Tradisi dan Kepercayaan Unik Wong Samin Menjadi Topik Perbincangan di RRI Surakarta
SURAKARTA (PRABANGKARANEWS) – Masyarakat Samin adalah kelompok masyarakat yang tinggal di sekitar Pantura Jawa di dalam hutan jati. Daerah yang terdapat orang Samin misalnya Blora, Cepu, Pati, Tuban, Bojonegoro, dan sebagainya. Kelompok masyarakat ini muncul sekitar akhir abad 19 yang dulunya merupakan kelompok masyarakat yang mengikuti ajaran Samin Surantika.
Pada hakikatnya, masyarakat Samin ini merupakan bentuk masyarakat yang mengadakan perlawanan kepada Belanda dengan tanpa kekerasan. Masyarakat Samin menumbuhkan sendiri kepercayaan dan tradisi yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Karena itu, mereka dapat disebut sebagai subkultur Jawa.
Tradisi masyarakat Samin tersebut telah menjadi bahan dalam acara jagongan di Pro 4 RRI Surakarta, Sabtu (1/11/24), dimulai pukul 09.00 WIB. Hadir sebagai narasumber seorang ahli sejarah sosial dari Fakultas Ilmu Budaya Prof. Dr. Warta, M.Hum. Sebagai host acara ini seorang penyiar senior RRI Surakarta Bernama Ali Marsudi, S.Sn.
Prof Warta pernah melakukan penelitian yang mendalam tentang tradisi dan perilaku masyarakat Samin ini langsung ke lapangan. Masyarakat Samin mengikuti ajaran Samin Surantika atau Raden Kohar yang masih keluarga bangsawan Adipati Pati. Tentang Ajaran dan sejarah masyarakat Samin ini memang terdapat kesimpangsiuran.
Yang jelas dalam catatan Belanda orang Samin ini pernah mengalami konflik dengan pemerintahan Belanda akibat membangkang tidak mau membayar pajak. Akibat adanya konflik ini Samin Surantika kemudian dibuang ke Padang, Sumatera Barat pada tahun 1904. Catatan tertulis tentang Samin memang sangat sedikit.
Menurut Prof Warta, yang melanjutkan ajaran Samin ini adalah mbah Samad. Orang Samin menyebut dirinya sebagai wong sikep. Dalam kepercayaan, wong Samin memiliki agama yang disebut sebagai agama Adam. Namun demikian, kalau dipahami tentang agama Adam ini memang sangat rumit. Pengertian Adam ini berbeda dengan pengertian dengan Adam yang ada dalam agama Islam.
Pada hakekatnya dalam hal kepercayaan, orang Samin memiliki kepercayaan sendiri. Mereka percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi pada hakekatnya konsep-konsep kehidupan setelah mati tidak terdapat dengan jelas dalam ajaran agama Adam ini.
Dalam tata kehidupan sehari-hari orang Samin memiliki bahasa yang memiliki makna sendiri dalam tata kehidupan mereka. Kadang-kadang, pola pikir orang Samin ini membuat orang lain geli atau tidak bisa memahami. Sebagai misal, bila orang Samin mengambil barang-barang di hutan, mereka menganggap tidak memerlukan izin karena hutan itu adalah milik bersama.
Kalau dikatakan bahwa hutan adalah milik negara, orang Samin mengartikan sebagai negoro ( menebanglah). Kalau orang Samin di tanya berapa anaknya, mereka akan menjawab dua. Maksudnya, laki-laki dan perempuan. Karena jenis kelamin itu hanya laki-laki perempuan. Orang Samin tidak menjawab tentang jumlah anak mereka.
Orang Samin juga menganggap bahwa dalam kehidupan ini, negara tidak per;lu membangun fasilitas umum seperti jalan. Orang Samin menganggap bahwa membangun jalan adalah kewajiban masyarakat yang sering memamaki jalan.
Orang Samin juga tidak mau ditarikm iuran apapun. Menurut mereka menganggap semua adalah milik saudara dan tidak perlu membayar apa pun. Karena itu, orang Samin tidak pernah mau dimintai bayaran untuk pajak. Hal inilah yang pernah menjadi konflik dengan pemerintah penjajah Belanda.
Selanjutnya Prof Warta menjelaskan bahwa orang Samin memiliki prinsip kehidupan mandiri. Mereka juga memiliki pandangan untuk menggunakan sumber daya alam secukupnya. Hutan adalah milik bersama yang harus digunakan secara bersama-sama dan secukupnya.
