Cekungan Kutei Kembali Bersinar, Penemuan Gas Lepas Pantai Terbesar di Asia Tenggara
PRABANGKARANEWS.COM – Perusahaan energi asal Italia, Eni, pada 20 April 2026 mengumumkan penemuan gas besar melalui sumur eksplorasi Geliga-1 di Blok Ganal, Cekungan Kutei, Indonesia, yang terletak sekitar 70 kilometer lepas pantai Kalimantan Timur. Estimasi awal menunjukkan sumber daya di tempat (in-place) sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) gas dan 300 juta barel kondensat, menjadikannya salah satu temuan gas lepas pantai terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir, dilansir dari @Seasianews Rabu (22/4/26).
Sumur Geliga-1 dibor hingga kedalaman total sekitar 5.100 meter di perairan dengan kedalaman sekitar 2.000 meter. Pada interval Miosen, sumur ini menemukan kolom gas yang signifikan dengan kualitas reservoir yang sangat baik. Eni juga berencana melakukan uji alir sumur (Drill Stem Test/DST) untuk menilai lebih lanjut produktivitas reservoir tersebut.
Temuan ini berada berdekatan dengan lapangan gas Gula yang belum dikembangkan, yang memiliki cadangan sekitar 2 Tcf gas dan 75 juta barel kondensat. Berdasarkan kajian Eni, kombinasi sumber daya Geliga dan Gula berpotensi menghasilkan tambahan produksi sekitar 1 miliar kaki kubik standar per hari (bscfd) gas dan 80.000 barel kondensat per hari. Hal ini membuka peluang percepatan pembangunan pusat produksi ketiga di Cekungan Kutei.
Blok Ganal dioperasikan oleh Eni dengan kepemilikan 82%, sementara perusahaan asal Tiongkok, Sinopec, memegang 18% sisanya. Blok ini merupakan bagian dari portofolio 19 blok yang akan dialihkan ke perusahaan bersama bernama Searah, hasil kerja sama antara Eni dan perusahaan energi Malaysia, Petronas, dengan transaksi yang ditargetkan selesai pada kuartal II 2026.
Eni sendiri telah beroperasi di Indonesia sejak 2001 dan saat ini memproduksi sekitar 90.000 barel setara minyak per hari, terutama dari lapangan Jangkrik dan Merakes. Selain itu, studi juga tengah dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pencairan gas (LNG) di fasilitas Bontang LNG Plant, yang berpotensi memperkuat peran Indonesia sebagai salah satu pusat infrastruktur energi utama di Asia Tenggara.
