Situs Kuliner Jemblem Wiranti Pacitan: Kajian Historis, Kultural, dan Filosofis
PRABANGKARANEWS, PACITAN MISTERI – Tulisan ini mengkaji citus kuliner tradisional Jemblem Wiranti Pacitan yang secara historis ditelusuri berasal dari kawasan Kalak–Donorojo pada masa keberadaan Kerajaan Wuranti/Wirati (abad ke-13–14 M). Kajian dilakukan dengan pendekatan etnografi sejarah melalui penelusuran tradisi lisan, narasi masyarakat lokal, serta interpretasi nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam kuliner tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa Jemblem Wiranti bukan sekadar produk pangan, tetapi juga representasi teknologi pengolahan makanan, ketahanan pangan masyarakat, sekaligus sarana pewarisan nilai budaya Pacitan.
Pacitan sebagai wilayah pesisir selatan Jawa menyimpan beragam citus budaya, termasuk kuliner tradisional yang memuat sejarah, identitas lokal, dan nilai filosofis. Salah satu kuliner tersebut adalah Jemblem Wiranti, makanan berbahan dasar singkong yang kini mulai langka ditemui di pasar tradisional. Tradisi lisan masyarakat setempat menyatakan bahwa kuliner ini telah dikenal sejak masa Kerajaan Wuranti/Wirati yang berpusat di wilayah Kalak–Donorojo pada abad ke-13–14 M.
Pencipta Jemblem Wiranti dikaitkan dengan sosok Permaisuri Raja, yang dikenal dengan nama Dewi Sekartaji, Dewi Suryo, Ratu Kencana Ungu, atau Dadung Mlati. Camilan berbahan singkong ini dibuat dalam konteks keterbatasan sumber pangan akibat kondisi geografis Pacitan yang dominan berkapur dan tandus pada masa itu. Dengan kreativitas dan keterampilan kuliner, permaisuri menciptakan makanan sederhana namun bernilai gizi yang dapat disajikan kepada tamu kerajaan.
Kajian akademik ini bertujuan mendeskripsikan Jemblem Wiranti dalam perspektif historis, antropologis, dan filosofis sebagai bagian dari upaya pelestarian citus budaya Pacitan.
Menurut tradisi lokal, Jemblem Wiranti mulai dikenalkan pada periode kejayaan Kerajaan Wuranti/Wirati. Pada masa itu, singkong merupakan bahan pangan yang mudah didapat, tahan lama, dan menjadi sumber energi bagi masyarakat yang hidup di wilayah berbatu kapur.
Kuliner ini dirancang sebagai
-
pangan alternatif kerajaan,
-
simbol kreativitas permaisuri dalam ketahanan pangan, dan
-
media representasi identitas lokal Pacitan.
Bahan dan cara pembuatannya mencerminkan teknologi pangan masyarakat agraris: parutan singkong dicampur kelapa, dibentuk bulat, diisi gula merah, kemudian digoreng. Teknik ini menunjukkan pemahaman lokal tentang pemanfaatan sumber daya alam, pengolahan makanan, dan penyimpanan energi melalui kandungan karbohidrat serta lemak.
Kuliner Jemblem Wiranti mengandung lapisan makna simbolis yang dekat dengan pandangan hidup masyarakat Jawa. Makna tersebut antara lain:
Kesederhanaan sebagai Jalan Menuju Kemuliaan
Pemanfaatan bahan dasar yang sederhana (singkong) mencerminkan nilai prasaja—bahwa kemuliaan dan kehormatan tidak selalu berasal dari kemewahan, melainkan dari kemampuan mengolah sesuatu yang “ada” menjadi bermakna.
Representasi Siklus Kehidupan
Bentuk jemblem yang bulat menandakan cakra manggilingan, yaitu pandangan Jawa tentang kehidupan sebagai lingkaran takdir Tuhan (Gusti Allah) yang harus dijalani dengan kesabaran dan penuh kesadaran.
Manis sebagai Simbol Akhir Kehidupan
Gula merah di dalam jemblem melambangkan harapan bahwa hidup yang dijalani dengan laku kesederhanaan dan kejujuran akan berakhir dengan “kemanisan”, yakni kebaikan, kedamaian, dan keberkahan.
Etika Menjaga Lisan
Istilah jemblem/mingkem bermakna menutup mulut atau berbicara seperlunya. Nilai ini berkaitan dengan etika sosial: menghindari ucapan yang menimbulkan kegaduhan, fitnah, atau konflik. Nilai ini sangat relevan dengan praktik kehidupan bermasyarakat.
Kuliner Jemblem Wiranti mencerminkan:
Teknologi Pengolahan Pangan Tradisional
Pengolahan singkong menjadi makanan berisi dan tahan lama menunjukkan transfer pengetahuan mengenai teknik pemanfaatan umbi, penyimpanan energi, serta pengolahan minyak goreng tradisional.
Ketahanan Pangan Lokal
Pemanfaatan tanaman singkong menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap lingkungan tandus. Kuliner ini menjadi bentuk strategi ketahanan pangan masyarakat Pacitan pada masa lalu.
Identitas dan Warisan Budaya
Sebagai citus yang kini semakin jarang ditemui, Jemblem Wiranti memerlukan dokumentasi, revitalisasi, dan pengintegrasian dalam:
-
pendidikan budaya lokal,
-
ekonomi kreatif kuliner, dan
-
wisata sejarah Pacitan.
Jemblem Wiranti Pacitan merupakan citus budaya yang menyimpan sejarah panjang, pengetahuan kuliner tradisional, dan nilai filosofis yang mendalam. Kajian akademik ini menunjukkan bahwa kuliner tersebut bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol kreativitas perempuan bangsawan, strategi adaptasi terhadap lingkungan, sekaligus representasi nilai moral masyarakat Pacitan.
Pelestarian kuliner tradisional ini penting dilakukan agar generasi penerus dapat mewarisi pengetahuan dan nilai hidup yang telah diwariskan oleh leluhur Nusantara.
Penulis: Amat Taufan
