Tradisi Lisan Ki Ageng Bandung di Desa Hadiluwih, Ngadirojo (Indonesiana 2025)

Tradisi Lisan Ki Ageng Bandung di Desa Hadiluwih, Ngadirojo (Indonesiana 2025)
Tradisi Lisan Ki Ageng Bandung di Desa Hadiwarno, Ngadirojo (Indonesiana 2025)
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, OPK – Tradisi lisan mengenai Ki Ageng Bandung di Desa Hadiluwih, Kecamatan Ngadirojo—yang pada masa lalu dikenal sebagai wilayah Lorog—merupakan salah satu objek yang diinventarisasi dan dikaji dalam program pendanaan kebudayaan Dana Indonesiana Tahun 2025. Program ini pada tahun 2026 akan bertransformasi dengan nama baru, yaitu Program Dana IndonesiaRaya, yang baru saja diluncurkan oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendokumentasikan, meneliti, serta melestarikan berbagai warisan budaya lokal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Pacitan. Melalui kegiatan inventarisasi dan kajian tersebut, berbagai tradisi, situs budaya, serta cerita sejarah lokal dapat dicatat secara sistematis sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kebudayaan daerah.

Penulisan tradisi lisan tidak sekadar menjadi upaya mencatat cerita rakyat, tetapi juga merupakan langkah strategis dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan daerah. Dokumentasi tersebut dapat menjadi landasan penting dalam proses inventarisasi Objek Pemajuan Kebudayaan, sehingga nilai-nilai sejarah, adat istiadat, serta kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat dapat tetap terjaga, dipahami, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Baca Juga  Bupati Pacitan Indartato, Dukung Gerakan Mahasiswa

Tradisi lisan sendiri merupakan bagian penting dari warisan pengetahuan budaya yang diwariskan secara turun-temurun melalui cerita, legenda, maupun kisah sejarah yang hidup dalam kehidupan masyarakat. Agar tidak hilang seiring perubahan zaman, tradisi tersebut perlu didokumentasikan dan ditulis secara sistematis sehingga dapat menjadi sumber pengetahuan yang dapat dipelajari oleh generasi berikutnya. Upaya ini sekaligus menjaga keberlanjutan memori kolektif masyarakat terhadap sejarah, nilai-nilai budaya, serta identitas lokal suatu wilayah.

Salah satu situs yang berkaitan dengan tradisi lisan tersebut adalah Makam Ki Ageng Bandung yang terletak di Dusun Bandung, Desa Hadiluwih, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan. Dalam cerita tutur masyarakat, Ki Ageng Bandung dikenal sebagai seorang ulama Islam yang berperan penting dalam membuka wilayah serta menyebarkan ajaran Islam di kawasan Lorok hingga Panggul (yang kini termasuk wilayah selatan Kabupaten Trenggalek) sekitar abad ke-16 Masehi.

Menurut tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, Ki Ageng Bandung diyakini merupakan keturunan Raden Kian Santang, putra mahkota Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa sebelum membuka wilayah di pesisir selatan Pacitan, Ki Ageng Bandung terlebih dahulu menghadap Raden Batara Katong di Ponorogo yang pada masa itu berperan sebagai representasi kekuasaan Kesultanan Demak Bintoro di wilayah Jawa Timur. Atas izin Batara Katong, Ki Ageng Bandung kemudian diperkenankan membuka hutan dan menetap di kawasan Lorok hingga Panggul sekaligus menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat.

Baca Juga  KAI Pastikan Kesiapan Angkutan Natal dan Tahun Baru 2021 dengan Gunakan KA Inspeksi

Wilayah yang dibuka oleh Ki Ageng Bandung pada masa itu digambarkan sebagai daerah rawa dan perairan bebas yang secara perlahan diolah menjadi kawasan hunian. Bersama keluarga dan para pengikutnya, ia melakukan pembukaan lahan, pengelolaan sumber air, serta membangun tatanan sosial yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Dalam perkembangan berikutnya, menurut cerita rakyat setempat, datang pula seorang tokoh penyebar Islam bernama Sunan Geseng yang diyakini membangun Masjid Tiban Tanjung di tengah kawasan rawa sebagai pusat kegiatan keagamaan. Masjid tersebut ditandai dengan keberadaan pohon tanjung yang dianggap sebagai tetenger atau penanda sakral kawasan tersebut. Hingga kini tempat tersebut dikenal sebagai Masjid Tiban Tanjung yang berada di wilayah Desa Tanjungpuro, Kecamatan Ngadirojo.

Baca Juga  Tïlik Warga, Bupati Indartato Kunjungi Warga Terdampak Bencana

Kondisi geografis wilayah yang pada masa lalu berupa rawa dan tergenang air inilah yang kemudian melahirkan penamaan Wiyoro dan Lorok, yang dalam pemahaman lokal merujuk pada tanah berair akibat sedimentasi laut.

Dalam perspektif Objek Pemajuan Kebudayaan, situs Makam Ki Ageng Bandung memiliki nilai penting yang mencakup unsur sejarah, tradisi lisan, religi, dan situs budaya. Situs ini merekam jejak proses Islamisasi awal, pembukaan wilayah pemukiman, rekayasa lingkungan tradisional, serta hubungan politik dan budaya antara wilayah Pajajaran, Demak, Ponorogo, dan kawasan pesisir selatan Jawa Timur.

Oleh karena itu, Makam Ki Ageng Bandung layak untuk diinventarisasi, dikaji, dan dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya yang memperkuat identitas sejarah Pacitan. Selain itu, situs ini juga memiliki potensi sebagai sumber edukasi sejarah lokal serta pengembangan pemanfaatan kebudayaan berbasis masyarakat.

Penulis: Amat Taufan, Agoes Hendriyanto