Secangkir Kopi, Sejuta Gagasan: Merancang Maha Karya Pacitan Kota Misteri
PRABANGKARANEWS.COM, Pacitan — Secangkir kopi ternyata tidak sekadar menjadi teman berbincang. Di Cafe Literasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Selasa (12/9/2026), kopi menjadi pembuka lahirnya gagasan besar tentang masa depan literasi budaya Pacitan.
Diskusi coffee morning tersebut mempertemukan sejumlah tokoh yang memiliki perhatian terhadap sejarah, budaya, literasi, dan masa depan Pacitan. Tema yang diangkat adalah persiapan Focus Group Discussion (FGD) II sekaligus pengembangan penulisan buku Pacitan Kota Misteri.
Pertemuan berlangsung dinamis. Berbagai gagasan, pengalaman, catatan sejarah, hingga kemungkinan persoalan dalam penulisan dan penerbitan buku dibicarakan secara terbuka.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Amat Taufan, yang tahun depan memasuki masa purnatugas sebagai ASN, memandang momentum tersebut sebagai kesempatan untuk meninggalkan warisan pemikiran bagi generasi berikutnya.
Demikian pula para penulis yang telah mendekati masa purnatugas sebagai ASN. Ada kesadaran bahwa pengabdian tidak harus berhenti ketika masa kedinasan berakhir. Pemikiran, pengalaman, pengetahuan, serta catatan mengenai Pacitan justru dapat diwariskan melalui karya literasi.
“Kita ingin menyumbangkan pemikiran untuk peningkatan literasi budaya Pacitan. Apa yang kita ketahui jangan berhenti sebagai ingatan pribadi, tetapi harus menjadi arsip pengetahuan yang dapat dibaca generasi mendatang,” demikian semangat yang mengemuka dalam diskusi.
Tujuh Buku Menjadi Aset Sejarah
Gagasan Pacitan Kota Misteri bukanlah titik awal. Sebelumnya, telah lahir beberapa buku yang mengangkat karya dan pengetahuan lokal Pacitan. Pacitan Misteri jilid 1-3, Situs Watupatok, 3 Hak Kekayaan Intelektual
Karya-karya tersebut dipandang bukan sekadar produk penerbitan, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun arsip sejarah dan kebudayaan daerah.
Buku menjadi medium untuk merekam berbagai jejak yang mungkin hilang apabila tidak segera dituliskan. Tradisi lisan, sejarah desa, cerita tokoh, situs, kesenian, ritus, hingga berbagai memori kolektif masyarakat merupakan kekayaan yang memiliki nilai penting bagi jati diri Pacitan.
Karena itu, Pacitan Kota Misteri diarahkan bukan hanya menjadi buku yang menceritakan masa lalu, tetapi sebuah maha karya literasi budaya yang mampu membuka ruang pembacaan baru terhadap Pacitan.

Menggali Sejarah Desa dan Kademangan
Salah satu gagasan menarik disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan, Ir. Bambang Mahendrawan, S.PT., M.M.
Menurutnya, salah satu kekayaan sejarah yang perlu digali lebih jauh adalah sejarah masing-masing desa dan wilayah kademangan di Pacitan.
Setiap wilayah diyakini memiliki cerita, tokoh, perjalanan sejarah, tradisi, maupun peninggalan yang selama ini belum seluruhnya terdokumentasikan secara sistematis.
Gagasan tersebut membuka kemungkinan bahwa Pacitan Kota Misteri tidak berhenti pada cerita-cerita yang telah dikenal masyarakat, tetapi melakukan penelusuran lebih dalam terhadap jejak peradaban di tingkat desa.
Dari desa, cerita besar Pacitan dapat disusun. Dari cerita masyarakat, sejarah lokal dapat direkonstruksi. Dan dari arsip yang selama ini tersebar, sebuah narasi tentang perjalanan peradaban Pacitan dapat dibangun.
Tantangan Sebuah Maha Karya
Direktur CV Socio Cultura Indonesia sekaligus rekan penulis, Dr. Agoes Hendriyanto, memberikan gambaran mengenai tantangan yang akan dihadapi dalam proses penerbitan sebuah buku yang dirancang sebagai maha karya.
Menurutnya, menulis buku semacam ini tidak cukup hanya mengumpulkan cerita. Diperlukan proses inventarisasi, verifikasi, kajian, dokumentasi, penyuntingan, penulisan, hingga pengemasan narasi agar informasi yang diwariskan dapat dipertanggungjawabkan.
Tantangan lainnya adalah menemukan sumber sejarah, mempertemukan berbagai versi cerita, memastikan data, serta menjaga keseimbangan antara fakta sejarah, tradisi lisan, mitos, legenda, dan memori kolektif masyarakat.
Justru pada ruang itulah istilah “misteri” memperoleh maknanya.
Misteri bukan berarti sesuatu yang harus selalu dianggap gaib. Misteri dapat dimaknai sebagai jejak pengetahuan yang belum sepenuhnya terungkap, pertanyaan sejarah yang belum memperoleh jawaban, atau cerita masyarakat yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Dengan pendekatan tersebut, Pacitan Kota Misteri dapat menjadi pintu masuk untuk mengajak masyarakat bertanya: seberapa jauh kita mengenal sejarah tanah kelahiran sendiri?
Pikiran Jernih dan Hati Bersih
Amat Taufan menegaskan bahwa sebuah maha karya tidak lahir hanya karena kemampuan menulis.
Menurutnya, diperlukan “pikiran yang jernih, hati yang bersih, serta untuk kemaslahatan umat.”
Pesan tersebut menjadi semacam filosofi dalam proses penyusunan buku.
Sebab, ketika sejarah dan budaya ditulis, yang diwariskan bukan hanya rangkaian kata. Di dalamnya terdapat identitas masyarakat, kehormatan leluhur, ingatan kolektif, serta jati diri sebuah daerah.
Karena itu, setiap penulis dituntut untuk memiliki tanggung jawab moral. Perbedaan cerita tidak semestinya menjadi sumber pertentangan, tetapi dapat menjadi bahan untuk melakukan kajian lebih mendalam.
Apa pun hambatannya, selalu ada jalan menuju kebajikan—bumi, langit, dan seisinya.
Cafe Literasi: Ruang Bertemunya Gagasan
Pertemuan tersebut sekaligus memperlihatkan fungsi strategis Cafe Literasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan.
Ruang tersebut tidak hanya menjadi tempat membaca buku. Lebih dari itu, cafe literasi dapat menjadi ruang bertemunya gagasan, pengalaman, dan kegelisahan intelektual tentang masa depan Pacitan.
Dari sebuah meja sederhana, sejumlah pemikir dapat berbicara tentang sejarah desa. Dari secangkir kopi, muncul gagasan tentang arsip budaya. Dari percakapan santai, lahir rencana sebuah buku yang diharapkan menjadi warisan pengetahuan.
“Ruang ide-ide dan gagasan besar ke depan dapat dipecahkan dengan secangkir kopi.”
Kalimat tersebut seolah menjadi simbol dari coffee morning hari itu.
Pada akhirnya, pembangunan kebudayaan tidak selalu dimulai dari gedung megah atau forum besar. Kadang ia lahir dari percakapan sederhana, dari orang-orang yang memiliki kepedulian yang sama, lalu mengubah percakapan menjadi karya.
Pacitan Kota Misteri pun mulai menemukan bentuknya: bukan sekadar sebuah buku, melainkan ikhtiar mengarsipkan jejak peradaban Pacitan untuk harkat, jati diri, dan masa depan generasi bangsa.
Mugi Gusti Allah SWT paring berkahipun teng sedayanipun.
