Sungging Prabangkara Pencipta Wayang Beber
PRABANGKARANEWS || Sungging Prabangkara, seorang pujangga dari Kerajaan Majapahit, seorang pangeran kerajaan Majapahit diberi tugas untuk menciptakan karya berupa Wayang Beber. Pada saat itu, wayang beber masih mengambil cerita dari wayang purwa.
Putra Prabu Brawijaya ke IV Sungging Prabangkara membuat bentuk wayang beber yang sudah mirip dengan yang kita kenal saat ini, yaitu lukisan di atas kertas, diungkapkan saat pertunjukan. Bahan bakunya dari kertas Daluang hasil penyamakan tanaman Daluang.
Wayang beber di era Majapahit, saat pertunjukan wayang beber purwa diadakan di istana, mereka disertai dengan iringan gamelan. Di luar istana, terutama di masyarakat biasa, pertunjukan ini hanya diiringi oleh alat musik rebab yang khas Jawa. Di dalam lingkungan keraton, wayang beber diadakan dalam acara-acara istimewa seperti ulang tahun raja atau pernikahan putra-putri kerajaan. Di kalangan masyarakat umum, pertunjukan wayang beber pada saat itu dijalankan dalam konteks ritual, misalnya ruwatan.
Pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya di Kerajaan Majapahit, khususnya pada tahun 1378 Masehi atau 1283 tahun Saka, terjadi penyempurnaan pada wayang beber. Raja Brawijaya sangat tertarik pada wayang beber dan memerintahkan putranya yang mahir melukis, yaitu Raden Sungging Prabangkara, untuk meningkatkan tampilan wayang beber. Dalam karyanya, Sungging Prabangkara mengubah lukisan wayang yang semula monokrom menjadi berwarna, memberikan kesan yang lebih hidup dan menarik. Proses penyempurnaan ini terjadi pada tahun tersebut.
Wayang Beber Pacitan digunakan dalam acara ruwatan saat Joko Tingkir atau Mas Karebet lahir di Pengging. Kyai Pengging kemudian menyebarkan di Kerajaan Pajang yang selenjutnya menyebar ke Kartasura dan kota Gede mataram. Kasunanan Surakarta, mulai membuat Wayang Beber yang terinspirasi dari Wayang beber Pacitan.
Pada tahun 1744 Masehi, terjadi geger Pecinan di Kartasura mengakibatkan Kasunanan Surakarta atau runtuhnya Kerajaan Kartasura pecah menjadi 2 yakni, Surakarta Hadiningrat dan Mangkunegaraan. Saat itu, pembuatan wayang beber versi Kasunanan Surakarta belum selesai, sehingga dua karya sastra yang belum selesai tersebut. saat huru-hara Pecinan satu dibawa oleh Belanda ke Leiden dan satu lagi ke wilayah Wonosari di Gunung Kidul.
Selain itu, dalam perkembangan wayang beber, terdapat juga munculnya wayang purwo yang diciptakan oleh Walisongo. Wayang Purwo adalah salah satu bentuk pewayangan yang diilhami oleh ajaran-ajaran Islam, yang menggabungkan unsur-unsur pewayangan tradisional dengan nilai-nilai agama Islam. Wayang Purwo memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam di kalangan masyarakat Jawa. Judul-judul dari cerita wayang Purwo ini bisa bervariasi tergantung pada tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita dan tema yang diangkat.
Pentingnya perkembangan wayang beber dan wayang purwo ini mencerminkan bagaimana seni dan budaya tradisional menjadi sarana penting untuk mengkomunikasikan nilai-nilai, sejarah, serta ajaran agama dalam masyarakat Jawa pada masa tersebut.
