Cerita 2 Wayang Beber Tawang Alun: Perjalanan Batin Jaka Kembang Kuning
DUPLIKASI WAYANG BEBER (PRABANGKARANEWS) – Wayang Beber Pacitan dilukis oleh Prabu Sungging Prabangkara, putra Prabu Brawijaya V. Wayang Beber Pacitan terdiri atas 6 gulungan yang tersusun dari 24 panel (pejagong), di mana setiap gulungan berisi 4 panel. Menurut Dharsono (2015), Wayang Beber yang ada di Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, diterima pada masa Kerajaan Majapahit. Dharsono juga menjelaskan bahwa Wayang Beber mulai dikenal pada awal abad ke-16, yaitu sebelum pusat budaya dipindahkan dari Majapahit ke Demak, Jawa Tengah, pada tahun 1522 Masehi.
Dari analisis gambar yang terdapat pada Wayang Beber, ditemukan adanya candrasengkala memet yang berbentuk seorang pria menyentuh seorang wanita penjual serabi di pasar. Candrasengkala ini berbunyi “Gawe srabi jinamahing wong” yang menunjukkan angka tahun 1614. Dalam penanggalan Masehi, angka tersebut dihitung dengan menambahkan 78 tahun, sehingga Wayang Beber ini diperkirakan dibuat pada tahun 1692 Masehi.
Dengan demikian, Wayang Beber tersebut merupakan karya yang dibuat pada masa Kerajaan Kartasura oleh Ingkang Sinuwun Kangjeng Susuhunan Mangkurat (SAYID, 1980).
Melihat usia yang sudah tua “Wayang Beber Tawang Alun” merupakan hasil karya Kangjeng Susunan Mangkurat sebelum geger Pacinan. Pada masa Kerajaan Kartasura, ketika Mataram Islam diperintah oleh Ingkang Sinuwun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono II, raja ini memerintah Mataram Islam pada tahun 1726-1742 M. Beliau kemudian menjadi raja pertama Kasunanan Surakarta yang memerintah dari tahun 1745-1749 M. Peralihan ini terjadi akibat gejolak Perang Pacinan. Akibat perang tersebut, Keraton Kartasura berhasil dikuasai oleh musuh, sehingga Ingkang Sinuwun terpaksa mengungsi hingga ke Ponorogo.
Sejarah Wayang Beber yang sangat tua, cerita diilhami pada masa Kerajaan Mataram Kartasura dengan cerita panji yang sudah berkembang pada masa itu. Berikut lanjutan cerita Gulungan 1 Pejagong 2, dikisahkan adanya sebuah sayembara untuk menemukan Dewi Sekartaji. Jaka Kembang Kuning, yang turut dalam sayembara tersebut, kemudian bertemu dengan tiga ksatria yang berniat mengabdi kepadanya. Ketiga ksatria tersebut merasa kagum dengan keberanian dan kebijaksanaan Jaka Kembang Kuning, sehingga mereka memutuskan untuk mengikuti langkahnya.
Setelah pertemuan tersebut, Jaka Kembang Kuning mendapat bantuan dari para ksatria untuk menghadapi berbagai rintangan dan tanggung jawab besar yang harus dihadapinya dalam perjalanan mencari Dewi Sekartaji. Namun, meskipun telah mendapatkan dukungan, Jaka Kembang Kuning justru merasa ada sesuatu yang membuatnya ragu melanjutkan perjalanan tersebut.
Dalam perjalanan tersebut, ia menyadari bahwa tugas untuk menemukan Dewi Sekartaji bukanlah hal yang mudah dan penuh dengan tantangan yang tak terduga. Tanggung jawab yang besar dan beban moral yang harus diemban semakin membuat Jaka Kembang Kuning berpikir ulang tentang niat awalnya.
Pada akhirnya, Jaka Kembang Kuning memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya mencari Dewi Sekartaji. Ia merasa bahwa ada alasan yang lebih mendalam di balik keputusan tersebut, dan mungkin ada pelajaran yang lebih penting yang perlu ia pelajari di luar dari sekadar menemukan Dewi Sekartaji.
Keputusan ini menandai titik balik dalam perjalanan hidup Jaka Kembang Kuning, di mana ia harus memilih antara mengikuti takdirnya sebagai seorang pencari atau menemukan makna yang lebih besar dalam kehidupannya sendiri. Cerita ini menggarisbawahi dilema antara ambisi pribadi dan tanggung jawab moral, serta menunjukkan perjalanan batin seorang ksatria yang mencari arti sejati dari petualangannya.
Penulis: Tri Hartanto
Editor: Hendriyanto
