TePI Diskusi Tema Capres Alternatif, Tawarkan Beberapa Figur
PRABANGKARANEWS.COM || Figur baru dalam arena pertarungan Calon Presiden (Capres) Tahun 2024 coba ditawarkan. Ide tersebut diangkat dalam Diskusi Publik bertema, ‘Capres Alternatif, Mengapa Tidak?’ yang digelar Komite Pemilih Indonesia (TePI).
Diskusi ini menghadirkan tiga pembicara yakni Koordinator TePI Jeiry Sumampow, pengamat politik dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Ferry Daud Liando dan Jerry Massie sebagai Direktur Political and Public Policy Study (P3S), Kamis (8/9), di Cafe Charty, Kelurahan Kleak, Kecamatan Malalayang, Kota Manado.
Pada kesempatan itu, Liando mengungkapkan, salah satu faktor sehingga masyarakat tidak memilih karena kejenuhan dengan calon yang hanya itu-itu saja. Kalau tidak merubah konstelasi menurutnya, akan ada kejenuhan orang. Maka dari itu harus ada jalur alternatif. “Menurut saya ada dua aspek yang perlu diubah yaitu aktor dan dari institusi politik. Aktor sedapat mungkin ada wajah baru. Kalau berputar di situ ada kejenuhan. Siapa tahu muncul dari kalangan anak muda. Akan lebih menarik dimunculkan dari kalangan muda,” ungkap Liando.
Selanjutnya, aspek institusi politik adalah partai politik. Baginya, parpol yang hanya itu-itu saja juga membuat kejenuhan. Alasannya karena terlalu banyak berjanji dan kader-kader yang terseret korupsi. “Maka dari itu saya setuju munculkan figur baru dan institusi politik,” ujarnya.
Jerry Massie mengungkapkan, capres alternatif baginya yaitu tokoh-tokoh yang mewakili bidang hukum, ekonomi, sosial dan politik serta pegiat anti korupsi. Utamanya adalah mereka punya konsep dan strategi membuat negara ini jadi lebih baik. “Saya coba tawarkan nama seperti mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Assidiqie. Beliau tokoh yang secara rasional dan empiris bisa diterima. Jimly tokoh yang jujur dan tulus barangkali dari sisi finansial dia tak seperti capres lain,” ujarnya.
Selain Jimly ada yang mewakili ekonom yakni Rizal Ramli. Bagi Massie, Rizal tahu persis untuk mengatur ekonomi yang lagi sakit. Di saat hutang membengkak hingga Rp7.000 triliun dan inflasi mencapai 5 persen, inflasi pangan tembus 11,4 persen maka dibutuhkan pemimpin punya ‘grand strategy’ seperti Rizal. Dia sukses saat menjadi Menko Ekonomi zaman Gus Dur, dia mampu membuat ekonomi tumbuh dari minus 3 persen menjadi plus 4 persen. “Hal luar biasa dia jujur, cinta dan peduli rakyat. Pemilu 2024 yang politik pencitraan tak akan ada lagi misalkan doyan foto selfie dan pencitraan lain. Jadi kalau ada capres alternatif yang cerdas mereka akan laris seperti survei lembaga KedaiKopi,” ucapnya.
Pegiat anti korupsi Abraham Samad atau Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri juga disebutnya. Massie berpikir koruptor akan ketakutan jika bangsa ini dipimpin oleh tokoh anti korupsi. “Kalau mewakili kaum perempuan ada seperti Mantan Menteri KKP Jokowi Susi Pudjiastuti. Kendati pendidikannya tak terlalu tinggi tapi keberaniannya membakar kapal-kapal pencuri ikan dari negara asing. Ada lagi tokoh dari Timur seperti Gubernur Olly Dondokambey. Dia layak diperhitungkan dalam bursa capres,” ungkapnya.
Figur-figur lain juga coba diangkat Jeiry Sumampow yang adalah Koordinator TePI. Diungkapkannya, bangsa ini sebenarnya punya calon-calon alternatif yang kurang tersorot media. Mereka tidak dipilih partai tapi sebenarnya punya kemampuan untuk menjadi pemimpin yang layak. Karena menurutnya, ada banyak yang muncul dipermukaan yang hanya bermodal pencitraan namun sebenarnya tidak mampu beri solusi di tengah permasalahan masyarakat saat ini. “Kita ingin kembalikan pemilu ini pada prinsip yang sesungguhnya yaitu persaingan gagasan. Sekarang kan minim, miskin, yang ada sekarang hanya pencitraan fisik tanpa gagasan hebat untuk membangun bangsa ke depan,” ucapnya.
Dirinya berharap, ada gairah baru di tengah kebosanan masyarakat terhadap figur-figur yang itu-itu saja. Dengan menyebutkan nama maka publik diajak untuk memunculkan nama-nama hebat yang dikenal dan dinilai mampu memimpin bangsa ke depan dengan gagasan yang solutif. “Ada Tito Karnavian
Rizal Ramli, Prof Hainan Razik Ketum (Ketua Umum) Muhammadiyah, Agus Yahya Ketua PBNU dan ada Olly Dondokambey,” sebutnya.
Partisipasi dan keterlibatan publik diharapkannya bisa lebih masif untuk munculkan calon-calon yang dinilai hebat tapi tidak dapat porsi di media dan dalam arak-arakan kontestasi politik saat ini. “Intinya kita ingin beri warna dan mengobati kebosanan pemilih,” tuturnya. (arfin tompodung)
