Maudy Ayunda, Ngobrol Santai dengan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim.
PRABANGKARANEWS.COM || Penyanyi muda, cantik dan berprestasi dalam akademik, Maudy Ayunda, melakukan wawancara dengan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim.
Nadiem mengenang tentang sekolah, pasti juga ingat dengan guru-guru favorit dan guru “killer“. Guru favorit pasti sangat dirindukan. Apalagi di masa pandemi ini yang memaksa anak tidak bertemu gurunya secara fisik berbulan-bulan.
Nadiem Makarim masih ingat dengan ketika dirisak oleh gurunya semasa SMA. Ia mengatakan hampir depresi ketika akan ke sekolah tiap hari. Karena dia pasti akan bertemu dengan gurunya itu dan mengalami hal yang tidak menyenangkan.
“Di kelas, saya tidak diberi kesempatan ngomong,” kata Nadiem dalam Live Instagram dengan Maudy Ayunda pada Jumat, 27 Oktober 2020.
Nadiem juga pernah diremehkan oleh guru saat ia akan mendaftar ke universitas. Guru meragukan kalau ia akan mampu lolos masuk ke universitas pilihannya.
“Ibu saya saat itu bilang, enggak usah didengarkan. Daftar saja. Dan betul, saya diterima,” kata Nadiem.
Demikian juga Maudy yang ternyata pernah hampir “down” karena gurunya yang mengingatkan agar ia tidak mengajukan lamaran ke sebuah universitas.
Setelah menjawab beberapa pertanyaan Maudy, Nadiem berbalik memberikan pertanyaan kepada Maudy mengenai pendapatnya tentang sistem pendidikan di Indonesia.
“Yang paling aku rasa untuk ruang perkembangan itu adalah aspek pembelajaran. Di mana anak-anak mencintai proses belajar, memiliki ownership terhadap pembelajaran tersebut, dan the development of critical thinking skills, team work, soft skills, and the problem solving skills,” ujar Maudy.
Maudy juga menanyakan bagaimana pendapat Nadiem mengenai perspektif di dalam dunia pendidikan Indonesia dan dalam aspek seperti apa.
“Profil pelajar Pancasila kita, yaitu wheel baru kita jadi inilah adalah output pendidikan kita, ada akhlak mulia, kebhinekaan global, kemandirian, kreatifitas, ada gotong royong/team work, kolaborasi, bernalar kritis. Semua ini menjadi 6 profil pelajar Pancasila. Itu adalah goal kita,” kata Nadiem.
Nadiem juga menjelaskan masalah yang dihadapi sekarang adalah bagaimana agar anak-anak Indonesia mau tertantang belajar karena masa depan akan terus berubah dengan cepat.
Anak-anak juga harus bisa adaptif, untuk bisa kreatif, untuk bisa berkolaborasi, dan bisa menjadi pembelajar sepanjang hayat. Mereka secara independent punya motivasi intrinsik.
