Pacitan Kota Misteri: Jejak Kelereng Dinasti Tang di Tanah Kalak
PERABANGKARANEWS, PACITAN – Bismillah. Salam Literasi Sejarah. Pada sebuah pagi yang lembut di pesisir selatan Pacitan, sinar matahari memantul pada benda kecil berbentuk bulat yang nyaris terlupakan oleh zaman. Warnanya biru, merah, coklat, dan kadang hitam berkilau—seolah membawa cahaya dari masa ribuan tahun silam. Masyarakat menyebutnya kelereng, atau neker. Namun siapa sangka, benda sederhana itu mungkin menyimpan kisah panjang hubungan antar-peradaban.
Kelereng tersebut tersimpan di sebuah situs tua di kawasan Kalak–Donorojo. Bukan sekadar permainan anak-anak, artefak mungil itu diperkirakan berasal dari Dinasti Tang, salah satu dinasti terbesar dalam sejarah Cina. Menyibakkannya ibarat membuka kembali lembaran kisah ketika Pacitan bukan hanya perkampungan tenang di tepi Samudra Hindia, tetapi pusat kekuasaan lokal yang dikenal sebagai Kerajaan Wiranti atau Wirati.
Kerajaan di Pesisir Selatan
Pada abad ke-13 hingga 14 M, Kalak pernah menjadi kota penting. Di sinilah Raja R. Prawiro Yudho—yang juga dikenal sebagai R. Panji atau Panembahan Kalak—menguasai pesisir selatan Jawa. Waktu itu, Majapahit berada di puncak kejayaan dan memayungi banyak wilayah kerajaan di Jawa Timur, termasuk Kalak.
Hubungan antara Majapahit dan Dinasti Tang membuka jalur perniagaan dan pertukaran budaya. Para rahib Buddha dan Konghucu kerap singgah di pelabuhan-pelabuhan selatan, membawa ajaran, cerita, dan benda-benda kecil yang kemudian memikat warga lokal. Salah satunya: kelereng kaca warna-warni.
Mainan, Simbol, dan Filsafat
Bagi anak-anak masa itu, kelereng mungkin sekadar permainan sederhana. Namun bagi para rahib, benda bulat ini melambangkan sesuatu yang lebih dalam: siklus kehidupan. Lingkaran tanpa ujung itu merepresentasikan perjalanan manusia yang terus berputar dari awal hingga akhir, dari kelahiran hingga kematian.
Warna-warni pada permukaannya dianggap menggambarkan ragam jalan hidup—kesenangan, kesedihan, perjuangan, dan harapan. Maka tak heran jika kelereng sering dibawa sebagai hadiah, alat pendidikan, bahkan simbol status di komunitas tertentu.
Antara Masa Lalu dan Masa Kini
Sayangnya, benda yang sarat makna itu kini terpinggirkan. Dunia modern telah menggeser permainan tradisional dengan gawai dan gim online. Di tengah kemajuan teknologi, jejak-jejak kecil seperti ini sering hilang dari perhatian.
Namun setiap kali seorang warga Kalak menemukan sebutir kelereng tua di tanah ladangnya, seakan terdengar bisikan sejarah: bahwa Pacitan pernah menjadi simpul peradaban, tempat berbagai budaya bertemu, dan ruang di mana filosofi kehidupan diajarkan melalui permainan anak-anak.
Harapan dari Tanah Kalak
Melihat kembali artefak tersebut bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menyadari betapa kayanya warisan budaya Pacitan. Jejak kecil itu mengingatkan bahwa sejarah selalu hadir dalam bentuk yang tak terduga—kadang sebesar candi, kadang setitik kaca bulat yang nyaris luput dari mata.
“Semoga Gusti Allah SWT memberikan keberkahan kepada kami, keluarga kami, dan para penerus Kanjeng Nabi Muhammad,” begitu harapan yang kerap dipanjatkan oleh para pemerhati sejarah lokal ketika memegang kelereng tua itu. Sebuah harapan yang sederhana, namun meneguhkan: bahwa mempelajari sejarah adalah bagian dari merawat kehidupan.
Dan di tanah Kalak yang sunyi, kelereng Dinasti Tang itu terus bercerita—tentang relasi antarbangsa, filosofi kehidupan, dan misteri Pacitan yang tak pernah habis ditafsirkan. (Amat Taufan)
