Sungai Baksoka, Pacitan Menyimpan Misteri Peradaban Masa Lampau (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS .COM, OPK-PACITAN – Salah satu lokasi penting dalam kegiatan inventarisasi dan kajian situs prasejarah di Kabupaten Pacitan adalah Sungai Baksoka. Sungai ini berada di wilayah Pacitan, Jawa Timur, dengan panjang sekitar 23 kilometer dan lebar rata-rata kurang lebih 50 meter. Sungai Baksoka berhulu di kawasan Gunung Batok dan bermuara di Samudra Hindia di pesisir selatan Pulau Jawa.
Dalam alirannya, sungai ini dikenal dengan beberapa nama. Pada bagian hulu hingga tengah disebut Kali Baksoka, sedangkan pada bagian hilir alirannya dikenal sebagai Kali Kladen, Kali Sambi, dan Kali Maron yang akhirnya bermuara di Pantai Ngiroboyo. Perubahan nama tersebut mencerminkan dinamika geografis sekaligus penamaan lokal yang berkembang dalam masyarakat setempat.
Menurut catatan yang tersimpan di Museum Song Terus, sejak abad ke-19 kawasan Kali Baksoka telah menarik perhatian para peneliti karena keberadaan berbagai tinggalan artefak dari masa Paleolitikum yang ditemukan di dasar sungai maupun pada teras-teras alirannya. Keberadaan artefak tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi lokasi aktivitas manusia purba pada masa lampau.
Dalam salah satu kegiatan penelusuran lapangan yang dilakukan oleh tim BPK XI bersama sejumlah relawan dengan koordinator Heru pada Minggu (6/8/2023), dilakukan observasi langsung di kawasan Kali Baksoka untuk mengidentifikasi potensi keunikan geologis dan arkeologis. Dalam kegiatan tersebut ditemukan susunan lapisan batu di aliran sungai yang secara visual menyerupai struktur batu yang tertata seperti pondasi atau batu yang dipasang menggunakan perekat, sehingga menimbulkan ketertarikan tersendiri bagi para peneliti.
Kawasan Sungai Baksoka sebelumnya telah menjadi lokasi penelitian penting pada masa kolonial. Dalam ekspedisi penelitian yang dilakukan oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald bersama M.W.F. Tweedie, ditemukan sekitar 3.000 artefak batu di sepanjang aliran sungai tersebut. Di antara temuan tersebut terdapat berbagai jenis alat batu, termasuk kapak genggam (hand axe). Penemuan artefak dalam jumlah besar tersebut menjadikan Sungai Baksoka dikenal luas di kalangan peneliti prasejarah dunia.
Menurut penuturan masyarakat setempat, penemuan artefak tersebut pada masa lalu bahkan dirayakan oleh von Koenigswald dengan menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit yang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Cerita ini menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat yang turut memperkaya narasi sejarah penelitian arkeologi di Pacitan.
Selain memiliki nilai arkeologis, kawasan Sungai Baksoka juga menarik perhatian para ahli geologi dunia. Struktur undak-undak serta teras sungai yang terbentuk secara alami menjadi objek kajian penting untuk memahami proses geomorfologi serta dinamika lingkungan purba di wilayah karst Pacitan.
Pacitan mulai dikenal secara luas dalam kajian arkeologi internasional sekitar tahun 1935, ketika Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, seorang ahli paleontologi dan geologi asal Jerman, bersama M.W.F. Tweedie melakukan penelitian di wilayah Punung dan mengidentifikasi situs Kali Baksoka sebagai lokasi penting temuan artefak prasejarah (Hendriyanto & Taufan, 2025).
Situs Kali Baksoka kemudian diidentifikasi sebagai salah satu bengkel pembuatan alat batu manusia purba terbesar yang berasal dari periode Paleolitikum. Tradisi teknologi batu ini kemudian dikenal sebagai Budaya Pacitanian, yang menjadi penanda penting perkembangan teknologi alat batu sekaligus bukti keberadaan manusia purba di kawasan Pacitan (Hendriyanto & Taufan, 2025).
