Situs Pusaka Sunan Siti Geseng: Jejak Perjuangan Dakwah dan Filosofi Kyi Tajuk
PRABANGKARANEWS, PACITAN – “Salam Literasi Sejarah, Pacitan Kota Misteri.” Ungkapan ini terasa tepat ketika menyingkap kembali jejak spiritual dan budaya di bumi Pacitan. Salah satunya adalah kisah Situs Pusaka Sunan Siti Geseng atau Kyi Ageng Petung, tokoh alim dan Wali Allah yang hidup pada abad ke-15 Masehi, di masa awal penyebaran Islam di Pacitan.
Dalam upaya dakwahnya, Kyi Ageng Petung menghadapi tantangan besar dari Ki Ageng Buono Keling, seorang abdi setia Kerajaan Wiranti yang masih menganut agama Hindu. Buono Keling dikenal sakti mandraguna karena menguasai ilmu Pancasona atau Rawa Rontek, ajian yang membuatnya kebal dan tak bisa mati oleh senjata apapun. Pertarungan keduanya menjadi simbol benturan peradaban, sekaligus ujian bagi Kyi Ageng Petung dalam menegakkan kebenaran.
Menyadari kekuatan lawannya, Kyi Ageng Petung melakukan tirakat dan tapa brata di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Luweng Sewu, Desa Purwoasri, Kecamatan Kebon Agung, Pacitan. Dari pertapaan itu, beliau mendapatkan petunjuk Ilahi sekaligus sebuah pusaka yang kelak sangat penting: Kyi Tajuk. Pusaka berupa keris lurus sepanjang sekitar 30 cm itu unik, karena terbuat dari fosil kayu gaharu atau kemenyan Jawa. Ketika terkena cahaya, pusaka ini tampak tembus pandang.
Dengan pusaka itu, kesaktian Buono Keling akhirnya bisa ditundukkan. Pertarungan berakhir, dan sang lawan yang terkenal tak terkalahkan akhirnya wafat. Jenazahnya kemudian di-ngaben-kan oleh kedua putranya, Ki Sambi Gumelar dan Ki Jati Gumelar, di wilayah Dusun Ngawu, Desa Purwoasri.
Lebih dari sekadar senjata, Kyi Tajuk menyimpan makna filosofis yang dalam. Kata “Tajuk” sendiri dapat dimaknai sebagai Tusuk Bumi, pengingat bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Pesan ini sejalan dengan ajaran Islam: tiada kesaktian yang abadi, tiada kehebatan yang sejati, kecuali kekuasaan Allah SWT.
Kisah pusaka ini juga membuktikan bahwa teknologi pembuatan senjata tidak selalu mengandalkan logam seperti besi atau tembaga. Sebagaimana keris karya Empu Gandring pada masa Singasari, pusaka dari kayu bertuah pun bisa menjadi saksi keagungan kreativitas dan spiritualitas manusia Jawa.
Kini, Situs Pusaka Sunan Siti Geseng menjadi jejak sejarah yang sarat nilai. Ia bukan hanya cerita kepahlawanan, tetapi juga pengingat bagi generasi masa kini tentang kerendahan hati, kekuatan doa, dan keyakinan bahwa segala sesuatu berpulang pada kuasa Allah.
“Hasbunallah wa ni‘mal wakil.” Cukuplah Allah sebagai penolong, sebaik-baik pelindung.
Semoga keberkahan selalu menyertai kita, keluarga, masyarakat, dan para penerus risalah Rasulullah SAW, di bumi dan langit semesta.
Penulis: Amat Taufan
