Pompanisasi Listrik Hidupkan Tanam Ketiga, Petani Kembang Pacitan Panen Harapan
PRABANGKARANEWS.COM, Pacitan, 11 September 2026 — Ketika sejumlah wilayah di Kabupaten Pacitan mulai menghadapi persoalan kekurangan air pada September, para petani di Desa Kembang, Kecamatan Pacitan, justru menunjukkan wajah berbeda. Hamparan sawah tetap menghijau dan aktivitas pertanian terus berjalan berkat pemanfaatan pompanisasi dengan tenaga listrik.
Air yang dipompa untuk mengairi lahan memberikan kesempatan kepada petani Kembang untuk melakukan tanam ketiga. Tidak lagi bergantung sepenuhnya pada datangnya hujan, petani memanfaatkan ketersediaan air untuk menanam berbagai tanaman palawija, seperti jagung, kedelai, dan kacang tanah.
Jurnalis yang menyambangi wilayah pertanian Desa Kembang, Jumat (11/9/2026), melihat hamparan tanaman palawija tumbuh subur di lahan sawah yang membentang hingga ratusan hektare. Warna hijau tanaman menjadi pemandangan yang kontras dengan kondisi sejumlah wilayah lain yang mulai merasakan keterbatasan air.
Jagung Dua Bulan Sudah Bisa Dijual
Salah satu komoditas yang menarik perhatian adalah jagung untuk pakan ternak. Petani tidak harus menunggu sampai tanaman mencapai usia panen tua. Jagung yang ditanam untuk kebutuhan pakan ternak tersebut pada usia sekitar dua bulan sudah dapat dijual kepada pedagang atau penjual pakan ternak.

Komoditas tersebut juga memiliki pasar tersendiri. Selain diserap oleh penjual pakan ternak, jagung dapat dipasarkan melalui pasar hewan, mengikuti kebutuhan pakan bagi peternak.
Dari satu petak lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi, hasil penjualan jagung dapat mencapai sekitar Rp2,5 juta. Nilai tersebut menjadi tambahan pendapatan sekaligus memberikan motivasi kepada petani untuk terus mengoptimalkan lahan yang dimiliki.
Bagi petani Kembang, keberadaan pompanisasi bukan hanya persoalan memperoleh air. Ketersediaan air membuka peluang agar lahan sawah tetap produktif meskipun memasuki periode yang biasanya mulai mengalami keterbatasan air.
Kedelai dan Kacang Tanah Tumbuh Subur
Selain jagung, hamparan lahan pertanian di Desa Kembang juga dipenuhi tanaman kedelai dan kacang tanah. Pertumbuhan tanaman terlihat subur di tengah kondisi musim yang mulai menantang bagi sektor pertanian.
Keberagaman tanaman tersebut menunjukkan kemampuan petani dalam menyesuaikan pola tanam dengan kondisi lahan dan ketersediaan air. Palawija menjadi pilihan yang memberikan peluang ekonomi sekaligus menjaga agar lahan pertanian tidak berhenti berproduksi.
Ratusan hektare hamparan sawah yang tetap dimanfaatkan untuk budidaya menjadi gambaran bagaimana teknologi sederhana berupa pompanisasi dapat memberikan dampak besar terhadap aktivitas pertanian masyarakat.
Air yang tersedia kemudian diolah menjadi produktivitas. Lahan yang sebelumnya menghadapi keterbatasan air dapat kembali ditanami, sementara petani memperoleh kesempatan menambah pendapatan dari hasil pertanian.
Keuletan Petani Menjadi Modal Ketahanan Pangan
Apa yang terjadi di Desa Kembang memperlihatkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun melalui program besar, tetapi juga melalui keuletan petani dalam mengelola sumber daya yang tersedia.
Pompanisasi dengan tenaga listrik menjadi salah satu pendukung, tetapi keberhasilan tanam ketiga juga ditentukan oleh kemauan petani untuk terus mengolah lahan, memilih komoditas yang sesuai, dan mencari pasar bagi hasil produksinya.
Di tengah perubahan kondisi iklim dan ketidakpastian ketersediaan air, kemampuan petani untuk beradaptasi menjadi semakin penting. Ketika wilayah lain mulai menghadapi kekurangan air, petani Kembang masih mampu mempertahankan produktivitas lahannya.
Hamparan jagung, kedelai, dan kacang tanah bukan sekadar pemandangan hijau di tengah musim kering. Di baliknya terdapat kerja keras, keberanian mengambil peluang, serta kemampuan petani membaca kondisi lingkungan dan pasar.
Tanam ketiga pun bukan hanya soal mengejar hasil panen. Ia menjadi simbol kegigihan petani Kembang mempertahankan produktivitas lahan dan membangun ketahanan pangan dari tingkat desa.
Jika kemampuan tersebut terus didukung dengan pengelolaan air yang baik, teknologi pertanian, akses pasar, dan pendampingan, Desa Kembang memiliki modal kuat untuk mempertahankan pertanian sebagai sumber penghidupan masyarakat.
Selain jagung, kedelai, dan kacang tanah, pompa listrik juga dimanfaatkan sebagian petani Kembang untuk tanam padi pada musim tanam ketiga. Ketersediaan air dari pompanisasi membuat lahan sawah tetap produktif meskipun memasuki musim kemarau. Pilihan menanam padi menjadi strategi petani untuk mengoptimalkan lahan sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi dari komoditas pangan yang masih memiliki nilai jual.
Secara ekonomis, tanam padi ketiga cukup menjanjikan apabila produktivitas dan biaya produksinya dapat dikelola dengan baik. Dengan harga gabah sekitar Rp6.500 per kilogram, hasil panen dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan pompa listrik bukan hanya menjaga lahan tetap menghasilkan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat Desa Kembang
Dari Kembang, Pacitan, sebuah pesan sederhana muncul: ketika air dikelola dengan baik dan petani tetap ulet bekerja, keterbatasan musim bukan alasan untuk berhenti menanam.
