Luweng Sewu Gunung Cilik: Jejak Sejarah, Sumber Kehidupan, dan Warisan Tradisi Lisan (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, OPK-PACITAN – Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di kalangan masyarakat Gunung Cilik, khususnya di Dusun Padi, Desa Purwoasri, Kecamatan Kebonagung, terdapat sebuah lokasi di tebing Gunung Cilik yang dikenal sebagai luweng atau lubang alam yang memiliki nilai historis dan spiritual. Tempat ini diyakini berkaitan dengan kisah Ki Ageng Petung, seorang tokoh penyebar Islam pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16.
Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, disebutkan bahwa setelah menancapkan tongkat bambunya di wilayah Dusun Sedayu, Desa Kembang, Ki Ageng Petung kemudian melakukan semedi di sebuah tempat yang dikenal sebagai Luweng Sewu, yang berjarak kurang lebih dua kilometer dari lokasi tersebut.
Dalam perspektif masyarakat setempat, Luweng Sewu tidak hanya memiliki makna historis dan spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai sumber kehidupan. Sumber air yang terdapat di lokasi ini dikenal tidak pernah kering, bahkan pada musim kemarau, sehingga menjadi penopang utama kebutuhan air masyarakat. Keberadaan Luweng Sewu dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari pengairan sawah hingga mendukung kegiatan industri rumah tangga, seperti pembuatan gerabah berbahan lempung.
Oleh karena itu, Luweng Sewu dipandang sebagai bagian penting dari sistem kehidupan masyarakat Gunung Cilik. Selain menjadi sumber daya alam yang vital, tempat ini juga menyimpan nilai budaya yang kuat melalui tradisi lisan yang terus hidup di tengah masyarakat.
Dengan demikian, cerita dan pengetahuan lokal yang berkaitan dengan Luweng Sewu perlu diinventarisasi dan dikaji secara lebih mendalam sebagai bagian dari upaya pelestarian dan pengembangan budaya lokal di wilayah Purwoasri.
Penulis: Deni, Agoes Hendriyanto
