BPK XI Laksanakan Forum Group Discusion (FGD) Ekosistem Wayang Beber Karangtalun, Pacitan
PRABANGKARANEWS || Pacitan, 22 September 2023 – Dalam upaya menjaga kelestarian kebudayaan Wayang Beber yang khas dari Kabupaten Pacitan, para peneliti, pemerhati budaya, dan pihak terkait telah menggelar Forum Group Discussion (FGD) yang sangat berarti di Golden Star Pantai Teleng Ria Pacitan pada Jumat, 22 September 2023. Acara ini menyoroti seriusnya komitmen mereka untuk melestarikan warisan budaya berharga ini.
Nuryahman dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur dalam sambutannya menegaskan pentingnya memandang Wayang Beber sebagai harta warisan tak benda yang memerlukan perlindungan dan perawatan bersama. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa kebudayaan ini tetap hidup dan tidak menghilang seiring berjalannya waktu.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, Endah Budi Heryani, menjelaskan bahwa ada empat kegiatan yang menjadi fokus utama dalam upaya pelestarian Wayang Beber. Salah satu kegiatan yang disoroti adalah proses menduplikatkan Wayang Beber yang asli. Langkah ini diharapkan akan membantu dalam memperbanyak koleksi Wayang Beber yang ada, sehingga lebih banyak orang dapat mengakses dan mengapresiasi seni budaya ini. Bantuan anggaran yang dijanjikan juga akan menjadi dorongan besar dalam proses ini. Selain itu, melibatkan beberapa dalang dalam pertunjukan Wayang Beber akan memastikan bahwa seni ini terus berkembang dan hidup.
Turmudi, Kepala Dinas Pariwisata, Olahraga, dan Budaya Kabupaten Pacitan, memiliki harapan besar bahwa upaya-upaya ini akan menciptakan identitas budaya yang unik bagi Pacitan. Hal ini diharapkan akan memperkuat kebudayaan lokal dan menjadikan Pacitan sebagai pusat kebudayaan yang menarik bagi wisatawan dan penggemar seni budaya.
Namun, salah satu sorotan utama dalam acara ini adalah penjelasan dari narasumber, Dr. Agoes Hendriyanto, yang membawa pemikiran yang mendalam tentang pendekatan pemajuan berbasis ekosistem dalam konteks Wayang Beber Pacitan. Dr. Agoes Hendriyanto menggambarkan Wayang Beber sebagai bukan hanya sebuah objek fisik, tetapi juga sebagai manifestasi yang kompleks dari hubungan sosial yang ada dalam ekosistemnya. Ini mencakup tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, dan seni pertunjukan yang semuanya saling terkait.
Dr. Agoes Hendriyanto juga menggambarkan peran masyarakat Karangtalun, Desa Gedompol, Donorojo dalam menjadikan Wayang Beber sebagai salah satu budaya yang berkembang. Dalam pemajuan Wayang Beber Pacitan, tidak hanya tentang memajukan objek seni itu sendiri, tetapi juga tentang memajukan seluruh jaringan sosial yang ada di sekitarnya. Artinya, untuk melestarikan dan mengembangkan Wayang Beber, diperlukan pemahaman yang lebih luas tentang interaksi dan relasi antara pelaku kebudayaan, masyarakat, pemerintah, serta elemen-elemen lain yang terlibat dalam pemajuan dan pelestarian.
Wayang Beber Pacitan, yang diperkirakan dibuat pada tahun 1614 Jawa atau 1692 Masehi, memiliki sebuah sengkala yang berbunyi “Gawe Srabi Jinamah ing Wong.” Jika kita menghitung angka-angkanya, itu sesuai dengan tahun 1614. Catatan dari Ma Huan juga mencatat tahun yang sama (Yogyakarta, 2019).
Penanggalan ini diperkuat oleh penggunaan daluang sebagai bahan dalam tradisi menulis di Nusantara. Menurut Pigeaud dalam bukunya “Literature of Java I” (1967:35-36), bukti-bukti dari zaman pra-Islam menunjukkan bahwa daluang digunakan lebih sebagai pakaian sehari-hari dan dalam upacara keagamaan, terutama sebagai pakaian pendeta agama Hindu, daripada sebagai bahan untuk menulis.
“Terima kasih kepada Tim Ekosistem Mas Bambang, Mbak Eva, Mbak Riza, dan tim lainnya, yang telah bekerja melakukan observasi selama 7 hari di Pacitan yang dilaksanakan tanggal 1-7 Agustus 2023, telah berhasil menyusun bahan untuk acara FGD hari ini,” jelas pak Nuryahman.
Pentingnya kolaborasi antara semua elemen dalam upaya pelestarian dan pengembangan Wayang Beber tidak bisa diragukan. Ini adalah langkah kunci dalam memastikan bahwa budaya ini terus berkembang dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas budaya Pacitan. Pada akhirnya, pemajuan dan pelestarian Wayang Beber Pacitan adalah cerminan dari hubungan sosial yang kompleks yang membentuknya, dan ini adalah bukti nyata komitmen Pacitan untuk menjaga kekayaan budayanya yang tak ternilai. (*)
