalaman.
Terlebih, keberadaan museum dan galeri di Pacitan dapat menjadi salah satu destinasi yang menghubungkan sektor pendidikan, sejarah, seni, dan pariwisata.
Museum sebagai Investasi Pendidikan
Kunjungan Ketua PGRI Jawa Timur tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa museum memiliki ruang yang besar dalam pengembangan pendidikan.
Bagi dunia pendidikan, museum dapat berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran yang menghadirkan pengalaman nyata kepada siswa.
Sementara bagi daerah, museum dapat menjadi bagian dari ekosistem wisata edukasi yang mempertemukan sejarah, seni, budaya, dan pembelajaran.
Museum dan Galeri Seni SBY-Ani diharapkan tidak hanya menjadi tujuan wisata masyarakat umum, tetapi juga semakin banyak dikunjungi sekolah-sekolah dari Pacitan maupun daerah lain.
Dengan akses yang ramah pelajar dan program kunjungan edukatif yang terarah, museum dapat menjadi ruang belajar alternatif yang memperkaya pengalaman generasi muda.
Dari ruang kelas menuju museum, dari buku menuju pengalaman nyata—sejarah pun dapat dipelajari dengan cara yang lebih dekat dan bermakna.
