Haul ke-168 KH Abdul Manan Dipomenggolo: Ritus Budaya dan Tradisi Ziarah Santri Tremas
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Peringatan Haul ke-168 KH Abdul Manan Dipomenggolo yang diselenggarakan di Masjid Baitul Millah, Desa Semanten, Kecamatan/Kabupaten Pacitan, menjadi bagian penting dari ritus budaya yang hidup dalam tradisi masyarakat dan kalangan pesantren. Kegiatan haul ini diisi dengan berbagai amalan keagamaan Islam seperti pembacaan doa, tahlil, tahmid, serta rangkaian kegiatan religius lainnya yang dilakukan secara khidmat oleh para jamaah.
Tradisi haul tersebut telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi salah satu praktik budaya religius yang terus dipertahankan, khususnya oleh kalangan santri dan keluarga besar Pondok Pesantren Tremas. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai momentum mengenang jasa ulama, tetapi juga memperkuat ikatan spiritual, nilai-nilai keagamaan, serta solidaritas sosial di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar.
Dalam konteks pemajuan kebudayaan daerah, kegiatan haul ini dapat dipandang sebagai bagian dari inventarisasi Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), terutama dalam kategori ritus budaya yang mengandung nilai tradisi keagamaan dan kearifan lokal. Praktik ini menunjukkan bagaimana tradisi religius berkembang menjadi warisan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat.
Peringatan haul tidak hanya menjadi momentum mengenang jasa para ulama, tetapi juga menjadi sarana memperkuat nilai-nilai kebersamaan serta ukhuwah islamiyah di tengah masyarakat. Semangat perjuangan para ulama perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
Momentum haul ini menjadi pengingat atas perjuangan KH Abdul Manan Dipomenggolo dalam mendirikan Pondok Pesantren Tremas yang telah melahirkan banyak tokoh berpengaruh 169 tahun yang lalu.
Rangkaian upacara diawali dengan apel kirab yang berlangsung khidmat. Setelah itu dilanjutkan dengan santunan kepada anak yatim sebagai bentuk kepedulian sosial. Selanjutnya dilakukan prosesi penyerahan Panji Negoro sebelum akhirnya rombongan kirab diberangkatkan.
Selain itu, keberadaan makam KH Abdul Manan Dipomenggolo juga memiliki nilai penting sebagai bagian dari situs yang memiliki potensi cagar budaya, karena hingga kini masih menjadi tujuan ziarah, terutama bagi para santri Tremas yang datang untuk mengenang dan mengambil teladan dari pendiri pesantren tersebut. Tradisi ziarah ini memperlihatkan kesinambungan antara sejarah, spiritualitas, dan identitas budaya masyarakat Pacitan.

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd
