Tiga Buku Karya Agoes Hendriyanto Dihibahkan ke Perpustakaan Pacitan, Buka Peluang Kolaborasi Internasional
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN — Upaya memperkuat budaya literasi dan memperkenalkan kekayaan budaya Pacitan terus dilakukan melalui karya dan gerakan kepenulisan. Tiga buku yang mengangkat potensi budaya dan peradaban Pacitan diserahkan kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Senin (21/9/2026) pagi, bertempat di Coffee Literasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan.
Tiga buku tersebut yakni Potret Pacitan: Alam, Demografi, dan Dinamika Budaya, Gerakan Pokok Kethek Ogleng Pacitan, dan Kethek Ogleng Pacitan.
Ketiga buku tersebut diserahkan langsung oleh Dr. Agoes Hendriyanto, Direktur Socio Cultura Indonesia, dosen STKIP PGRI Pacitan, dosen IAIT Pondok Pesantren Tremas Pacitan, dosen Universitas Terbuka, sekaligus penulis puluhan buku. Buku-buku tersebut diterima oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Amat Taufan.
Dalam kesempatan tersebut, Amat Taufan menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas hibah buku yang diberikan untuk menambah koleksi Perpustakaan Daerah Kabupaten Pacitan.
“Atas nama Bupati Pacitan, kami menyampaikan terima kasih atas pemberian buku ini. Mudah-mudahan karya-karya tersebut dapat menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat Pacitan,” ungkapnya.
Buku Menjadi Jembatan Literasi
Penyerahan buku tersebut sekaligus menjadi bagian dari diskusi mengenai pengembangan literasi dan kebudayaan Pacitan. Agoes Hendriyanto dan Amat Taufan selama ini juga terlibat dalam kegiatan kepenulisan dan pendokumentasian sejarah serta budaya Pacitan, termasuk dalam penerbitan Ensiklopedia Situs Pacitan Kota Misteri.
Dalam diskusi di Coffee Literasi, keduanya membicarakan peluang memperluas jejaring kerja sama dengan perguruan tinggi di tingkat internasional, khususnya universitas di Malaysia.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkenalkan berbagai hasil kajian mengenai Pacitan, termasuk buku yang mengangkat tema peradaban dunia Pacitanian yang telah memasuki jilid keempat.
Bagi Agoes, buku tidak hanya berfungsi sebagai media penyimpan pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi sarana diplomasi budaya.
“Lewat literasi, buku menjadi jembatan emas ilmu pengetahuan antara kedua negara. Harapannya, karya tentang Pacitan dapat semakin dikenal di tingkat internasional dan turut memperkuat branding Kabupaten Pacitan,” ujarnya.
Ia menilai dokumentasi dan publikasi mengenai sejarah, budaya, serta peradaban Pacitan perlu terus dikembangkan melalui kerja sama akademik dan kebudayaan. Dengan demikian, pengetahuan mengenai Pacitan tidak hanya tersimpan di perpustakaan daerah, tetapi dapat dipertukarkan dengan masyarakat akademik dan kebudayaan di berbagai negara.

Membangun Jejaring Literasi Internasional
Amat Taufan menyambut positif gagasan pengembangan kerja sama dengan perguruan tinggi internasional. Menurutnya, perpustakaan memiliki peran strategis dalam membangun akses masyarakat terhadap pengetahuan sekaligus mendukung pelestarian dan penyebarluasan karya intelektual mengenai Pacitan.
Kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri diharapkan menjadi langkah konkret untuk memperluas jejaring literasi, penelitian, kebudayaan, dan publikasi.
Pertemuan tersebut juga menjadi ruang untuk membangun gagasan agar buku-buku tentang Pacitan dapat menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan lintas negara.
“Perpustakaan hadir demi harkat dan martabat bangsa menuju Pacitan yang makin sejahtera dan bahagia,” kata Amat Taufan.
Dari Pacitan untuk Dunia
Penyerahan tiga buku tersebut menjadi simbol bahwa literasi dapat bergerak dari ruang lokal menuju ruang global. Buku tentang alam, demografi, budaya, seni pertunjukan, sejarah, dan peradaban Pacitan dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat luar untuk mengenal Pacitan secara lebih mendalam.
Bagi Agoes Hendriyanto, memperkenalkan Pacitan kepada dunia bukan hanya melalui sektor pariwisata, tetapi juga melalui buku, riset, pendidikan, budaya, dan jejaring akademik internasional.
Melalui kerja sama antarlembaga dan antarperguruan tinggi, pengetahuan tentang Pacitan diharapkan dapat terus dikembangkan, dikaji, dan diperkenalkan kepada generasi mendatang.
Semangat tersebut ditutup dengan doa agar ikhtiar literasi dan kebudayaan yang dilakukan bersama mendapat keberkahan.
“Mugi Gusti Allah SWT paring berkahipun teng sedoyonipun.”