Dalam dokumentasi foto penelitian awal terlihat beberapa orang duduk di bagian depan lokasi penggalian sambil mengamati area lembah yang menjadi objek penelitian. Mereka diduga merupakan peneliti, asisten lapangan, atau pekerja lokal yang terlibat dalam proses eksplorasi arkeologi. Posisi mereka yang menghadap ke arah lembah menunjukkan fokus pada lokasi temuan artefak. Busana sederhana yang dikenakan—berupa kain, baju polos, dan penutup kepala—mencerminkan kondisi penelitian lapangan pada awal abad ke-20 yang masih sangat bergantung pada observasi langsung di lokasi.
Secara geomorfologis, lapisan tanah yang terbuka akibat erosi sungai memberikan informasi penting bagi penelitian arkeologi. Potongan lapisan tanah tersebut memperlihatkan stratigrafi yang memungkinkan peneliti mengidentifikasi konteks temuan artefak. Di kawasan Baksoka inilah kemudian ditemukan berbagai alat batu Paleolitik seperti kapak perimbas dan alat serpih yang mengukuhkan Pacitan sebagai salah satu pusat budaya manusia purba yang dikenal sebagai Kebudayaan Pacitan atau Pacitanian (Hendriyanto & Taufan, 2025).
Ketertarikan para arkeolog—terutama dari Belanda—terhadap Pacitan tidak terlepas dari potensi ilmiah kawasan ini dalam memahami kehidupan manusia purba yang hidup pada lingkungan karst, termasuk gua-gua yang tersebar di wilayah Punung. Sungai, tebing, dan lahan terbuka di kawasan ini menjadi semacam “arsip alam” yang menyimpan lapisan sejarah lingkungan dan kehidupan manusia sejak ribuan bahkan jutaan tahun lalu.
Dalam sejarah penelitian arkeologi Pacitan, kegiatan penggalian yang dikenal sebagai Opgraving te Baksoka menjadi fase penting ketika wilayah ini mulai dikenal di tingkat internasional sebagai salah satu laboratorium alam prasejarah di Nusantara.
Dalam perspektif kajian revitalisasi Objek Pemajuan Kebudayaan, situs Sungai Baksoka merepresentasikan beberapa aspek penting, antara lain pengetahuan tradisional dan ilmiah mengenai lingkungan purba, perkembangan teknologi awal manusia yang beradaptasi dengan alam Pacitan, serta sejarah penelitian arkeologi yang menjadi bagian dari identitas budaya daerah.
Dengan demikian, Sungai Baksoka tidak hanya dipahami sebagai bentang alam berupa aliran sungai, tetapi juga sebagai ruang memori kolektif yang menghubungkan masyarakat Pacitan masa kini dengan jejak paling awal kehidupan manusia di Pulau Jawa.
Artefak batu yang ditemukan di aliran Sungai Baksoka merupakan alat budaya dari masa Paleolitikum yang dikenal luas sebagai bagian dari tradisi Pacitanian. Secara morfologis, alat-alat tersebut didominasi oleh kapak perimbas dan kapak penetak yang dibuat dari batu sungai berukuran sedang hingga besar. Bentuknya masih sederhana dan tidak simetris, dengan satu sisi yang dipangkas melalui proses penyerpihan untuk menghasilkan bagian tajam, sementara sisi lainnya dibiarkan alami sebagai pegangan.
Teknik pembuatan alat tersebut menggunakan metode pukulan langsung (direct percussion), tanpa proses penghalusan lebih lanjut. Hal ini menyebabkan permukaan alat tampak kasar dengan bekas-bekas serpihan yang masih terlihat jelas.
Fungsi alat-alat batu tersebut diperkirakan berkaitan erat dengan pola hidup manusia purba yang mengandalkan kegiatan berburu dan meramu. Alat tersebut kemungkinan digunakan untuk memotong daging hasil buruan, menguliti hewan, memecah tulang, serta mengolah bahan makanan seperti umbi-umbian. Bentuknya yang tebal dan kuat menunjukkan bahwa alat tersebut dirancang untuk pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar.
Saat ini sebagian koleksi alat batu dari Sungai Baksoka disimpan di Museum Leiden, Belanda, sebagai bagian dari hasil penelitian arkeologi pada masa kolonial. Keberadaan artefak tersebut di museum luar negeri menunjukkan pentingnya situs Pacitan dalam peta penelitian prasejarah dunia. Temuan tersebut tidak hanya memiliki nilai ilmiah bagi kajian arkeologi, tetapi juga menjadi simbol sejarah panjang keberadaan manusia di wilayah Pacitan yang telah berlangsung sejak puluhan ribu tahun lalu.

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.
