Inventarisasi dan Kajian Kawedanan Lorog Perkuat Narasi Sejarah Perjuangan di Pacitan (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, Pacitan – Kegiatan inventarisasi dan kajian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Kabupaten Pacitan kembali dilaksanakan pada 20 Februari 2026 dengan menelusuri keberadaan bangunan bersejarah Kawedanan Lorog di Kecamatan Ngadirojo. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya pendokumentasian sejarah lokal serta pelestarian situs budaya yang memiliki nilai historis tinggi bagi masyarakat Pacitan.
Gedung Kawedanan Lorog diperkirakan berdiri sejak abad ke-18 Masehi dan berada di kawasan strategis wilayah Lorog. Hingga kini bangunan tersebut masih berdiri kokoh dengan kondisi relatif asli, mempertahankan bentuk arsitektur khas zamannya. Masyarakat sekitar meyakini kawasan ini memiliki aura historis dan spiritual yang kuat, sehingga menghadirkan nuansa masa lampau ketika memasuki area bangunan.
Dalam tradisi lisan masyarakat, sekitar tahun 1825 M, bangunan ini pernah digunakan sebagai markas perjuangan Pangeran Diponegoro pada masa Perang Jawa melawan Belanda (1825–1830). Lorog disebut menjadi salah satu titik penting konsolidasi pasukan Diponegoro dengan keterlibatan tokoh spiritual sekaligus panglima perang, Eyang Kyi Yaudho. Keberadaan tokoh tersebut dipercaya memiliki peran besar dalam perjuangan maupun penguatan spiritual pasukan di wilayah selatan Jawa.
Di lokasi ini pula berkembang kisah penting mengenai perundingan antara Kanjeng Jimat yang saat itu berada di pihak Belanda dengan Pangeran Diponegoro. Dalam perundingan tersebut, Kanjeng Jimat menyerahkan diri dengan syarat anaknya dibebaskan dari hukuman. Permintaan itu dikabulkan, sehingga Kanjeng Jimat tidak dihukum mati namun diwajibkan mengikuti perjuangan Diponegoro hingga akhir hayatnya sebagai bentuk pertobatan dan pengabdian baru terhadap perjuangan rakyat.
Gedung Kawedanan Lorog kemudian dikenang sebagai saksi perjuangan dan kemenangan pasukan Diponegoro di wilayah Pacitan bagian timur. Situs ini memperkuat fakta bahwa gelombang perlawanan terhadap kolonialisme Belanda tidak hanya berlangsung di Yogyakarta dan Jawa Tengah, tetapi juga menjangkau kawasan selatan Jawa Timur, termasuk Pacitan.
Selain memiliki nilai sejarah perjuangan, kawasan ini juga berkaitan erat dengan perkembangan syiar Islam di wilayah Lorog hingga Trenggalek. Setelah perjuangan perang, Pangeran Diponegoro disebut mempercayakan penguatan dakwah Islam kepada Kyi Yaudho sebagai penerus perjuangan spiritual dan keilmuan Islam di kawasan tersebut. Mata rantai dakwah itu diyakini melanjutkan perjuangan ulama-ulama terdahulu di selatan Jawa, salah satunya Ki Ageng Bandung.
Dengan berbagai nilai sejarah, spiritualitas, tradisi lisan, dan jejak perjuangan antikolonial, Gedung Kawedanan Lorog memiliki posisi penting sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan Kabupaten Pacitan. Situs ini dinilai layak mendapatkan perhatian serius dalam upaya pelestarian, penelitian lanjutan, dan pendokumentasian sejarah lokal agar nilai-nilai perjuangan yang terkandung di dalamnya tetap terjaga bagi generasi mendatang.
Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.
