Cerita 13 Gulungan Empat “Pertarungan Hidup Mati Jaka Kembang Kuning dan Perjuangan Menyelamatkan Tawangalun”

Cerita 13 Gulungan Empat “Pertarungan Hidup Mati Jaka Kembang Kuning dan Perjuangan Menyelamatkan Tawangalun”
SHARE

WAYANG BEBER (PRABANGKARANEWS) – Wayang Beber Tawangalun, Pacitan yang disungging oleh manusia hasil dari cipta rasa, dan karsa yang tertera pada gulung 1 ydengan bunyi candra sengkala “Gawe Srabi Jinamah Wong” diartikan 1614 saka atau dibuat masehi ditambahkan 78 menjadi 1692 M. Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai “daya budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa.  Oleh sebab itu Wayang Beber Tawangalun, termasuk dalam 10 Objek Pemajuan Kebudayaan sesuai yang diamanatkan UU Nomor 5 tahun 2017.

Wayang Beber Tawang Alun, hasil karya agung Sungging Prubengkara, merupakan warisan seni yang luar biasa. Karya ini tidak hanya mengisahkan cerita Panji tetapi juga menjadi dokumentasi peristiwa-peristiwa penting pada zamannya. Dengan candra sengkala “Gawe Srabi Jinamahing Wong”, gulungan pertama pada jagong keempat memiliki arti mendalam yang berhubungan erat dengan jagong ketiga dalam kisah tersebut.

Candra sengkala ini melambangkan tahun Jawa 1614 atau 1692 Masehi, yang digambarkan melalui adegan seorang pria menyentuh wanita penjual serabi di pasar. Tahun tersebut  awal masa kritis di Kerajaan Mataram Kartasura, ketika intervensi VOC Belanda memicu konflik internal yang dikenal sebagai Peristiwa Pecinan. Peristiwa Geger Pecinan adalah pemberontakan yang terjadi di Kartasura pada tahun 1740-1743 M. Peristiwa ini melibatkan pasukan Tionghoa yang bersekutu dengan pasukan Jawa melawan VOC. Pemberontakan ini menyebabkan kerusakan yang luas di Kartasura dan perpindahan ibu kota kerajaan dari Kartasura ke Surakarta. 

Baca Juga  Bupati Indrata Nur Bayuaji Resmikan Proyek Pembangunan Kabupaten Pacitan 2024

Dalam cerita legendaris gulungan 4, CERITA ke-13, kita diajak menyelami kisah heroik Jaka Kembang Kuning dan perjuangan dramatis untuk menyelamatkan Tawangalun. Kisah ini bukan hanya tentang pertarungan fisik, tetapi juga tentang keberanian, pengorbanan, dan semangat persaudaraan yang mendalam.

Pertarungan di Arena

Jaka Kembang Kuning, seorang pemuda yang dikenal dengan keberanian dan ketangkasannya, turun ke arena dalam pertarungan sengit melawan Kebo Lorodan. Kedua pejuang ini saling mengadu kekuatan dalam duel yang memukau. Dentingan senjata dan sorakan penonton menjadi latar belakang yang membakar semangat Jaka Kembang Kuning. Setiap gerakannya menunjukkan keahliannya dalam bela diri, bertekad menaklukkan lawannya demi kehormatan dan keadilan.

Misi Penyelamatan Tawangalun

Baca Juga  Danrem Wijayakusuma : Pers Perekat Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Sementara itu, di sisi lain, Tawangalun terbaring luka parah. Nalanderma, sahabat setia yang selalu ada di saat-saat sulit, dengan penuh kegigihan membawanya ke tempat yang aman. Mereka menuju kediaman Tumenggung Cona Coni, seorang pemimpin bijak yang dikenal dengan kepeduliannya terhadap sesama. Saat melihat Tawangalun dalam kondisi terluka, Tumenggung Cona Coni segera bertindak. untuk Ia memahami bahwa setiap detik berharga untuk menyelamatkan nyawa Tawangalun.

Upaya Penyelamatan

Dengan hati-hati, Tumenggung Cona Coni memberikan perawatan pertama. Ia memeriksa luka-luka Tawangalun dan memberikan obat yang diperlukan. Sementara itu, Nalanderma tetap waspada, memastikan bahwa lingkungan sekitar aman dari ancaman. Suasana penuh ketegangan berubah menjadi kelegaan saat perawatan awal menunjukkan hasil. Tawangalun mulai sadar, meski lemah, dan senyumnya memberikan harapan kepada semua yang hadir.

Kesatuan dan Solidaritas

Kisah ini tidak hanya menyoroti keberanian individu, tetapi juga kekuatan solidaritas. Setiap tokoh menunjukkan peran penting dalam menyelamatkan nyawa Tawangalun. Jaka Kembang Kuning  yang tak lain Panji Inu Kertapati bertarung untuk menjaga kehormatan dan keamanan. Abdi setia  Nalanderma berjuang demi keselamatan sahabatnya.  Peperangan yang tak kalah pentingnya peran  tim media dan kebijaksanaan untuk membenatu sesama yakni  Tumenggung Cona Coni memberikan harapan melalui perawatan  kepada Tawangalun abdi setia “Jaka Kembang Kuning”, yang penuh kasih.

Baca Juga  Selain Papeda, Papua Mempunyai Makanan Tradisional "Kue Lontar" Berbahan Sagu Dihidangkan Saat Hari Besar

Pelajaran dari Cerita Legenda

Cerita dari gulungan ke-13 ini menjadi simbol bahwa dalam setiap perjuangan, kehadiran dan dukungan sesama sangatlah penting. Keberanian, pengorbanan, dan solidaritas adalah nilai-nilai yang tetap relevan hingga kini. Kisah ini mengajarkan kita bahwa dalam menghadapi tantangan, kita perlu berani berdiri, saling membantu, dan tidak menyerah demi kebaikan bersama.

Dengan sentuhan narasi yang mendalam, cerita ini menjadi pengingat akan kekuatan kolektif dan nilai-nilai luhur yang harus terus kita pelihara. Wayang Beber, melalui kisah seperti ini, tetap hidup dan relevan, memberikan inspirasi kepada generasi penerus untuk menjaga dan melestarikan budaya warisan leluhur.

Sumber: Tri Hartanto, Agoes Hendriyanto. (2025). Wayang Beber Tawangalun, Donorojo, Pacitan. Nata Karya: Ponorogo.