Vox Point Indonesia Laksanakan Diskusi Politik; Koalisi Besar Parpol: Bersaing atau Bersanding?
PRABANGKARANEWS.COM || JAKARTA – Vox Point Indonesia melaksanakan DISKUSI POLITIK (DISPOL) SERI-40, “Koalisi Besar Parpol: Bersaing atau Bersanding?” Selasa, (18/4/2023), mulai 19:30 s/d 21:30 WIB.
Pndaftaran calon presiden dan wakil presiden masih 6 bulan lagi (Oktober 2023), tetapi partai politik nampaknya sudah sibuk mencari teman koalisi sebab hanya PDI-P yang memenuhi syarat untuk mengusung calon sendiri.
Y. Handojo Budhisedjati, Ketua Umum Vox Point Indonesia, dalam pengantarnya, mula-mula partai Nasdem, Demokrat, dan PKS, sepakat membangun kubu Koalisi Perubahan dan sepakat mengusung Anies Baswedan sebagai calon presiden.
Kemudian Gerindra dan PKB membangun kubu Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KIR), begitu pula Golkar, PAN, dan PPP membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB).
Berbagai lembaga survei pun turut riuh melontarkan secara periodik hasil survei masing-masing, mengenai capres-cawapres dan juga elektabilitas partai.
Di tengah hiruk-pikuk media dengan berbagai berita politik, tiba-tiba DPP PAN menyelenggarakan acara silaturahmi Ramadhan di kantornya, dengan mengundang lima ketua umum partai politik (Airlangga Hartarto, Prabowo Subianto, Zulkifli Hasan, Muhaimin Iskandar, dan Mardiono), dan tentu saja kehadiran Presiden Jokowi menambah kehebohan ijtihad politik ini.
Orang menyebutnya sebagai koalisi besar, karena memang besar (total 45.9% perolehan suara pada Pemilu 2019).
Sebagian orang menyambut koalisi besar ini dengan optimistik dan sebagian lainnya justru meragukan koalisi ini akan benar-benar terwujud saat pendaftaran capres-cawapres bulan Oktober 2023 nanti. Kenyataannya memang tidak mudah untuk menyatukan berbagai kepentingan yang berbeda-beda.
Oleh sebab itu, Vox Point Indonesia memandang koalisi besar ini menarik untuk didiskusikan, apakah partai-partai yang secara de facto mesti bersaing memperebutkan suara rakyat juga bisa bersanding bersama mengusung capres-cawapres yang sama.
Sandy Kusuma ada 3 koalisi yang sudah terbentuk. Partai Koalisi pemerintah Presiden juga hadir ada niat untuk koalisi besar. Koalisi besar ini apakah akan bersanding atau akan bersaing.
Ahmad Khoirul Umam, Ph.D, managing Director of Paramadina Public Policy Institute (PPPI). Dinamika yang cukup menarik. 5 Partai sebagai KIB Juni 2022, seolah-olah koalisi Indonesia Bersatu sudah selesai. Tidak ada figur yang bisa mneyatukan KIB. Ganjar Pranowo masih istiqomah dengan PDIP Perjuangan. Koalisis tidak mudah, siapa Capres siapa cawapres. Koalisi formuasi ada seni berkompromomi.
Apakah kolaisi besar apakah bisa mencapai 49,3 % jika 5 partai ini bersenyawa dengan PDI Perjuangan bisa mencapai 72 %. Besar tidak menjadi jaminan efektif mesin partai bekerja menang di Pilpres. Ukuran tidak menentukan SBY dan Jokowi bukan ukuran menang.
Tidak mudah di level menentukan capres kemudian dilanjutkan dengan siapa yang dicalonkan cawapres. Golkar ada Airlangga Hartarto, PKB ada Muhaimin Iskandar tahun 2018. Apakah mungkin Golkar dan PKB akan menyerahkan begitu saja. PAN ada Erik Thohir dan Sandiaga Uno.
“Konfigurasi masih sangat cair. PDI Perjuangan didikte agar golden tiket diserahkan. Namun PDI Perjuangan yang sudah teruji baik menang maupun kalah di Pilpres,” Ahmad Khoirul Umam, Ph.D.
Dr. Jerry Massie, MA, PhD., Executive Director of Political and Public Policy Studies (P3S), belum jelas, masih bisa berubah. Koalisi besar juga belum tentu menang. Malah koalisi kecil bisa menang. Koalisi yang ideal 3 pasangan waktu era SBY lebih menarik jika dibandingkan dengan 2 calon atau kandidat.
“Jokowi untuk capres menjagokan Erik Thohir. Sandiaga Uno juga diminati sebagai capres koalisi PKS dan Nasdem. Namun juga bisa bertahan di koalisi besar,”jelas Jerry.
Strategi permainan bola bisa dipraktikan dalam membentuk koalisi besar ataupun koalisi ramping. Kalau ego masing-masing parpol bertahan dalam mencalonkan akan menyebabkan tidak ada konektifitas. Sehingga sulit untuk mewujudkan perlu adanya pilihan-pilihan Ganjar-Prabowo, Puan-Ganjar, Ganjar-Puan.
“Selain itu juga ada perjanjian masa lalu juga akan menjadi penyebab jalan terjal untuk membentuk koalisi. Tiga pasang lebih menarik jika dibandingkan 2 pasang kandidat,”jelas Jerry Massie.
“Pentingnya literasi demokrasi kepada masyarakat. Jangan gunakan politik identitas. Contoh membela Israel itu tempatnya di Dewan Keamanan PBB. Tidak seperti kemarin melalui FIFA menolak Timnas Israel,” jelas Khoirul Umam.
