IDXCarbon Catat Pertumbuhan 247%, Indonesia Ungguli Jepang dan Malaysia

IDXCarbon Catat Pertumbuhan 247%, Indonesia Ungguli Jepang dan Malaysia
SHARE

PRABANGKARANEWS – Indonesia kini menempati posisi terdepan sebagai pemimpin pasar karbon di Asia melalui platform IDXCarbon. Hingga Februari 2025, volume perdagangan tercatat mencapai 1,557 juta ton, melampaui capaian gabungan Jepang (768 ribu ton) dan Malaysia (200 ribu ton), menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang disampaikan oleh Inarno Djajadi.

Sejak diluncurkan, bursa karbon Indonesia mencatat pertumbuhan luar biasa sebesar 247,8%. Hingga Agustus 2025, nilai transaksi mencapai Rp77,96 miliar atau setara USD 4,83 juta, berdasarkan laporan Wakil Komisioner OJK Aditya Jayaantara, dilansir dari Seasianews Jum’at (22/8/25).

Keunggulan Indonesia terletak pada penerapan sistem Cap-Trade-Tax yang mengintegrasikan tiga mekanisme penetapan harga karbon sekaligus—sesuatu yang belum dilakukan negara lain, ungkap Aldy Erfanda, Direktur Pengawasan Bursa Karbon OJK.

Baca Juga  Luluk Diana Wijayana Raih Emas di Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Peru, Harumkan Nama Pacitan dan Indonesia

Di sisi pelaku, Pertamina NRE menjadi pemain dominan dengan pangsa 54,02% dari total perdagangan IDXCarbon. Sejak bursa diluncurkan pada September 2023, perusahaan ini telah menjual 864.059 ton CO2e dari proyek Lahendong Geothermal Unit 5 & 6, serta tengah menyiapkan proyek tambahan seperti WTE Sei Mangkei dengan potensi sekitar 50 ribu ton CO2e.

Keberhasilan Indonesia dalam perdagangan karbon, ditopang kekayaan hutan dan solusi berbasis alam, terus menarik perhatian dunia. Banyak negara besar menunjukkan minat untuk menjalin kerja sama dengan platform karbon Indonesia yang terbukti efektif dan terpercaya.