Babad Alas Wanamarta & Demokrasi Kita: Pelajaran Pandawa Usai Pesta Pemilu
Oleh: Prof. Bani Sudardi (*)
(*) Dewan Pakar Senawangi/ Universitas Sebelas Maret
Pemilu dari presiden hingga kepala daerah adalah cara beradab merebut kekuasaan: rakyat memilih pemimpinnya sendiri tanpa perang. Fenomena menarik terjadi pada 2024 ketika Presiden dua periode, Joko Widodo, secara terbuka mendukung salah satu pasangan calon. Secara hukum itu hak beliau sebagai warga negara, tetapi kritik pun muncul: sebagai mantan presiden, Jokowi dianggap sebaiknya bersikap netral“lengser keprabon madeg pandhita,” sosok pemersatu bangsa.
Dalam cerita pewayangan kondisi tersebut ini mirip lakon LAKON BABAD ALAS WANAMARTA. Lakon ini sebenarnya lakon kreasi meniru kisah pendiri Mataram bernama Panembahan Senapati ketika mendirikan kraton Mataram di hutan Mentaok.
Dalam Babad Tanah Jawa diceritakan bahwa Panembahan Senapati dan Tim berhasil memenangkan sayembaran Sultan Pajang menumpas pemberontakan Arya Penangsang. Hadiah itu tidak segera diberikan sehingga membuat risau Panembahan Senapati dan kawan-kawan. Kerisauan itu dalam Babad Alas Wanamarta digambarkan sebagai melalwan dhemit yang bentuknya mirip Pandawa.
Diceritakan bahwa setelah usaha membakar Pandawa dalam Bale Sigala-gala gagal, membuang Pandawa 12 tahun dalam lakon Perjudian Dhadu, dan menipu Bima untuk mencari air suci dalam lakon Bima Suci. Semua usaha ternyata gagal total, maka dengan glembuk alus, Pandawa diminta oleh Kurawa untuk membuka sebuah alas wingit bernama Alas Wanamarta.
Rembug alusnya supaya Pandawa memiliki kerajaan yang patut dan berwibawa. Padahal semua orang tahu bahwa Alas Wanamarta adalah alas wingit. Harapannya, Pandawa bisa tewas di alas yang terkenal sebagai pusat dhemit tersebut.
Pandawa itu orangnya lugu jadi disuruh begitu ya manut saja. Pikirannya, pasti permintaan ini adalah permintaan yang mulia dan bagus. Padahal kalau dalam situasi saat ini, hal tersebut adalah suara-suara buzzer yang memiliki maksud menghancurkan.
Setelah terjun ke lapangan memang baru terasa. Pandawa mengahadapi situasi yang rumit dan genting. W
ilayah tersebut betul-betul seperti pepatah “sato mara mati, jalma moro keplayu”. Artinya binatang datang mati, orang datang bakal lari terbirit-birit. Bagaimana tidak, yang dihadapi Pandawa berwujud seperti Pandawa.
“Kepiye iki Kakang Punto,” keluh Bima “musuh kita ndhemit yang bisa menyamai kita”.
“ Inggih . Sungguh membingungkan,”kata Arjuna.
“Iya saya juga bingung, harus bagaimana?” kata Puntadewa.
Musuh Pandawa memang berwujud kembaran Pandawa. Puntadewa dikembari oleh Yudhistira, Bima dikembari Dhadungwacana, ada juga dhemit bernama Dhananjaya yang yang ajahnya mirip Pandawa. Gila lagi, ada dhemit kembar bernama Pinten dan Tansen yang menyaingi Nakula dan Sadewa.
Kalau jaman sekarang ini mungkin mirip dengan hoak. Wujud bohong. Dengan sistem arficial intelegence kita bisa memunculkan wajah seseorang dengan rupa dan suara yang mirip. Tapi semua itu palsu.
Kelima dhemit itu merasa tersinggung karena rumahnya diobrak-abrik Pandawa. Padahal, Pandawa tidak merasa obrak-abrik, justru mau membangun menjadi negara yang bagus. Dalam demokrasi, hal ini disebut perlunya menyatukan visi dan misi. Perlu komunikasi antara rakyat dan pimpinan.
Tapi urusan dengan dhemit yang tidak tampak memang sangat menyusahkan. Wujudnya nggak tampak, tetapi tiba-tiba nonjok. Ini mirip kondisi para buzzer. Wajahnya nggak jelas, tetapi nonjoknya keras lewat online.
Untunglah, Pandawa punya penasihat handal. Namanya Semar Badranaya. Melihat Pandawa kocar kacir menghadapi lima dhemit itu Semar mengingatkan.
“Doro Arjuna, Paduka kan punya minyak jayengkaton yang bisa untuk melihat bangsa dhemit. Pusaka pemberian dari Jin Wilawuk ole ole,” kata Semar.
Arjuna terperanjat lalu ingat punya minyak istimewa. Segera saja mata saudara-saudaranya diolesi minyak jayeng katon. Byar……. wujud dhemit yang curang itu langsung kelihatan.
Bima yang gempung langsung megang rambut Dhadhungwacana dan kuku pancanaka langsung ditusuk lehernya.
“Modar kowe,” kata Bima.
Dhadungwacana mengaduh, tetapi bangsa dhemit tidak mudah kena pepati. Dia hanya merasa kalah. Akhirnya, semua dhemit di Wanamarta mengaku kalah. Pandawa juga nggak kejam-kejam amat.
Mereka diampuni dan diberi pengertian bahwa tujuan mereka di Alas Wanamarta adalah untuk meningkatkan kualitas wilayah tersebut. Mereka paham dan mereka malah ingin mendukung kegiatan itu tersebut. Intinya, komunikasi sudah terbentuk. Pelajaran yang berharga bagi kita bahwa dalam berbangsa dan bernegara, komunikasi itu sangat penting.
Kelima dhemit itu kemudian justru ingin membantu para Pandawa. Mereka kemudian menitis menjadi satu dengan Pandawa. Karena itu, memanggil Puntadewa jugga dapat dengan sebutan Yudhistira, memanggil Bima juga dengan nama Dhadungwacana, memanggil Arjuna juga bisa dengan memanggil Dananjaya., Nakula Sadewa bernama Pinten dan Tansen. Inilah yang maknanya manunggal, yaitu kemanunggalan penguasa dan rakyat.
Penggambaran para dhemit itu juga simbol dari menekan hawa nafsu. Pandawa sebenarnya simbol dari keharusan pemimpin yang harus bisa mengendalikan hawa nafsu mereka.
Setelah halangan dapat disingkirkan, maka Pandawa segera membangun alas tersebut. Luar biasa semangat mereka. Inilah yang diharapkan setelah selesai dari pilkada, semua harus segera cancut tali wanda, membangun bangsa ini. Kita tinggalkan salah paham dan berkomunikasi dengan baik. Demokrasi bukan tujuan tetapi sarana menuju masyarakat adil dan makmur. Untuk bisa adil harus ada komunikasi sehingga terbangun kebersamaan.
Pandawa telah mencontohkan bahwa setelah mendapat amanat dari para dhemit, segera membangun wilayah itu sehingga betul-betul menjelma menjadi negara baru dengan nama Amarta atau Indraprasta.
Sampai-sampai, ketika Kurawa mengunjungi Amarta di masa selanjutnya, mereka merasa malu karena Amarta lebih megah dibandingkan Hastinapura.
TANCEP KAYON.
