Tanaman Sompok atau Porang Jadi Primadona Petani Karangrejo, Pacitan
PRABANGKARANEWS.COM || PACITAN – Tanaman Porang kalau di Pacitan disebut Tanaman Sompok. Primadona para Petani di wilayah Pacitan di saat hasil bumi lainnya harganya sudah tidak ekonomis jika dibandingkan dengan perawatannya.
Wilayah Karangrejo dengan bukit dan hutan sangat potensial sekali digunakan untuk budidaya tanaman sompok atau porang yang perawatannya mudah. Apalagi untuk tanaman buah-buahan seperti Durian, Cengkeh, Jeruk mengalami kendala yaitu penyakit Jamur yang menyerang pohonnya dan mengakibatkan banyak tanaman tersebut mati.
Jurnalis mewancarai salah Petani di wilayah Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan. Sompok atau Porang menjadi topik pembicaraan di kalangan Petani di wilayah sekitar Waduk Tukul Pacitan yang pada Bulan desember 2020 diresmikan Presiden joko Widodo. Perawatan, panen, serta pemasarannya Sompok yang mudah dengan harga yang 8000 / kg, menjadi primadona petani, Minggu (16/05/2021).
Porang, tanaman umbi-umbian tengah populer dibicarakan masyarakat, lantaran mudahnya budidaya tanaman ini dan hasilnya bisa digunakan untuk menunjang kehidupan saat Pandemi Covid-19. Sebenarnya tanaman Sompok ini telah tumbuh liar di wilayah Karangrejo Arjosari sudah cukup lama. Tanaman ini sebelum menjadi primadona menjadi tanaman pengganggu yang setiap musim tanam bisa dicabut dan dibuang untuk dimusnahkan.
Namun dalam 2 tahun belakang ini tanaman iles-iles/ sompok/ Porang menjadi primadona dan dicari tengkulak dengan harga per kg 8000 rupiah.
Porang atau dikenal juga dengan nama iles-iles adalah tanaman umbi-umbian dari spesies Amorphophallus muelleri. Manfaat porang ini banyak digunakan untuk bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, selain juga untuk pembuatan lem dan “jelly” yang beberapa tahun terakhir kerap diekspor ke negeri Jepang. Umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung.
Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang. Porang adalah tanaman yang toleran dengan naungan hingga 60%.
Porang dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja di ketinggian 0 sampai 700 mdpl. Bahkan, sifat tanaman tersebut dapat memungkinkan dibudidayakan di lahan hutan di bawah naungan tegakan tanaman lain. Untuk bibitnya biasa digunakan dari potongan umbi batang maupun umbinya yang telah memiliki titik tumbuh atau umbi katak (bubil) yang ditanam secara langsung.
Berdasarkan penuturan Petani di Karangrejo, Porang / Sompok mudah ditanam. Bibit yang diambil dari umbi yang ada di batang tanaman porang bisa menghasilkan 25 umbi kecil-kecil / katak yang biasa digunakan untuk bibit tanaman. Jika pada musim penghujan umbi tersebut disemai dipolibag atau langsung ditanam di lahan dengan jarak tanam 30 cm. Umbi yang diameternya 3 sampai 5 cm tetsebut jika pertumbuhannya bagus dengan diberi pupuk kandang dalam waktu satu tahun ukurannya bisa menjadi 2-3 kg. Jika tidak sempat dipanen biasanya umbi yang ada di pohon Porang / Sompok / Iles-iles yang disebut katak akan menyebar dan pada musim penghujan akan tumbuh.
Alhamdulillan mas saat ini Sompok jadi topik pembicaraan di setiap ada acara ngumpul. Ada salah satu petani yang telah yang menanam 2000 tanaman Porang sekarang sudah ditawar 50 juta. Waktu tanamnya sekitar 3 tahun dengan hanya mengandalkan katak atau umbi di tanaman Porang. Sehingga bibitnya tidak beli dari luar wilayah.
“Untuk panennya sangat mudah sekali jika dibandingkan dengan tanaman kunir atau kunyit. Namun yang menjadi kendala tempat di hutan yang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki. Sehingga hanya mampu menggendong satu kali jalan 30 kg, 3 kali balik bisa mendapatkan 90 kg. Semua terbayar karena sampai di rumah sudah ada pedagang yang membeli tanaman Porang tersebut dengan harga yang stabil yaitu 8000/kg, ” jawabnya.
Walaupun mudah menanamnya namun ada kendala yaitu akses lahan tidak bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua apalagi roda empat hanya jalan setapak. Selain itu juga hama hewan Landak sebagai hama perusak tanaman Porang. (Hendriyanto)
