Hama Tikus Menyerang, Petani Kian Berang

Hama Tikus Menyerang, Petani Kian Berang
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM || PACITAN – Selain hama wereng dan juga celeng yang menjadi penyebab rusaknya padi, hama tikus menjadi masalah terbaru yang dihadapi para petani. Akibatnya, banyak kerusakan yang terjadi begitupun kerugian yang dialami, hingga pada musim ini petani gagal panen. Kerusakan yang terjadi tidak dapat diatasi akibat tikus menyerang batang pohon padi, akibatnya padi akan mengering dan tidak dapat membentuk anakan baru lagi. Tidak hanya itu, tikus juga membuat banyak sarang yang sangat dalam  di pematang sawah yang mengakibatkan pematang sawah amblas.

Pada pertanaman padi di wilayah Kecamatan Arjosari tepatnya di Desa Borang keberadaan tikus sangat banyak sehingga menimbulkan banyak kerugian bagi petani utamanya petani padi. Pengendalian hama tikus telah dilakukan petani seperti memberi pakan gabah yang telah dicampur dengan obat tikus, maupun singkong yang dicampur obat tikus yang ditempatkan di dalam bambu.

Baca Juga  Bupati Jombang Hj. Mundjidah Wahab, Hadiri Pelantikan dan Pengukuhan PPDI Kecamatan Peterongan

Beberapa teknik pengendalian telah dilakukan petani dengan harapan dapat membasmi kawanan tikus yang bertempat tinggal di sawah namun, hal itu tidak membuahkan hasil sama sekali  hama tikus pun kian banyak akibat ada beberapa kawanannya yang mati. Akibatnya tikus akan bertambah ganas dalam menyerang tanaman padi, kerusakan yang ditimbulkan akan meluas hingga satu petak.

Serangan hama tikus akan terjadi ketika padi baru berbuah, tikus memakan batang sehingga padi tidak tumbuh sempurna dan mati. Kerusakan parah terjadi ketika tikus merusak padi mulai dari tengah petak, meluas kearah pinggir dan menyisakan 1-2 baris tanaman padi dipinggir petakan. Padi yang hampir panen ini rusak akibat serangan hama tikus dalam 6 bulan terakhir.

Pada musim tanam tahun 2021 hanya hama wereng dan juga ulat yang menyerang tanaman padi, dengan penyemprotan pestisida secara berkala hama wereng dan ulat mudah diatasi. Hama tikus membuat petani kian berang, karena tidak mudah diatasi dengan berbagai cara. Gagal panen yang dialami petani berkisar hingga jutaan Rupiah

Baca Juga  Danrem 081/DSJ Undang Kolonel Inf Masduki Ramah Tamah di Cagar Budaya Osvia Boschbou

Populasi Ular sawah yang menjadi pemakan tikus tidak banyak, dengan buruknya ekosistem di area persawahan tikus kian beranak pinak dan tentunya akan susah dikendalikan. Periode kelahiran tikus sawah dapat terjadi tiga kali lipat dalam satu musim tanam padi.Tikus merupakan hewan nokturnal, biasanya akan menyerang padi di malam hari sedangkan di siang hari ia akan berdiam diri di sarangnya yang mereka gali sangat dalam. Tidak hanya padi yang gagal panen, pematang-pematang sawah pun rusak parah akibat lubang-lubang yang mereka gali. Hal ini menjadi kerugian yang amat besar bagi petani di Desa Borang.

Kabar buruknya lagi, hama tikus tidak hanya menyerang di wilayah Desa Borang saja, petani dari berbagai kecamatan di Pacitan pun mengeluhkan hal yang sama. Rupanya hama tikus menjadi permasalahan besar yang akan dihadapi ke depann. Tidak hanya kerugian pada musim tanam padi saja, meningkatnya populasi tikus di sawah juga akan berimbas pada fase tanam kacang dan sayur-sayuran. Kini sawah menjadi media tanam yang kurang aman untuk semua tanaman, apapun yang tumbuh di dekat sarang tikus akan rusak karena tidak mampu menumbuhkan tunas yang baru.

Baca Juga  Pembangunan dan Investasi Rempang Eco City Dalam Sudut Pandang Kebijakan Publik

Para petani butuh uluran tangan dari pemerintah untuk menghadapi permasalahan yang menyebabkan terganggunya mata pencaharian mereka. Dengan adanya sosialisasi pengendalian hama tikus tentunya akan sangat membantu. Sehingga mobilitas petani dapat kembali normal seperti sedia kala dan keuntungan panen kian meningkat.

Oleh: Febi Marta A